“Dia lagi dia lagi” kutaruh ponsel di bawah bantal, supaya suara deringnya teredam.
Kring… Kring…
“Err maunya apa sih. Ganggu terus” walau kesal pun aku raih ponsel dengan malas-malasan.
“Apa?” tanyaku sedikit membentak.
“Kok lama angkat telponnya?” tanyanya lembut.
“Sibuk. Banyak kerjaan. Kalau ga ada yang penting udah ya”
“Kamu…” suaranya yang belum selesai terpaksa terputus olehku yang mengakhiri panggilan telpon.
***
Kring… Kring… Kring… Kring…
“Assalamualaikum”
“Walaikum salam” jawabku singkat.
“Udah di kost?”
“Udah” jawabku masih sekenanya.
“Syukurlah. Udah makan?” tanyanya tetap lembut.
“Belum… Uhuk… Uhuk” suara batukku keluar setelah kutahan begitu keras selama menerima telpon darinya.
“Kamu batuk? Udah minum obat? Dari kapan? Masih sakit?”
Ah. Sesuai dugaan. Ia akan menjejaliku dengan rentetan pertanyaan.
“Cuma batuk biasa. Nanti juga sembuh”
“Jangan disepelein gitu ah. Kamu masih ngerokok? Ga baik buat asmamu”
“… Ga kok. Udah ya, aku mau istirahat” segera kuputus panggilan, lagi-lagi sebelum ia mengakhiri pembicaraan. Kutaruh ponsel di meja bersamaan dengan habisnya batang rokok keempat yang kuhisap dengan segelas kopi sedari malam menjemput.
***
Kring… Kring…
Kulihat jam dinding, pukul 4 lewat 23 pagi. Sinting. Sepagi ini dia sudah menggangguku.
“Iya apa?” tanyaku malas.
“Kamu udah bangun? Jangan lupa salat subuh ya”
Klik. Kembali kuputus sambungan teleponnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Ada saja alasan untuknya menggangguku. Salat? Ah. Tubuhku lebih butuh tidur saat ini.
***
Kring… Kring…
Maunya apa sih. Selalu saja menelponku. Memangnya dia kira aku ini tidak punya pekerjaan selain meladeni telponnya yang mengganggu itu. Berkas monthly report yang harus aku selesaikan hari ini saja sudah cukup membuat kepalaku ingin meledak. Lalu masih ditambah telpon darinya. Err.
“Kenapa sih telpon terus? Aku tuh sibuk. Kan udah dibilang kalau ga ada yang penting ga usah telpon. Ganggu” akhirnya tumpah semua kekesalanku.
“Iya, tapi kan cuma ingin tahu kabar kamu” suaranya tetap lembut seperti biasa.
“Iya tapi ga usah telpon terus-terusan dong. Ada apa sih?” suaraku mulai meninggi.
“Yaudah. Cuma mau ingetin, jangan lupa makan siang. Assalamualaikum” terdengar suaranya lirih. Ada kekecewaan atas penolakanku kali ini.
Kulirik jam tanganku, hampir setengah dua. Dia benar. Sedari tadi pagi aku belum sempat makan apapun. Tumpukan berkas ini menyita semua fokusku. Pelan kupanggil office boy “Titip makan ya, yang biasa” sambil menyelipkan selembar lima puluh ribu ke tangannya.
***
Hari ini jadwalku padat sekali. Monthly report yang kukerjakan hingga lembur akan kupersentasikan depan para big boss. Semua sudah kupersiapkan dengan sebaik mungkin. Pak Chandra, atasanku, minggu lalu ia bilang akan memberiku promosi bila aku bisa membuat para big boss itu terkesan dengan persentasi kali ini. Kurapihkan semua berkas, kucek lagi file persentasi dan data yang berkaitan, semua selesai. Sempurna.
“Nda, ayo” panggil Rudi rekan kerjaku.
“Oke”
Kring… Kring…
Kring… Kring…
Ah telpon dari dia lagi. Paling juga hanya bertanya hal-hal kurang penting seperti biasa. Kulihat layar ponsel dan namanya sebagai pemanggil di situ, ada foto kami berdua yang diambil tahun lalu saat berlibur di Bandung.
“Nda! Ayo Wanda cepat. Rapatnya mau dimulai”
“Ah iya iya” aku berlari kecil ke arah Rudi. Rapat ini lebih penting. Untuk karirku, untuk masa depan, untuk hal-hal yang kuimpikan sedari masuk di perusahaan ini. Promosi itu harus aku dapatkan. Persetan dengan telpon darinya. Paling sejam lagi juga dia akan menelponku.
***
“Kamu hebat! Tadi persentasi terbaik yang pernah aku lihat selama kerja di sini”
“Iya, Nda. Kamu hebat”
Pujian dari rekan kerjaku terus saja berdatangan. Mereka bilang persentasiku sangat baik. Terbayar sudah kerja kerasku tidak tidur berhari-hari mengerjakan laporan tersebut.
Kring… Kring…
Tuh kan. Ia akan menelponku lagi.
“Ya halo”
“Kakak dari mana aja sih? Kenapa baru angkat” terdengar suara panik adikku diujung telpon.
“Kenapa Dira?”
“Ibu, Kak. Ibu..” suara tangisnya meledak dan seketika tubuhku lemas. Aku tahu ada hal buruk yang telah terjadi.
***
Kupacu mobil sekencang mungkin. Tapi kemacetan ibukota menahanku tak bergerak. Pikiranku kacau.
“Ibu kena serangan jantung. Sekarang masih kritis di rumah sakit. Kakak pulang ya”
Kepalaku penuh dengan bayangan ibuku. Perempuan hebat yang membesarkanku dan adikku seorang diri, karena Ayah yang seorang penjudi mati diamuk massa saat ketahuan hendak mencuri di rumah tetangga. Perempuan hebat yang bekerja sebagai tukang sayur dan buruh cuci demi menghidupi anak-anaknya. Perempuan hebat yang tak pernah sedikit pun mengeluh meski banyak caci maki tetangga kami terima karena Ayah. Perempuan hebat yang tidak henti mendoakanku hingga aku sesukses sekarang. Lalu aku lupa semua jasanya yang mengantarkanku ke posisi saat ini.
Siapa aku tanpa dia yang berusaha keras menyekolahkanku hingga berhasil mendapat gelar Master. Siapa aku tanpa dia yang memberiku les bahasa ini itu hingga aku lancar berbahasa asing. Semua itu ia lakukan agar aku berhasil menggapai cita-cita. Semua ia lakukan meski harus bekerja siang malam tanpa lelah seorang diri.
Betapa tidak tahu terima kasihnya aku selama ini. Telpon-telponnya… Bahkan untuk menerima telponnya saja aku begitu sombong.
Lirih terdengar lagu Bunda dari Melly Goeslaw di radio mobil.
Kata mereka diriku selalu dimanjaDan aku menangis semakin keras. Ibu, aku ingin menjawab telponmu lagi… Masihkah ada kesempatan itu walau hanya sekali?
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
ditulis @eigent dalam http://eigentmaulana.tumblr.com
No comments:
Post a Comment