Tuesday, September 4, 2012

Pertemuan

Reza, bagaimana keadaanmu? Adakah bahagia menyelimuti dirimu setelah pertemuan kita hari kemarin?

Reza, masihkah rasa malu memakan bibirmu? Hingga senyum yang kau lemparkan ke arahku kemarin tidak seluas saat dulu.

Reza, adakah kau ingat 10 tahun lalu kau pernah menghujaniku dengan semu merah jambu ketika sebuah surat (cinta) kau tujukan padaku?

Reza…

Jeda panjang yang kita lewati sebelum pertemuan kemarin adalah jeda paling sepi. Jeda yang aku lewati sendirian melewati lorong waktu dan dimakan kesepian. Jeda yang menikamku dengan pertanyaan-pertanyaan apa kau masih terus mengingatku.

Aku bahagia ketika pertemuan itu berjalan dengan indah. Aku tau kau sempat mencuri pandang ke arahku beberapa saat lalu berpaling, lalu melihat lagi sekian detik lalu berpaling lagi, lalu melihat lagi menit berikutnya kemudian menunduk karena kau tak kuasa dihujani canda oleh teman-teman lama kita. Aku merasa menang karena ternyata sisa-sisa perasaanmu masih ada. Walaupun sedikit.

Reza, akupun begitu. Jeda panjang yang telah kita lewati bukanlah racun untukku. Toh semu merah jambu tetap ada di pipiku ketika sorak teman-teman kita memenuhi telingaku. Kalau saja aku gila, aku sudah menloncat-loncat kesenangan seperti anak kecil mendapat mainan kesukaannya. Kalau saja aku gila, sudah ku peluk kau erat karena rindu yang teramat. Kalau saja aku gila, aku akan melumat bibirmu karena di situ banyak senyum dan kata yang kau telan sendirian.

Reza, aku senang melihatmu lagi. Karena benar yang dikatakan mereka bahwa waktu tak pernah mampu membunuh segala rasa tentang kita. Waktu nyatanya tak pernah berani melangkahi ingatan tentangmu. Lalu bumi bisa saja terbelah, gunung bisa saja berpindah, lautan mungkin mengering, tapi cintaku (sebutlah ini cinta) padamu tetap utuh sampai nanti.


*) Diinspirasi dari lagu Waktu Takkan Mampu ~ Tompi



Ditulis oleh @yantidewii dalam http://kacamatamerah.tumblr.com

No comments:

Post a Comment