Sunday, September 9, 2012

Kisah Lintas Waktu, Kataku


KIDUNG KINANTI
[Bagian Kelima]

*Terinspirasi dari lagu Long Distance ~ Brandy*

“Jangan salahkan jarak, sebab hati yang akan mendekatkannya dan jangan salahkan waktu, sebab hati yang akan menjadi detiknya”

Ini bukan kisahku tentangmu Aretha. Kamu tenang saja. Nikmatilah kebersamaanmu dengan Adrian. Sementara aku, biarkan aku menikmati kesendirianku tanpamu. Apalah artinya aku bagimu, tapi kamu tak pernah tahu betapa berartinya kamu bagiku. Mungkin saat ini kamu belum tahu artiku bagimu sebab kebahagiaanmu. Lain kali bisa jadi kamu akan memintaku untuk menceritakan arti kebahagiaan. Begitu harapanku padamu.

Ah! Aretha… Mungkin ada satu fragmen dari kehidupanku yang tidak pernah kamu tahu. Aku sengaja menyembunyikannya darimu. Alasannya sederhana, bagi seseorang dibanding-bandingkan adalah hal yang tidak menyenangkan. Mungkin termasuk kamu. Itu anggapanku. Entah kenyataannya seperti apa, aku sendiri juga tidak tahu. Meskipun kalau boleh jujur, aku mencintaimu sebab kamu mirip dengan mantanku, Aryati. Iya… dia adalah cinta pertamaku saat baru pertama kali aku tinggal di Lombok. Pertama dan hanya untuk sementara sampai akhirnya dia memutuskan ikut orang tuanya pindah ke Jakarta. Meninggalkan aku di sini untuk kamu, seharusnya.

Dan, sudah hampir dua minggu sejak langkah kakiku ke kampus bukan demi kamu. Tapi, demi diriku sendiri. Terutama demi Ibuku, orang tuaku satu-satunya. Ada keyakinan bahwa sekarang ini aku sedang diuji. Tapi, sepertinya ini masih terlalu mudah bagiku. Saat aku kehilangan cintamu, aku sudah menemukan cinta yang lain. Cinta yang datang tiba-tiba dari Mas Ridho, sosok pengganti ayahku. Darinya aku telah menemukan cinta baru. Cinta ayahku yang telah meninggalkanku setahun yang lalu.

Aku lelaki, pernah menjatuhkan air mata karena kehilangan orang yang dicintai. Maaf Aretha, bukan kamu, tapi Ayahku. Mungkin kamu menganggap aku cengeng. Aku tak peduli. Bagiku kehilangan orang tua adalah fase terberat dalam hidupku. Mungkin sejak kamu jauh dariku tak ada lagi yang menemani menghabiskan malam Minggu di kedai kopi milik Ayahmu, tapi apa kamu tahu betapa sepinya saat sendirian menonton bola tanpa Ayah yang selalu saja bersebarangan denganku? Pasti kamu tidak tahu betapa bahagianya aku waktu itu.

Sudahlah. Toh semua tentangmu sudah berlalu. Tak akan kubiarkan kehilanganmu membuatku terpuruk. Aku meyakinkan diri sendiri untuk bangkit. Setidaknya sampai saat ini. Sampai saat nanti kehilanganmu akan menjadi kenangan indah atau ingatan yang mematikan.

Saat ini, aku memilih untuk sedikit demi sedikit menjauh darimu. Berharap rasaku yang dulu tak lagi tumbuh seiring kembang kertas yang mulai memamerkan kuncupnya. Kalaupun tumbuh dan berkembang, aku ingin itu menjadi sebuah keindahan.

Hari ini, sepulang kuliah aku memutuskan pergi berenang ke Taman Air Narmada bersama teman-temanku. Terkecuali kamu. Sebab kamu memilih menemani Adrian, si kutu buku di perpustakaan.

Cukup dengan modal Rp 10.000,- aku bisa merasakan sensasi air kolam renang yang begitu dingin. Aku dan teman-temanku riuh memecah kesunyian di kolam renang sepanjang hampir lima puluh meter itu. Ada tawa bahagia pada setiap air yang membasahi tubuhku. Sepertinya kesedihan sudah larut bersama air bilasan yang mengalur di pancuran yang ada di beberapa bagian.

Kolam renang mulai ramai pengunjung saat aku dan teman-teman memutuskan untuk menghentikan aktivitas siang itu. Matahari terik menghangatkan tubuhku yang sudah mulai kedinginan. Di tepi kanan kolam, aku duduk melemaskan tubuh. Pun dengan teman-temanku. Tubuh-tubuh telanjang itu berkilat ditimpa cahaya matahari.

“Pulang yuk!” kataku setelah selesai ganti pakaian.

“Buru-buru amat, Arion? Kayak ada yang nungguin aja di kos,” jawab Radit, sahabat baikku.

“Arion ditungguin Ibu Kosnya kali tuh! Belum bayar kos dia,” suara Ahmad menimpali dengan tawa khasnya.

Aku dan mereka tergelak. Selalu ada kebahagiaan lewat hal-hal sederhana saat bersama mereka.
Kebersamaan seperti ini yang kadang aku butuhkan untuk menghibur diri.

“Atau jangan-jangan dia udah ditungguin Sally anak Ibu Kos, tuh! Hahaha … .” Kali ini giliran Romy yang tidak mau kalah dengan teman-teman lain mem-bully aku.

"Emang kenapa kamu enggak mau sama Sally? Dia kayaknya ngebet banget tuh sama kamu," samber Radit lagi.

"Jangan-jangan kamu masih belum bisa move on dari Aretha. Atau kamu masih cinta sama Aryati, anak modelling yang udah ninggalin kamu. Iya kan? Iya kan?" Kali ini Radit tak tanggung-tanggung meledekku.

“Apaan sih!” jawabku setengah berteriak dengan muka datar.

Aku dan mereka kembali tergelak. Teringat masa-masa saat mereka berkumpul di kosku untuk mengerjakan tugas. Saat itu ada seorang gadis yang tiba-tiba ikut bergabung, Sally, anak Ibu Kos. Entah apa alasannya. Dan, sejak saat itu aku menjadi bahan ejekan mereka. Bahkan mereka sengaja memancing-mancing tentang Aryati, kekasih LDR-ku dulu. Aku hanya bisa tersenyum getir saat menghadapi bully-an mereka.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 15.00 Wita. Aku dan mereka lalu singgah di salah satu warung tenda yang ada di sisi kanan kolam untuk naik bebek dan perahu. Hari ini adalah ulang tahun salah satu temanku, Radit. Itu artinya aku dan mereka akan makan sate Bulayak gratis.

Tak sampai setengah jam, acara makan-makan gratis pun selesai. Aku mengajak mereka mengililingi komplek Taman Air Narmada sebelum akhirnya pulang. Di beberapa spot, aksi narsis pun terjadi. Di gorong-gorong air yang dibangun sejak zaman Belanda, di Pura yang letaknya paling atas, di air mancur yang ada di dekat turunan masuk. Tak lupa di sebuah bangunan kecil tempat untuk melakukan ritual pengambilan Air Awet Muda.

Lima belas menit kemudian aku sampai di kos hijauku. Tanpa istirahat, aku segera menyiram kembang kertas kesayanganku. Kuncupnya sedikit demi sedikit mulai bermekaran. Kupraktikkan yang Ayah ajarkan dulu, teknik menyambung. Aku berhasil. Kembang kertas kenangan itu mulai berbunga warna-warni.

“Kamu kemana aja, Arion?”

Tiba-tiba kudengar suara yang sudah menemani hari-hariku selama ini. Itu suara Mas Ridho.

“Tadi kebetulan ada temen ngajakin ke Narmada, Mas,” jawabku meletakkan ember kosong di dekat teras kamar kosku.

Aku mengajak Mas Ridho duduk di kursi plastik depan kamarku. Seperti biasa, aku mengeluarkan air putih dari galon yang isinya tinggal setengah.

“Wah! Kamu rajin banget ya merawat kembang kertas itu. Setiap sore aku perhatiin kamu enggak pernah lupa untuk menyiramnya. Apa karena kembang kertas itu pemberian Aretha?”

Aku diam. Tersipu mendengar pertanyaan Mas Ridho.

“Ah! Udahlah, Mas. Enggak usah sebut-sebut nama itu lagi,” jawabku datar.

Mas Ridho sepertinya bisa membaca hatiku. Sejak aku minta untuk tidak menyebut namamu, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Kembang kertas enggak baik kalau terlalu sering disiram. Nanti akarnya bisa membusuk. Seperti kenangan,” kata Mas Ridho sambil cengar-cengir.

Kata-kata Mas Ridho kena pas di hatiku. Aku hanya tersenyum. Ada pertanyaan yang enggan untuk kupertanyakan. Tentang kenangan yang membusuk karena terlalu sering disiram. Pernyataan macam apa ini?

“Oya… Besok pagi-pagi sekali minta tolong anterin aku ke bandara, ya? Bisa, kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Mas Ridho. Bungkam. Itu artinya mulai besok tidak ada lagi yang menemaniku nonton siaran pertandingan sepak bola. Bandara. Iya… Bandara bagiku adalah kehilangan. Kata itu membawaku kembali ke suatu waktu. Dua tahun lalu saat aku melepas kepergian Aryati, cinta pertamaku.

“Hei! Kok malah ngelamun? Bisa, gak?”

Kata-kata Mas Ridho mengagetkanku. Untuk Mas Ridho, orang yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri, tidak ada kata tidak bisa. Ayah? Bahkan aku sudah lupa bagaimana rasanya memiliki Ayah kecuali bahagia. Dan, besok aku akan kembali kehilangan sosok itu.

Aku mengangguk pelan mengiayakan.

Pukul 04.00 Wita saat Mas Ridho membangunkanku. Dengan agak malas aku membuka pintu kamar. Sesaat aku sadar bahwa aku harus mengantarnya sekarang juga. Aku segera mempersiapkan diri. Tak sampai lima belas menit, aku sudah duduk di jok depan, di samping Mas Ridho. Mobil pun meluncur ke bandara.

Perjalanan selama setengah jam lebih itu penuh dengan percakapan hangat tentang segala hal. Tentang rencana Mas Ridho yang katanya akan selama dua minggu di Singapura sampai bagaimana aku harus memperlakukan si Ciko, mobil kesayangannya. Tak lupa Mas Ridho mengingatkanku untuk rajin merawat kembang kertas pemberianmu. Aku mengangguk tanda mengerti.

Bandara Internasional Lombok sudah ramai dengan calon penumpang. Aku mengikuti langkah Mas Ridho. Sampai di pintu masuk keberangkatan kulepas Mas Ridho. Ada kehilangan yang kurasakan. Perlahan Mas Ridho menghilang di balik pintu kaca itu.

Aku kembali ke tempat parkir mobil dan istirahat sejenak untuk menghilangkan kantuk. Pikiranku tertuju pada punggung yang memasuki pintu masuk keberangkatan. Bukan punggung Mas Ridho, tapi punggung Aryati. Dua tahun yang lalu.

***

“Arion… Maafin aku. Aku ingin tetap di sini bersamamu. Tapi bagaimanapun juga aku enggak bisa maksain kehendakku,” kata Aryati siang itu.

“Aku bisa ngerti, kok. Gimanapun juga aku enggak akan maksa kamu untuk tetap tinggal,” kataku mencoba tersenyum, meskipun dalam hati menangis.

Siang itu waktu telah merantang karak antara aku dengan Aryati. Aku bisa apa? Tidak bisa berbuat apa-apa, selain belajar ikhlas melepas. Berat? Pastinya. Tapi, pada akhirnya tidak ada yang kurasakan berat saat mengingat hubungan ini masih dipertahankan.

Sejak hari perpisahan itu, aku hampir tidak bisa mengenali diriku sendiri. Banyak hal yang berubah padaku. Aku tak lagi rajin merawat diri. Semangatku untuk kuliah pun rasanya tidak seperti saat menerima pengumuman bahwa aku diterima di kampusku tanpa tes. Sepertinya Aryati sudah membawa setengah semangat hidupku, bahkan mungkin lebih.

Hari-hari hanya kuisi dengan mendengarkan lagu-lagu kesayangannya sambil melihat fotonya yang terbingkai cantik. Berlebihan? Bisa jadi menurut beberapa orang, tapi menurutku wajar. Sebab hati siapa yang mau kehilangan cinta pertama? Bahkan sebelum cinta itu mekar sempurna. Bahkan aku harus merelakan menjadi sasaran pem-bully-an oleh teman

Minggu pertama, aku rajin menelepon Aryati. Sekadar menanyakan kabar atau tentang suasana sekolah barunya. Banyak basa-basi tercipta dan tawa yang dekat di telinga. Aku bahagia menjalaninya. Ternyata jarak bukanlah halangan bagi dua hati yang punya komitmen kuat dan tanggung jawab untuk mempertahankan hubungan.

Selain handphone, Berbagai media sosial adalah sahabat terbaik bagiku untuk mengungkapkan rasa cintaku padanya. Entah berapa puisi tumpah ruah di beranda Facebook-ku. Entah berapa ratus puisi cinta untuknya menjelma kata begitu saja di timeline akun Twitter-ku. Tak ketinggalan Skype pun menjadi perantara ungkapan rasa cinta setiap malam Minggu. Mungkin kalau dibukukan akan menjadi beberapa buku kumpulan puisi.

Setelah hampir sebulan hubungan itu berjalan …

“Hai Peri Merah Jambu. Gimana kabarmu?”

Begitu bunyi SMS-ku. Rasa deg-degan masih saja timbul saat aku menekan tombol enter pada smartphone-ku. Padahal ini bukan untuk pertama kalinya. Ini mungkin SMS-ku untuk yang kesekian kalinya. Dan, jawabannya selalu saja manis seperti biasa.

“Aku baik-baik saja, Pangeran Hujan.”

Dan, SMS selalu menjadi pembuka bagi sambungan langsung jarak jauh. Saling mengingatkan dan saling menertawakan tanpa ada satu pun saling menyalahkan. Juga tidak menyalahkan jarak maupun waktu. Selalu seperti itu. Selalu saja ada senyuman saat aku atau dia menutup sambungan telepon itu.
Sampai akhirnya, hubungan berjalan hampir setahun. Rindu pada tatap matanya semakin menumpuk. Ada keinginan bertemu yang begitu membeku. Tapi, apa daya. Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang tidak cukup mampu untuk sekadar terbang ke Jakarta. Pun dengannya yang sepertinya sudah asyik dengan dunianya. Terlebih kabar terakhir darinya, dia sudah merintis karir menjadi seorang entertainer. Dan, dari sana segalanya bermula.

Balasan SMS tidak lagi seperti sebelumnya. Selalu saja dia punya alasan. Syuting produk kecantikan, katanya. Suatu hari saat kutanyakan kenapa dia tidak membalas SMS-ku, dia hanya membalas, “Maaf aku lagi sibuk, Arion.” Singkat, tapi meninggalkan tanda tanya yang panjang. Apakah waktu memang bisa mengubah seseorang? Aku yakin bisa. Tapi, apakah waktu bisa mengubah cinta? Aku rasa itu terlalu sulit bagiku.

Aku telah terjebak dalam situasi yang sulit. Jarak begitu jauh. Dan, ini sangat sulit untukku. Aku sudah tak tahu lagi bagaimana cara mengabarkan rindu. Entah berapa kali rindu tertahan karena sambungan telepon yang tidak bersahabat. Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Sekali aku rasa wajar. Dua kali masih kumaafkan. Tiga kali dan seterusnya, aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain menyerah. Hampir tak ada komunikasi lagi. Yang aku tahu aku sudah berusaha. Dan, aku baru tahu kalau perasaan cinta melibatkan dua hati. Kalau tidak keduanya, lalu cinta bisa apa lagi selain meninggalkan luka?

Dan, puncaknya pada malam Minggu saat hubungan yang kujalani jarak jauh berjalan hampir dua tahun. Tiba-tiba lagu Long Distance-nya Brandy memecah tangisku diam-diam di keheningan kamar kosku tanpa pernah dia tahu.
I wish you are here with me
But we’re stuck where we are
So hard, so far This long distance is killin’ me

“Arion… kamu masih kangen sama aku enggak?” tanyanya suatu malam Minggu saat meneleponku.

“Kamu kok nanya gitu? Apa kamu enggak bisa ngerasain?” tanyaku sambil berusaha mencairkan suasana.

“Hmm… Gimana ya?”

Ada perubahan pada nada suaranya. Tidak seperti biasanya. Meski tanpa harus lewat tatap mata, aku selalu bisa membaca nada suaranya dengan hatiku. Aku terdiam saat sambungan telepon itu terputus.
Saat itu juga aku ingin berlari menembus batas waktu agar jarak dapat kukalahkan. Tapi aku bisa apa. Bahkan satu jam setelah tragedi sambungan telepon itu aku masih terisak tanpa pernah dia tahu, apalagi mendengarnya.

Akhirnya waktu juga yang mengantarku ke tepi batas kesabaranku. Aku jatuh demi mendengar keputusan sepihak darinya. Aku sendiri lagi, sampai saat ini. Sia-sia? Tentu tidak. Bagiku mencintainya tidak ada mengenal kata sia-sia.

***

Matahari sudah agak tinggi saat aku terbangun. Masih ada sisa air mata yang mengalir di kedua ujung mataku. Aku menghela napas panjang lalu perlahan kubawa mobil Mas Ridho keluar area bandara membawa ingatan tentang kehilangan tersebab jarak.


ditulis @momo_DM dalam http://bianglalakata.blogspot.com

No comments:

Post a Comment