Eps. Melewatkan Senja dengan Sesalmu
Agustus, 2012.
Senja telah berpamit pulang. Malam dengan sigap segera menggantikan. Suasana jalanan masih ramai, seiring waktu pulang kantor yang sepertinya terus “diperpanjang”. Biasanya, Rana masih bergumul dengan aroma keringat yang bercampur wewangian, dari sekelompok orang yang senasib dengannya, berdesak-desakan di dalam bus. Syukurlah, hari ini ia bisa pulang sedikit lebih cepat sehingga bisa sejenak rehat dari “kewajiban” menjadi saksi matahari terbenam dari balik jendela bus. Hari ini ia mendapat tugas luar, yang untungnya bisa ia selesaikan dengan cepat, sehingga sejak pukul 16.00 tadi ia bisa merebahkan diri, meluruskan punggungnya.
Waktu baru saja beranjak meninggalkan pukul 19.00. Rana masih berada di posisi yang sama, telentang dengan kedua kaki menggantung, sementara pandangannya lurus mengarah ke langit-langit kamar. Seragam kerjanya belum juga diganti, pun kedua sepatu hak tingginya. Tangan kanannya memegang ponsel, yang kini telah berpindah ke dadanya, setelah sekitar 127 menit yang lalu berada di telinga kanannya.
Tiga jam yang lalu, Rana sampai di kamarnya. Menyaksikan kasur yang bersih dan tertata rapi, lengkap dengan bantal guling dan boneka beruang putihnya, Rana tergoda untuk berbaring. Menikmati sore yang jarang sekali bisa ia lewatkan di rumah. Kedua matanya hampir terpejam ketika tiba-tiba ia merasakan sakunya bergetar, antara sadar dan tidak, ditekannya tombol hijau.
“Halo.”
“Rana! Rana! Oh My God! akhirnya kamu menjawab teleponku.”
Demi mendengar seruan di ujung telepon, seketika mata Rana membuka, namun kedua bibirnya tertutup rapat.
“Rana, kamu masih di sana?”
“Na!! Tolong kali ini dengarkan aku, aku mohon..”
“Rana!!”
“Rana…,” suara itu terdengar mulai melemah.
Rana membuang nafas, mengusir jengah, juga debar di dadanya yang mulai tak beraturan.
“Na, aku mohon.. dengarkan aku kali ini saja. Setelah ini kamu boleh mengabaikanku sampai kapan pun kamu mau. Aku tidak akan mengganggumu. Aku janji.”
Rana menangkap keputusasaan pada kalimat-kalimat tersebut. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak peduli. Ia hampir saja menekan tombol merah ketika tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.
“Aaawww!!!”
“Zhe!! Kamu kenapa?” spontan Rana berseru.
“Huft! Tidak apa-apa. Cuma kaget. Anginnya kencang sekali. Jendela kamarku sedang terbuka dan kepalaku terpaksa menanggung akibatnya, ada ranting yang nyelonong masuk, hehehe..”
“Zhe ini sama sekali tidak lucu. Kamu tidak apa-apa? Kepalamu cedera?”
“Tidak apa-apa, Na. Rantingnya kecil, dan hanya mampir di kepala.”
“Kamu yakin? Tidak perlu panggil dokter? ”
“Kamu masih suka berlebihan ternyata, hehehe.. Tidak perlu, Na. Aku baik-baik saja. Kaget aja tadi.”
“Syukurlah..”
“Hei, kenapa yang kudengar seolah kamu mengkhawatirkanku? Benarkah?”
“Asal!! Untuk apa? Geer!”
“Hmm.. Yah, kamu memang tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku sudah tahu jawabannya kok.”
“Kebiasaan lama! Suka membuat kesimpulan sendiri.”
“Ah, bahkan kamu masih mengingat kebiasaanku dengan baik.”
Rana diam. Menyadari dirinya terjebak oleh tingkahnya sendiri.
“Halo? Kamu tidak menutup telepon kan, Rana?”
“Halo?”
“Iya, ada apa? Kamu mau ngomong apa? Setiap hari menelepon, mengganggu saja.”
”Kamu tahu kalau itu aku? Bukannya kamu sudah menghapus nomerku dari ‘contact’?”
“Memangnya ada nomer sama tapi dipakai dua orang yang berbeda?”
“Oohh.. jadi memorimu masih menyimpan nomerku? Boleh aku tersanjung? Hehehe..”
Rana kembali mendengus. Menyesali kebodohannya.
“Jadi nggak ngomongnya? Kalau nggak, permisi aku tutup teleponnya.”
“Eits! Jangan dulu, cantik. Jangan marah dong, baru juga diledekin segitu. Malu ya…”
“Zhe!” Rana menekan suaranya. Kali ini ia tidak boleh tampak bodoh.
“Eh. Iya.. iyaa.. Sorry.. Sekarang aku serius, kamu dengerin aku dulu.”
“Buruan!”
”Rana..”
“Ya?”
“Aku kangen.. sangat..”
Hening.
“Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita ketemu, tapi rasanya sudah lama sekali. Dan selama itu aku berusaha menahan diri. Aku tahu mungkin kamu belum bisa memaafkanku. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membunuh rinduku.”
Hening.
“Rana, bisa kita bertemu? Sebentar saja. Aku mohon..”
Hening.
“Kamu sadar apa yang kamu ucapkan?”
“Sangat.”
“Kamu tahu di mana posisiku sekarang?”
“Tentu saja. Aku tahu walaupun sebenarnya tak mau tahu. Tapi kita hanya bertemu, Rana. Apa yang salah dengan itu? Aku yakin Darrell akan mengerti.”
“Bagaimana kamu bisa seyakin itu, Zhe?”
“Kita hanya bertemu. Tidak ada bedanya dengan kamu bertemu orang lain bukan? Kamu sendiri yang bilang sejak saat itu aku bukan siapa-siapa kamu lagi. Aku tidak ada artinya buat kamu. Jadi apa bedanya?”
“Kamu sedang berpura-pura tidak tahu, Zhe.” Batin Rana perih.
Perlahan, pandangannya mengabur. Sebutir cairan kaca meluncur begitu saja dari sudut matanya.
“Rana, kamu tidak ingin menjawabku?”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Darrell, Zhe.”
“Lantas?”
“Kalau aku menjawab tidak, kamu akan berhenti bukan?”
“Tidak akan, Rana. Kamu tahu itu.”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Apa saja, sampai kamu memberi ‘iya’.”
“Kamu masih saja egois ternyata.”
“Aku tidak menemukan cara lain, Rana. Aku tidak tahu bagaimana bisa menyelamatkan hatiku dari kesakitan merindumu. Kumohon..”
Kalimat-kalimat Zheke menulusup pelan-pelan ke hatinya. Menyentuh luka yang sampai beberapa waktu lalu berhasil ia samarkan. Luka itu sepertinya memar kembali. Rana dapat merasakan nyerinya. Bagaimanapun, Zheke tidak mungkin begitu saja pergi dari hatinya. Namun, luka yang ia torehkan teramat dalam. Perihnya menjegal nama Zheke, dan terpaksa mendepaknya keluar dari hati Rana.
“Rana, aku yakin kamu sedikit banyak telah mendengar. Bagaimana aku selepas kau memutuskan pergi.”
“Zhe, sudah berapa kali aku bilang, kamu tahu aku tidak mungkin pergi kalau..”
“Iya, Rana. Baiklah, setelah aku membuatmu pergi. Begitu bukan maksudmu? Kamu benar. Dan aku hancur. Sehancur-hancurnya. Aku akui aku sempat menyombongkan diri. Kepergianmu awalnya kuanggap seperti cinta yang sebelum-sebelumnya. Aku akan segera melupakanmu, dan menemukan sesudahmu. Tapi ternyata aku salah besar, Na. Salah besar. Dan kini aku berlutut, mengakui kelemahanku.”
Hening.
“Semuanya mungkin terlambat, sebab aku tahu posisimu sekarang. Aku tahu soal Darrell. Namun rindu, juga ketidakberdayaan, membuatku memberanikan diri meminta waktumu. Aku ingin kita bertemu.”
Suara Zheke melirih, menahan perih. Sementara kedua pipi Rana telah basah. Isaknya tertahan, bermacam perasaan berebut memenangkan hatinya.
“Kamu belum ingin menjawabku, Na?”
“Kapan?”
Terlambat. Pertanyaan itu telah meluncur dari bibir Rana. Ia bisa mendengar Zheke menahan nafas dan kemudian menghembuskannya. Ada ekspresi lega di sana, juga segera disusul dengan nada suaranya yang riang. Rasanya Rana tidak akan sanggup mengecewakannya.
“Rana! Oh, God. Kapan saja, asal kamu bisa.”
“Kamu saja yang menentukan waktunya.”
“Weekend ini?”
“Boleh.”
“Gubug Desa?”
“Kita lihat nanti saja. Aku hubungi kembali. Aku sedang ingin beristirahat sekarang.”
“Baiklah. Aku minta maaf sudah mengganggu. Tapi terima kasih, Rana. Terima kasih. Kamu orang baik. Maafkan aku.” Suara Zheke terdengar gugup. Perasaannya sedang meletup-letup.
“Sudahlah, jangan banyak bicara. Simpan kalimat-kalimat itu di kepalamu saja. Aku takut kamu lupa caranya bicara kalu kita bertemu nanti.”
“Hehehe, tidak akan, Na. Baiklah, selamat beristirahat. I miss you. Makasih.”
“Kembali.”
Percakapan selama 38 menit itu telah berakhir sekitar dua jam yang lalu. Namun tidak dengan degup kencang jantung Rana, ia gagal menenangkannya. Matanya kini memejam. Bayangan Darrell berkelebat. Ada sebersit perasaan bersalah di salah satu sisi hatinya. Namun banyak sisi hatinya yang lain seolah sedang berunjuk rasa.
“Zheke.”
Rana menggumam. Dalam pejam matanya, adegan demi adegan seakan kembali berputar, merangkai sebuah kisah. Tentang tawa dan air matanya. Rindu dan dendamnya. Canda dan tangisnya. Mimpi dan kecewanya. Gelak dan isaknya.
…
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
…
***
ditulis @bening29 dalam http:// sebeningembun.tumblr.com
cinta gila yang membuat Zhe merasakan candu.
ReplyDeleteKasian, rindunya pasti sudah sangat menggunung.
Keren :))
Nyiiii... (۳ ºOº)۳ SUNGGUH MATII AKU JADII PENASARAAANNNN.... ♬♪
ReplyDelete