Sunday, September 2, 2012
Secercah Harapan
Telepon selulerku berdering. Itu nada dering dari Steve! Seakan terpompa oleh adrenalin, aku bergegas mencari handphone-ku itu. Indra mata, telinga, serta koordinasi otot kakiku memuncak seketika untuk menemukan handphone yang tergeletak entah di mana. Kelegaan menyelimuti saat benda mungil yang mampu memperpendek jarak itu kini telah kugenggam. Tak kutunda lagi, anakku itu kusapa dengan sapaan terhangat dari seorang ayah.
“Nak, halo? Apa kabar, Nak?”
“Yah…halo? Apa suaraku terdengar jelas?” Suara gemerisik sedikit terdengar.
“Lumayan, Steve, ada suara berisik yang mengganggu, tapi Ayah masih bisa mendengar suaramu dengan cukup jelas.”
“Syukurlah, Yah. Baru ini aku dapat sinyal.” Suara Steve disana terdengar penuh kelegaan. “Aku baik, Ayah, jangan terlalu khawatir.”
Mana mungkin seorang ayah tak khawatir pada keadaan putranya? Ingin kuutarakan kata-kata itu, namun urung kulakukan. Kasihan Steve. Takkan kubebani Steve-ku dengan kecemasan-kecemasan tak masuk akal milikku. Mulutku segera berucap tanya yang lain. Pertanyaan yang lebih umum. “Ada rencana pulang kah, dalam waktu dekat?”
Beberapa detik kekosongan. Steve mungkin terdiam di seberang sana, berpikir. Namun tak berani kuusik pemikirannya. Aku takut tiap kataku akan mengubah pikirannya. Siapa tahu dia sedang mempertimbangkan untuk pulang.
“Aku akan pulang. Tapi mungkin tak bisa dalam waktu dekat. Begitu kasus ini selesai, aku akan pulang, Ayah. Segera. Doakanlah aku selalu,” jawabnya. Aku seperti melayang, dan ragaku kutinggal pergi. Mendengar anakku yang akan pulang dari rimbanya, menjadi semacam sugesti tersendiri bagi orang yang sudah tua sepertiku.
“Yah, maaf. Aku…aku harus pergi…maaf tak bisa berlama-lama.”
Ingin kuteriakkan di benda kotak bernama telepon itu, bahwa aku kangen sekali. Namun aneh, perjalanan sepersekian detik dari otak ke mulut mentransformasi kata-kata itu menjadi, “Iya Nak, tak apa-apa.” Tak apa-apa?? Tabiat manusia biasanya akan berkata ‘Tak apa-apa’, sebuah kebohongan pertama yang sering terucap, baru diiringi kebohongan berikutnya.
Dan telepon pun terputus. Air mataku setitik di sudut itu muncul tanpa pernah kumau. Itu rindu pada anakku.
*
Steve kecil tak pernah berhenti bertanya. Saat ibunya masih ada, ia selalu pusing menjawab pertanyaan tak habis-habis dari anak itu. Aku-lah yang selalu meladeni pertanyaan-pertanyaan khas anak-anaknya. Macam-macam pengetahuan yang ingin direguknya. Namun tak ada yang bisa menandingi minatnya pada hewan. Tiap jawaban adalah pertanyaan baru.
“Yah, mengapa gajah itu dibunuh?” Pernah suatu hari ia bertanya. Matanya melebar meminta penjelasan. Ia masih tak paham dengan penjelasan berbahasa inggris di channel televisi khusus alam itu.
“Karena gadingnya,” jawabku sekenanya. Tapi kemudian wajahnya menyiratkan kebingungan yang nyata, sehingga aku harus menjelaskan lagi. “Itu gading, gigi gajah yang besar itu.”
“Aku tahu itu gading. Tapi kenapa gadingnya bisa membuat gajah mati?”
“Oh, karena manusia yang mengambil gadingnya.”
“Kenapa gadingnya diambil?” Pertanyaan baru.
“Karena manusia ingin memakainya untuk berbagai keperluan. Gading itu dianggap bagus oleh manusia. Harganya juga mahal. Jadi bisa dijual.”
“Kenapa manusia tak mengambil benda lain? Kenapa harus dari gading gajah?” Pertanyaan baru yang lain.
“Karena ada saja manusia yang ingin mendapat uang secara cepat, Nak, yaitu dengan membunuh gajah.”
“Apa mereka tak kasihan?” Pertanyaan baru bermunculan lagi.
“Nak, kalau manusia sudah perlu uang, banyak yang melakukan dosa. Sama seperti manusia yang mencuri atau membunuh. Mereka manusia yang jahat dan kejam. Semua karena uang.”
“Kalau aku dewasa, aku takkan membunuh hewan untuk uang.” Untunglah, ini pernyataan.
“Baguslah, Nak. Jadilah orang baik yang menyayangi binatang. Maka Tuhan akan menyayangiMu karena kau sudah menyayangi makhluk ciptaanNya.” Sebenarnya kata-kataku hanya nasihat ala kadar yang tak kuhiasi kesungguhan. Hanya sebuah ucapan untuk menutup deretan pertanyaan baru di masa datang. Namun, tak kusangka, Steve kecil memegang teguh kata-kataku seakan itu sumpah yang tertoreh di atas batu.
*
Steve itu keras kepala. Aku sebenarnya sangat tak setuju dengan keputusannya saat itu. Namun tekadnya telah sampai di batas zenith. Percuma jika ia kutentang, kumarahi, atau kupaksa ia menuruti mauku. Aku tak sediktator itu. Lagipula, anak muda dengan semangat berapi-api seperti dia, semakin dilarang maka akan semakin menjadi. Maka, pada sore yang cerah itu, kutanyai dia dengan sungguh-sungguh, kuajak dia bertukar pikiran. Aku ingin lebih memahami pemikirannya saat memutuskan jalan hidupnya itu, dan aku ingin ia menyelami pemikiranku yang mendambanya menjadi manusia yang lain. Berharap di antara jarak dua pikiran itu, akan ada suatu titik pertemuan.
“Nak, apa kau sudah yakin?”
Steve mengangguk tegas, tak sedikit pun bimbang di sana. “Ini jalan hidupku, Yah. Ini yang selalu kuimpikan. Aku mohon maaf, Yah. Namun, apapun yang Ayah katakan, aku akan tetap pergi.”
“Ayah bahkan belum menentangmu, Steve. Ayah hanya ingin tahu alasanmu. Itu saja. Kenapa kamu tidak menjalani yang dijalani anak lelaki lain? Lulus sarjana kemudian mencari kerja? Menjadi pegawai pemerintah atau karyawan kantoran? Punya gaji tetap dan menikah? Apakah hidup seperti itu tak pernah kau jadikan pilihan?”
Steve memandangku dengan mata tajamnya, ia menatap dengan begitu dalam hingga aku merasakan apa yang ia rasakan. Ada kecewa saat ia mendengar perkataanku barusan.
“Apa Ayah memang ingin aku menjadi ‘manusia biasa’ itu?”
Pertanyaan itu tepat menusuk nurani. Seketika hatiku berkata “Tidak. Aku selalu tahu kau istimewa. Aku selalu tahu kau ditakdirkan untuk menjadi orang yang mulia.” Tapi mode otomatis di mulutku mengubah kalimat itu menjadi “Pekerjaan yang kau pilih sekarang akan sulit, Nak. Pekerjaan itu tak akan mudah. Bahkan berbahaya. Ayah takut. Ayah khawatir.” Namun kusyukuri perkataan yang keluar mendadak itu karena direspon positif oleh Steve.
Steve tersenyum. “Ayah, kau selalu berkata bahwa masa depan itu belum terjadi. Rugi kita bercemas hati, ya ‘kan, Yah?”
Aku tersudut dalam hening. Tak mampu menyangkal kata-kataku sendiri.
*
Kau pulang, Nak. Kau tepati janjimu. Namun kenapa hanya jasadmu?
Aku ingin menjadi orang yang menangis paling keras. Tapi tak bisa karena teman-temanmu yang membawamu menangis sedih lebih dahulu. Sementara air mata tak mungkin memberi penjelasan, kupaksa teman-teman asing dari negara yang bahkan tak kutahu untuk menjelaskan ikhwal kematianmu.
Kau meninggal dalam tugasmu, menghalau kapal-kapal yang menangkap hiu secara ilegal. Samar aku masih ingat, bahwa kasus ini termasuk kasus yang selalu membuatmu meradang. Hiu-hiu itu diambil ditangkapi begitu saja, dalam keadaan hidup menggelepar manusia-manusia tak bermoral memotong sirip-siripnya untuk dijadikan sup, dan badan ikan yang sudah tak bersirip itu ditendang begitu saja kembali ke laut. Hiu yang tak bisa berenang lagi itu pasti mati, terutama karena kehabisan darah.
Sungguh biadab, katamu dengan nada marah di telepon. Memang kuakui perbuatan itu tak bermoral. Kubayangkan ada orang yang memotong lenganku hidup-hidup dan setelah lenganku diambil, aku dibiarkan hingga mati…sungguh tak berperikemanusiaan. Oleh karena itu kau memutuskan untuk bertugas di kapal, menghalau para penangkap ikan hiu yang kejam itu. Namun, kau bukan manusia super, Nak. Apa yang ditakuti oleh nelayan-nelayan itu darimu? Apa susahnya menghilangkan nyawamu yang mengganggu ekonomi mereka?
Sudah kukatakan, Nak. Betapa berbahayanya pekerjaanmu. Lalu kenapa masih tak kau percayai nasihatku?
Selalu kuminta kau untuk pulang, Nak. Tapi kenapa kau tak pedulikan perasaanku?
Lalu kau muncul di sini di peti mati dan terbujur. Apakah kau tahu aku sangat-sangat merindukanmu? Lalu kemana lagi harus kuadukan rinduku?
Seakan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, sekelebat ingatan jelang kepergianmu terputar di ingatanku. Padahal aku tak meminta otakku memutar memori jelang kepergianmu bergabung dengan organisasi lingkungan internasional yang kepanjangannya pun tak bisa kusebut.
“Hanya dengan ini aku bisa mengubah bumi, Yah. Ini jalan yang nyata untuk menjadi penyelamat lingkungan. Aku tak mau setengah-setengah. Akan kutolong orangutan di Indonesia, akan kulindungi badak bercula satu yang hampir punah, akan kuhalau orang yang berusaha menyakiti hewan yang dilindungi di Afrika, akan kutangkap mereka yang memperdagangkan hewan secara ilegal. Ini cita-citaku, Yah. Aku tak mau duduk berpangku tangan. Aku ingin ‘berbuat’, Yah. Melakukan sesuatu yang nyata.”
“Nak, mengapa harus kamu? Untuk apa kamu repot-repot melakukan ini? Pasti ada orang lain yang melakukannya…”
“Ayah, siapakah orang lain itu?” tanya Steve balik. “Orang lain itu kita, Yah. Karena pemikiran seperti itulah, yang membuat bumi ini makin rusak. Manusia satu beranggapan bahwa akan ada manusia lain yang menyelamatkan lingkungan dan begitu seterusnya sehingga tak ada yang berniat untuk menyelamatkan bumi. Padahal, manusia lain itu harusnya adalah kita sendiri, Yah. Hewan-hewan itu tak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri, Yah. Manusia jahat itu terlalu kuat bagi mereka. Hanya manusia yang bisa membantu mereka melawan manusia, Yah. Menyelamatkan hewan adalah salah satu cara menjaga kelangsungan bumi. Saya ingin menjadi secercah harapan untuk bumi ini, Yah. Bahkan walau harapan itu sangat kecil.”
Idealisme-mu membunuhmu.
Peluru yang menembus pelipismu tak mengurangi ketampananmu menuju peristrahatan akhir. Memikirkan ragamu yang akan dikubur membuatku sedikit lega. Jasadmu bergabung kembali ke bumi yang kau cinta.
Kini tinggal aku, si ayah yang renta, yang tak lagi menunggu kepulangan anaknya yang merantau ke berbagai sudut dunia. Ayah yang ditinggal si anak yang pekerjaannya mulia, seorang aktivis lingkungan, seorang sukarelawan sejati, seseorang yang bermimpi ingin mengubah bumi menjadi tempat yang lebih baik.
ditulis @juzzyoke dalam http:// juzzythinks.blogspot.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment