Monday, September 3, 2012

S(Y)UKUR

“ Sakitnya pindahin ke aku dong..pindahin ke aku…” gumam Agung seraya menggenggam  dan menciumi tanganku malam itu.
Malam itu, malam dimana sepertinya malaikat pencabut nyawa sedang survey ke rumahku. Seharian penuh aku terbaring diatas kasur, menahan diri untuk tidak muntah, menyangga kepala dengan bantal agar tidak jatuh, membungkus badan dengan selimut karena menggigil yang luar biasa, bahkan ngetweet satu buah karakter pun aku tak sanggup. Mungkin memang sakitku itu hanya sakit biasa, mungkin hanya gejala tipus atau demam tinggi,  namun bagiku yang tidak biasa sakit, nikmat Tuhan yang diberikan kali ini sungguh-sungguh, sungguh.. ah sudahlah biar aku dan Tuhan yang tahu! (apalah ini).
Layaknya orang Indonesia kebanyakan yang selalu ‘untung’ dalam setiap kecelakaan, aku pun merasa demikian. “Untung aku masih dikelilingi orang yang aku sayang dan meyayangiku balik”. Kalo di twitter, difollow tapi tidak diffollowback biasa saja, di dunia nyata, hakikatnya, manusia yang menyanyangi seseorang ingin disayang kembali, bukan? Nah, saat sakit inilah aku bisa merasakan seberapa besar sosok-sosok yang aku sayangi menyayangiku kembali.
Agung Ardiansyah, lelaki yang sudah menjabat menjadi kekasihku selama 5 bulan terakhir ini. Iya, dia yang paling aku rasakan kehangatannya malam itu dalam merawatku, selain mamahku, tentunya. Dia yang membuatku merasa hidup di atas awan, sejuk, nyaman, empuk, ya, yang aku tau dari film doraemon, diatas awan itu memang empuk, seperti gimbal-gimbal harum manis yang dijual di pasar malam.
Menilik beberapa waktu kebelakang, sebelum aku putuskan untuk menjatuhkan hati kepada pria ini, waktu dimana aku sungguh angkuh dan tidak butuh orang lain, dia maju tak gentar membela yang benar, yang benar menurut keyakinannya, yaitu aku yang akan menyempurnakan tulang rusuknya.
“ Gua bakal buktiin ke lo sampe lu yakin Yu! Liat aja!” Janjinya kepadaku yang hanya mendapat balasan senyum datar dariku pada saat itu.
Yang aku ingat, sebesar apapun usahanya saat itu, hanya mendapat imbalan “apaan sih!” saja dariku. Entah makhluk gaib apa dalam dirinya yang membuatnya sungguh amat “ngaleyeud” dan keras kepala akan niatnya. Siapapun kamu hey makhluk gaib dalam diri Agung, terimakasih anyway J
…dan hingga pada percakapan di suatu sore via bbm:
Dia : “Gua udah keabisan cara, gimana lagi Yu ngebuktiin ke lu nya? L “ (dia yang sepertinya sudah hampir kehabisan tenaga)
Gua : “ Udah, ga usah buktiin lagi, udah cukup, gua percaya”.
 Setelah percakapan tersebut bisa disimpulkan kelanjutan cerita ini, cerita saya, cerita kami :D
di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari,
dimasa lalu
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
hasrat dlm diri
Kau mainakan untukku
sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian
Menjadi istananya
Dan kini tengah kau bawa aku
Menuju kesana
Ternyata hatimu penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan kasih
Dalam suka dan sedih
             
                Seiring mengalunnya “Negri Diatas Awan” Katon Bagaskara, tak henti kualunkan syukurku atas nikmatmu ini Tuhan. Terimakasih Tuhan, telah ciptakan Agung Ardiansyah yang sebegitu keras kepalanya, yang sebegitu sabarnya, yang sebegitu besarnya mencintaiku. Terimakasih telah ciptakan dia untukku. Terimakasih telah ciptakan dia untuk membuatku bangun lagi setelah sekian lama mati suri, atas rasa sayang. Terimakasih sudah membuatnya tidak mundur setelah 3 kali penolakan dalam setahun pedekate, terimakasih. Terimaksih atas nikmat dan berkat-Mu ini Tuhan.
Teruntuk kesayanganku,
@agungkhudil

ditulis @rhyt_ dalam http://rahayutri.tumblr.com

No comments:

Post a Comment