Sunday, September 2, 2012

Karena Kita Ada


“Lepasin dulu ya genggamannya. Tadi aku ngeliat mereka disana. Gapapa kan?” ucapnya sambil melepas pelan tanganku dari tangannya. Ya, hal ini terjadi lagi. Hal yang sama setiap kita bertemu di tempat umum. Hal yang berulang-ulang bahkan setelah 3 tahun.
“Iya…. Ngga papa kok.” ujarku sambil tersenyum lemah. Berusaha menahan akal sehatku untuk tidak berteriak bosan akan ini semua.

Aku kembali berjalan gontai sambil melepas genggamannya. Khayalku sedikit melenggang entah kemana. Lamunanku membayangkan kamu menggenggam erat tanganku & menarikku pada mereka. Dan, oh. Jangan lupa senyum itu. Senyum penuh rasa bangga. Seakan aku adalah satu-satunya. Seakan kamu beruntung memilikiku. Seakan tak ada yang protes melihat kamu bersamaku..

Kami pun mulai meretas diam sepanjang jalan. Aku tersenyum getir. Cih. Sampai kapan aku berusaha tegar melawan semua pergelutan batin demi mempertahankan ketidakpastian? Bahkan hingga kini tak kudengar kamu mengutarakan hal itu. Ya. Hal yang sudah bertahun-tahun aku tunggu. Sebuah kalimat pasti tentang adanya kita. Adanya perasaan itu. Entah hingga kapan terus begini..


Kami terus berjalan beriringan. Dan aku terhenti saat dia menghentikanku.
“Sebentar, kita berhenti dulu. Kok mereka ke arah sini ya? Aduh, gimana nih?”
“Yaudahlah biarin aja..” Balasku malas. “..toh nanti mereka tau sendiri masalah kita. Ya kan?”
“Tetep ga bisa gitu, sayang. Kita misah dulu deh. Ketemu di tempat parkir aja, oke?” Ajaknya. Lagi. Dan terjadi lagi hal ini.
Tidak, cukup. Hatiku sudah terlalu lelah. Ada golakan rasa bosan atas hal yang sama.


“Nggak, aku gak mau pisah. Aku mau mereka tau. It’s time.” Ucapku sambil menggigit bibir. Menunggu dengan takut-takut jawabannya. Lidahku sedikit kelu setelah mengucapkannya. Jutaan kupu-kupu sedang menari-nari di perutku. Ada rasa mual menyeruak. Bagaimana responnya?
“Kamu gila ya? Aku belum siap kalau mereka sampai tahu!” Ia setengah membentak. Ya, sudah diduga. Ditolak. Walau responnya terduga aku masih berharap dia berubah dan kemudian menarikku pada mereka. Walau mustahil.

Mereka semakin dekat. Bahkan sepertinya mereka melihat kami. Ia berusaha menarik tanganku. Aku menahannya. Sedetik kemudian, sambil setengah menahan nafas, aku tarik dia dalam pelukanmu. Ku peluk erat. Sangat erat. Biar ada gempa bumi, tsunami dan badai. Takkan ku lepas pelukan ini. Mereka semakin mendekat. Tubuhnya berusaha mengelak. Maaf sayang, I’m done with this. Whatever will happen next, at least I’m happy with releasing this feeling. Karena aku ingin mereka tahu aku ini punyamu. Karena aku ingin mereka tahu, kita ini ada.

♬ “biar saja, semua orang melihat. Takkan ku lepaskan pelukanku..
Biar tau.. Ada apa dengan kita. Buka saja segala rahasia..” ♬




ditulis @helloechy dalam http://rechyandani.tumblr.com

No comments:

Post a Comment