Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti
“Sayang, besok aku flight jam 9 malem. Ini aku di jalan ke Jakarta. Besok pagi aku ke kantormu ya? Tapi aku ga bisa lama karena siang beberapa keluarga mau kumpul di rumah. Aku tunggu kabarnya ya. Love you, Ay:*”
“Huufft” aku tarik nafas panjang-panjang setelah membaca pesan singkat dari Dika. Dika akan berangkat ke Jepang besok malam untuk mengikuti pelatihan selama 9 bulan. Dika juga berjanji akan pulang jika ada libur dari kampusnya, katanya sekitar awal tahun 2012. Aku paham maksud Dika ingin kantorku dalam smsnya adalah supaya aku tidak mengantarkan Dika ke bandara. Selama 1,5 tahun hubungan kami, Dika belum pernah memperkenalkan aku dengan keluarganya. Aku terima saja, tidak mau menuntut ‘pengakuan’ di depan keluarganya. Kalau ditanya ingin, ya ingin banget lah. Tapi aku tidak pernah nanya kenapa. Aku lebih suka hubungan kami yang berjalan tenang dan tidak mempermasalahkan hal-hal kecil yang tidak penting.
Dengan hati-hati aku menyusun kata untuk membalas sms Dika.
“Iya, sayang. Hati-hati ya dijalan ya. Aku tunggu kamu dikantor ya. Love you too, Ay:*”
Keesokan harinya aku berdandan secantik mungkin. Bedak, eyeshadow, eyeliner, alis mata, mascara, blush on, lipstick semuanya digunakan tipis. Rok selutut warna hitam dipadukan dengan kemeja lengan setengah lengan berwarna pink, aku tambahkan kalung warna hitam dan sepatu warna hitam hak 7cm. Aku yakin penampilanku hari ini sempurna. Tepat pukul 6.30 aku berangkat ke kantor dengan perasaan yang….yang campur aduk!
“Hai, sayang. Kamu cantik banget sih hari ini” sapa Dika sembari mencium pipiku.
“Iih gombal. Semuanya sudah siap? Pastiin ga ada yang ketinggalan”
“Siap, nyonyah. Semua sudah tersusun rapih dibantu sama Ibu. Semua sudah terbawa”
“Oh iya, ini untuk kamu. Lumayan buat kalo disana musim dingin, biar berasa meluk aku. Haha” aku serahkan sebuah bungkusan besar yang berisi 2 buah jaket tebal untuknya. Walaupun aku sendiri tidak yakin akan dibawa ke Jepang oleh Dika, mengingat semua barang yang akan dibawa sudah tersusun rapih, katanya.
“Kamu ih, repot-repot banget. Makasih ya, sayang. Pasti akan aku pake” Dika tersenyum. Senyum yang pasti akan aku rindukan nantinya.
“Dika, kalo nanti aku kangen gimana?” tanyaku manja.
“Ardina Ramitaku sayang yang cantik, teknologi sudah maju. Kita bisa skype setiap malam, kita bisa pake ym kapanpun. Kayak ga pernah LDR aja sih? Selama ini kan kita juga Jakarta – Bandung, sayang. Kita akan baik-baik saja, sayang. Kamu janji ya, jaga dirimu baik-baik, jaga kita. Sabar ya, 9 bulan bukan hal yang lama. Ini untuk kemajuan karirku juga nantinya. Ini untuk kita, sayang. Aku juga akan baik-baik menjaga kita, sayang” Dika meyakinkan. Aah! Dika yang sabar, sebulan sebelum keberangkatannya, aku memang lebih mana padanya. Ucapan Dika barusan sudah berkali-kali diulang untuk meyakinkan aku.
Aku membalasnya dengan sebuah senyuman. Pelukan paling hangat dan lama aku berikan padanya, sebagai pelukan terakhir sebelum ia pergi meninggalkan Indonesia. Sampai akhirnya Dika terbang ke Jepang, Dika selalu mengabarkanku.
“Tidak ada yang perlu kamu ragukan dari cintanya, Ardina” aku tersenyum pada wajah di cermin.
Saat lautan kau sebrangi
Janganlah ragu bersauh
Ku percaya hati kecilku
Kau takkan berpaling
24 Oktober 2011
“Ay, aku sudah tiba di apartmentku, tempatnya nyaman” chat Dika melalui ym. Beruntunglah perbedaan waktu antara Jakarta dan Jepang hanya 2 jam. Sehingga jam biologisku tidak harus banyak beradaptasi dengan milik Dika.
“Selamat merapihkan kamar ya:*, aku lagi meeting nih. Lanjut nanti lagi ya. Love you” balasku
Kemudian tidak ada balasan darinya. Mungkin Dika sedang merapihkan barang-barang bawaannya dari Indonesia, mungkin.
Waktu yang berjalan kami isi dengan chat via ym atau skype tanpa mengenal itu pagi, siang, sore atau malem. Sebaik-baiknya kami mengatur waktu saja, sepanjang tidak mengganggu waktu kerja dan waktu penelitian Dika. Sebenarnya lebih sulit meminta waktu Dika, hari-harinya diisi dengan studi di kelas, penelitian di laboratorium, dan diskusi dengan profesornya. Aku yang harus lebih banyak menanamkan pikiran positif jika Dika lama membalas pesanku, bahwa dia memang sedang sibuk dengan penelitiannya.
30 Desember 2011
“Sayang……….. kamu disana udah tidur belom? Aku ud dikamar nih. Kangen sama kamu. Skype yuk” Sapa Dika
“Ayoookkkkkkkkkkk!” balasku. Aku lari kearah meja riasku, aku pakai bedak tipis, dan menyisir rambutku agar terlihat sedikit rapih didepan Dika.
“Kok lama, yang?” Tanya Dika
“Hehe, namanya juga cewek! :p eh sayang… kamu disana ga selingkuh kan? Tanyaku langsung
“Hee? Kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu? Harusnya aku yang nanya gitu ke kamu. Kamu disana ga selingkuh kan? Coba kamu bayangin, disini, aku sendiri. Memang banyak orang Indonesia, tapi kan tidak aku kenal dekat, aku juga jarang berinteraksi dengan mereka karena padatnya jadwal di kampus. Bandingin dengan kamu yang disana, kamu dikelilingi oleh banyak laki-laki Indonesia dan kamu yang memiliki banyak waktu luang. Siapa yang lebih berpeluang coba?”
“Bukan masalah itunya, cewek disana kan putih, cantik, lebih menarik. Siapa yang tau kalo disana kamu nakal?”
“Siapa juga yang tau kalo kamu di Jakarta nakal? Dika membalikkan pertanyaanku. “Semuanya tergantung kepercayaan, sayang. Kalo kamu baik disana, aku baik disini, kita pasti bisa bareng lagi. Kalo kamu nakal disana atau aku nakal disini, semuanya akan terlihat. Doakan aku ya, sayang. Ini buat masa depan kita juga” jelas Dika.
“Iya, aku percaya I Love you, Dika Prasetya :*. Aku tidur duluan ya, ngantuk bgt nih”
“Iya, silahkan. Love you too, Ardina Ramita :*”
“Tidak ada yang perlu kamu ragukan dari cintanya, Ardina” hatiku berbicara sendiri.
10 Januari 2012
“Sayang, kamu jadi pulang ke Indonesia ga sih?”
“Uhm, kayaknya sih ga. Maaf. Keluargaku yang akan mengunjungiku kesini, sayang. Maaf ya. Atau kamu aja yang mau kesini? Kamu bisa tinggal ditempatku.”
“Gak bisa, Dik. Aku belum mendapatkan cuti dari kantor. Semoga bulan Juli segera dateng ya. Hehe, biar cepet pulang. Yang disini kangen! Pake banget!”
“Iya, sayang. Aku juga kangen banget sama si cantik yang disana :* Eh iya, tadi aku jalan-jalan. Main salju. Here’s for you :D” Dika mengirimkan foto sebuah taman yang seluruh permukaannya ditutupi salju. Putih. Indah.
“Bagus bangeeetttttttt. Take me to Japan, please…….”
“Haha, sinii, nanti aku ajakin kesana. Bagus banget disana, sayang. Dingin! Kalo ada kamu, pasti udah aku peluk terus. Hehe. Eh sayang, aku ngerjain tugas dulu ya? Banyak banget yang harus aku selesasikan untuk minggu ini. Kamu tidur gih, udah malem kan di Jakarta?”
“Sir, yes, Sir. :*”
Sebelum tidur, aku melihat-lihat google+ miliknya. Rupanya Dika tadi mengunggah beberapa foto ketika bermain salju. Senyum lebar terukir dibibirku, Dika menggunakan jaket yang aku berikan ketika di Jakarta! Sudah pukul 23.00 rupanya, waktunya aku tidur. Aku matikan laptopku. Hufftt. Sudah tiga bulan tidak melihatnya, hanya memandang wajahnya dari layar laptop. Sudah tidak jelas rasanya, rindu yang terlalu banyak, rasa sayang yang kadang memudar kadang menebal, perasaan kesal karena dicuekin tapi berusaha memahami kesibukannya. Dika, cepatlah pulang, sayang!
14 April 2012
“Happy Birhtday, Ardina Ramita. Ini foto bunga sakura yang cantik untuk pacarku tercantik” Dika mengirimkan foto sekumpulan bunga sakura cantik melalui skype tepat pukul 00.00 pada tanggal ulang tahunku.
“Dikaaaaaaaa. Makasih ya, sayang. Kadonya kamu pulang ya! Haha.”
“Belum bisa, sayang. Bulan Juli sebentar lagi, sabar ya?”
“Iya :)”
20 Juli 2012
“Ardina Ramita, aku pulang tanggal 27 Juli 2012, tiba di Jakarta sekitar pukul 11.00 siang. Nanti aku kabarin ya kapan kita bisa ketemu. Aku punya banyak banget oleh-oleh buat kamu.” Sapa Dika melalui ym pagi ini.
Tapi kalimat “nanti aku kabarin ya kapan kita bisa ketemu” artinya aku tidak diinginkan untuk ikut menjemputnya di bandara. Entah harus berapa banyak sabar lagi yang harus aku tanamkan untukmu, Dika?
27 Juli 2012
Akhirnya, hari kepulangan Dika tiba. Aku bersiap diri, kemarin aku sudah ke salon untuk sekedar hair spa agar rambutku terlihat lebih indah dan wangi. Celana jeans ketat panjang dan kaos lengan panjang berwarna hitam, aku padukan dengan kalung berwarna ungu. Aku berangkat ke bandara, untuk menjemput Dika.
“Dika, aku bersyukur pada Tuhan, karenaNya kamu masih sehat kembali ke Indonesia. Melihatmu bahagia, tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang kamu cintai, keluargamu. Aku menunggumu datang, sayang” ucapku dalam hati, dari restoran cepat saji di terminal kedatangan luar negeri, aku melihat Dika.
Walau keujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu
Karena ku yakin, Kau hanya untukku
*) Lagu : Untukku - Chrisye
ditulis @TantyVidiarsi dalam http://tantyvidiarsi.tumblr.com
No comments:
Post a Comment