21 jam yang lalu, aku masih terjaga, masih membungkus bingkisan itu ketika alarm ponselku berdering, mengingatkan bahwa satu nama tepat berulang tahun hari ini. Tetapi jemariku hanya kaku, ia tak mampu mengetik pesan itu. Sebuah ucapan selamat ulang tahun tertahan di ujung jemariku. Dan kuputuskan untuk kembali mengurus bingkisan itu. Sebuah kado.
16 jam yang lalu, aku terbangun, membuka tirai jendelaku, melihat gerimis yang turun rintik-rintik dalam sepi pagi itu. Dan aku bersiap menantang hari ini, apapun yang akan terjadi nantinya.
9 jam yang lalu, masih tak kudapati hadirmu di tempat itu dan aku hanya mampu berdiri menunggu, bersama pakaianku yang semakin basah diguyur hujan, sekotak kue ulang tahun lengkap dengan sebuah bingkisan berpita itu. Sesosok wanita paruh baya muncul membukakan pagar cokelat itu dan dengan suaranya yang lembut menyuruhku untuk masuk.
3 jam yang lalu, aku masih terduduk di sofa itu dengan handuk yang menyelimuti tubuhku diselingi perbincangan hangat dengan wanita paruh baya itu. Dan kau, hanya tiada. Kau hanya tak kunjung hadir di ruangan itu. Dan aku hanya tak tahu, kapan pamit ini mampu kulisankan kepada wanita paruh baya yang duduk dihadapanku itu.
1 jam yang lalu, sosokmu habis ditelan malam. Setelah kau antar aku ke tempat ini. Setelah perbincangan singkat kita. Tentangmu, tentang harimu, tentang hari ini, tentang penyesalanku. Penyesalanku, bukan karenaku telah habiskan 16 jam untuk sekedar menantimu, tetapi karena aku yang terlambat. Aku yang terlambat untuk tahu bahwa selama 16 jam itu juga kau habiskan tuk menemani dirinya, pengisi hatimu yang baru. Bahwa 16 jam yang lalu, kau tetapkan kakimu tuk melangkah pergi dan kau tetapkan hatimu tuk bertamu lagi… Kepada hati yang lain. Bukan aku, bukan hatiku.
Sekarang, saat ini, waktu ini. 21 jam aku ada untuk hari itu, harimu. Tetapi tetap akulah yang terlambat. Untuk semuanya. Lidahku kelu dan mata ini terasa panas. Aku beranjak melangkah meninggalkan tempatku berdiri tadi. Berjalan sepi menelusuri jalanan basah, melangkah menuju rumah.
Bersama hujan, kuterima surat dari penyesalan itu. Bersama hujan, kupadamkan lilin-lilin penantian itu. Dan bersama hujan, aku menangis malam itu.
Kunyalakan ponselku dan kuketik sepenggal kata yang kukirimkan pada nomor itu, kepadamu.
“Selamat berbahagia.”
Kini hari siap berganti, tanggal itu perlahan pergi. Dan ucapan selamat ulang tahun itu hanya tetap tertahan dan luruh bersama tangisanku di bawah hujan.
Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku
Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun
#30HariLagukuBercerita
ditulis @njriyani dalam http://raindropstales.wordpress.com
No comments:
Post a Comment