Monday, September 3, 2012

Semua Untuk Rania


“Kamu baik-baik ya disini. Jaga diri, jaga hati. Aku usahakan semua akan segera nyata untuk kita.”

Aku mencium keningnya sangat dalam. Berat rasanya meninggalkan ia sendiri di kota ini. Kota yang sangat kucintai karena telah mempertemukanku dengan seorang wanita yang mengisi hari-hariku selama lima tahun ini. Semua kenangan, sedih dan tawa yang telah kami lewati bersama, membuat aku semakin tak bisa melepaskan pelukannya kali ini. Rania. Wanita cantik yang selalu ceria. Sikap manja yang begitu lekat dalam dirinya selalu sukses membuatku mengalah sebesar apapun kekesalanku padanya. Rania melengkapi ketidaksempurnaanku dengan sangat sempurna. Walau terkadang beberapa dari sifatnya membuatku kesal, namun semua itu telah aku terima karena aku begitu mencintainya. Dan kali ini, Rania merajuk, memintaku untuk tidak pergi dan tetap bersamanya.

“Aku harus pulang Sayang, mama sudah menungguku di rumah. Masih banyak yang belum aku persiapkan untuk kepergianku besok.”

“Aku masih kangen sama kamu, salah sendiri kamu datangnya sesore ini. Kamu nggak kangen sama aku? Ini terakhir kita sama-sama kan?”

“Sssttt… Jangan bilang begitu. Kita akan selalu sama-sama Sayang. Ini semua untuk kita bukan?”
“Ya, aku tahu. Maksudku setidaknya ini terakhir sebelum pertemuan kita selanjutnya yang entah kapan akan terjadi lagi.” Rania mulai berkaca-kaca.

Aku memeluknya semakin erat. Oh Tuhan, aku benar-benar tak ingin meninggalkan wanita ini. Ku mohon, jaga dia selama ku tak ada di sampingnya. Aku sangat mencintainya, Kau tahu benar itu.

“Kamu sabar ya, ini kan untuk kebaikanku juga. Kamu nggak senang, aku dapat beasiswa ini?”
“Kamu tega!” Rania segera melepaskan pelukannya, wajahnya mulai cemberut. Aku terkejut.

“Tega? Maksud kamu?”

“Kamu tega menilaiku seburuk itu! Memangnya aku wanita seperti apa yang tidak bahagia melihat lelaki yang dicintainya dapat beasiswa S2?” ujarnya sambil mencubit mesra perutku.

Aku tersenyum, betapa aku akan sangat merindukan semua hal manis seperti ini darinya nanti.

“Kok malah senyum?”

“Nggak apa-apa Sayang, kamu lucu. I’m gonna miss you honey.” kataku sambil memeluknya kembali. “Tapi kenapa harus ke Paris sih? Apa itu bagian dari rencana orang tua kamu untuk memisahkan kita?”
Tidak. Jangan sampai Rania tahu, ini memang bagian dari rencana orang tuaku. Ya, ini memang rencana orang tuaku, namun sama sekali bukan untuk memisahkan kami. Mamaku memang sempat tak merestui hubungan kami, tapi itu dulu. Dulu sekali sebelum mama mengenal Rania lebih dalam, sebelum aku ceritakan betapa Rania lah yang merangsang semua hasratku untuk sekolah lebih tinggi, mendapatkan pekerjaan yang baik. Ku ceritakan pula bagaimana tak henti-hentinya Rania mengingatkan aku untuk selalu mengubah caraku memperlakukan mama agar lebih hangat dan manis lagi. Maklumlah, aku tipe lelaki pendiam, ada rasa risih dalam diriku ketika aku harus memperlihatkan sikap manis betapa aku pun mencintai mama melebihi apapun. Lagi pula, bukankah mama hanya ini melihatku sukses? Mama selalu berkata, jika aku telah menjadi ‘seseorang’ wanita manapun akan mau kepadaku. Akan aku buktikan bahwa aku anak lelaki yang bisa dibanggakan, namun jika itu terjadi, Ranialah satu-satunya tujuanku pulang.
“Ayolah Sayang jangan mulai lagi berburuk sangka sama orang tuaku. Ini sudah pernah kita bahas bukan? Mama akan merestui hubungan kita.”

“Ya, semoga. Tapi, jika setelah kita lewati semua ini dan kita mulai masuk ke tahap selanjutnya, hubungan kita tetap nggak direstui, gimana?”

“Itu nggak mungkin terjadi. Kamu tenang saja.”

“Ya misalnya, kalau itu benar-benar terjadi, gimana?”

“Sayang, itu semua nggak akan terjadi, jadi kamu nggak perlu mengkhayal sejauh itu.”
“Nggak ada sesuatu yang bisa kita pastikan sekarang kan? Banyak hal yang bisa terjadi bahkan hanya dalam satu hari. Jadi aku mohon, aku cuma ingin tahu apa yang akan kamu lakukan kalau itu semua benar-benar terjadi?”

“….”
“Diam? Kamu cuma diam?”

Rania sayang, mama sudah merestui kita, ini adalah proses yang harus aku jalani untuk segera membuatmu bisa bersamaku selamanya, aku mohon jangan paksa aku untuk mengatakan semua ini. Ingin sekali aku mengatakan itu padanya, namun tidak. Tidak boleh. Semua harus berjalan sesuai dengan rencana semula. Rania tidak perlu tahu apa yang akan aku perjuangkan setelah ini.
“Kamu nggak mau ngasih aku jawaban apapun? Kenapa sesusah itu untuk menjawab pertanyaanku Sayang?”
“Aku.. Aku… Tidak bisa membantah keinginan mama. Aku nggak mau jadi anak durhaka.”

“Apa itu artinya kamu akan menyerah begitu saja? Setelah proses kita saling menjauh ini harus aku lewati?”
“Bukan itu maksud aku, tapi..”

“Tapi apa? Aku mohon jelaskan semuanya sama aku. Apa yang sedang kamu sembunyikan?” air mata Rania mengalir semakin deras. Aku tahu, pasti saat ini banyak sekali pikiran buruk yang ada di benaknya namun aku bukan seorang yang pintar menjelaskan. Aku tak yakin apa yang ku katakan akan membuat Rania mengerti, bahkan aku takut ia malah semakin menangis karena kesalahpahaman yang tidak perlu terjadi kalau saja aku bisa lebih pintar berkata-kata. Lagi dan lagi, aku memilih diam. Aku hanya dapat menggenggam tangannya dan memohon maaf. Walau aku tahu, Rania mungkin sudah bosan dengan caraku dalam menyelesaikan masalah. Namun tenang saja, kali ini aku benar-benar yakin telah melakukan hal yang benar. Aku akan belajar dengan giat san segera kembali untuk membawa pesan bahagia untuknya.

“Jangan nangis lagi Sayang, aku mohon percayakan semuanya padaku. Kita akan bahagia karena restu itu akan segera kita dapatkan. Ayolah, peluk aku sekali lagi. Aku nggak mau kita pisah seperti ini. Jangan bikin aku semakin berat untuk ninggalin kamu.”

Dalam gurat wajah kecewa, Rania mendekat padaku, menciumi kening, pipi, kedua kelopak mata, hidung, hingga bibirku perlahan. Ya, seperti yang selalu ia lakukan tiap kali kami alan berpisah cukup lama.

“Aku sayang banget sama kamu. Jaga diri kamu disana. Jangan lupa untuk selalu kabarin aku.”

Ku hapus air mata yang mengalir di pipinya, ku tangkup wajahnya dengan kedua tanganku. “Jangan sedih ya Sayang, aku pasti kembali secepatnya untuk kamu, untuk kita.” Rania tak menjawab, hanya ada lengkungan senyum lelah yang ku lihat di wajahnya.


Paris. Ya, ke Parislah aku meninggalkan Rania sementara. Kota yang sangat cantik. Benar yang dikatakan Rania, harusnya aku ke Paris untuk honeymoon dengannya bukan seperti ini. Datang sendiri untuk alasan pendidikan. Satu tahun enam bulan sudah ke berada di kota ini. Jauh dari Rania sungguh membuatku tersiksa. Tidak hanya rasa rindu yang menjadi penyebabnya namun pertengkaran-pertengkaran yang terjadi antara kami akhir-akhir ini membuatku semakin ingin segera pulang dan memeluknya. Karena seperti yang sudah-sudah, memeluk adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua pertikaian yang terjadi antara aku dan Rania. Ku buka dompetku, kulihat wajah Rania dalam foto yang sedang tersenyum begitu ceria di sampingku. Senyumku mengembang, sebentar lagi. Ya, beberapa jam lagi aku akan menemuinya, membawakan kabar bahagia yang sudah lama kami nantikan bersama. Saat ini aku sedang mengemudikan mobil untuk menuju ke rumahnya. Kurang lebih delapan jam yang lalu aku tiba di bandara. Papa mama sudah menunggu beberapa menit sebelum aku tiba. Mereka menyambutku dengan penuh suka cita, mama pun telah memenuhi permintaanku untuk membelikan cincin yang akan kuberikan pada Rania sebentar lagi. Ya, sebentar lagi Sayang. Tunggu aku.


Setibanya di pekarangan rumah Rania, ada perasaan yang lain dari biasanya. Aku merasa sedikit asing. Warna cat rumah dan pagar yang terlihat berbeda, ditambah dengan beberapa tanaman yang terlihat sudah tumbuh lebih besar. Mungkin ini karena sudah begitu lama aku tak pernah datang kesini. Sudahlah, tak seharusnya ini mengganggu pikiranku. Jantungku berdetak lebih kencang saat ku ketuk pintu rumah Rania. Terdengar suara yang tak asing lagi dari balik pintu. Suara yang selalu membuatku merasa aman dan nyaman berlama-lama mendengarkannya. Oh Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Semua kenangan indah yang telah kami lewati di rumah ini seakan bermunculan kembali dalam benakku.

“Rayan?”
“Hai Sayang! Boleh aku mas..” Belum sempat ku selesaikan kalimatku, Rania menghambur kepelukanku.

“Kapan datang? Kenapa nggak bilang-bilang sih? Aku kangen banget.”

“Tadi malem Sayang, sengaja karena aku mau ngasih kejutan untuk kamu. Bisa kita lanjutin pelukannya di dalam rumah aja?”

“Nggak boleh!” ujarnya sambil menarik tangganku dan mengajakku masuk. Disitulah, aku mulai menceritakan kelulusanku, lalu memasangkan cincin di jari manisnya sambil memintanya untuk menghabiskan sisa waktunya berdua bersamaku. Dengan penuh haru, Rania menangis dan menyanggupi permintaanku. Kami berdua bahagia, karena semua telah sempurna.

Ya, sempurna dalam khayalanku. Sedang takdir tak berkata begitu…

Setelah dengan gundah ku menunggu di balik pintu, aku melihat seorang pria asing dihadapanku. Aku dan lelaki itu saling bertatapan penuh pertanyaan. Kemudian ku dengar suara Rania yang semakin mendekat. Suara yang begitu kurindukan akan mengatakan bahwa ia juga merindukanku.

“Ada siapa Sayang?”

Apa? Sayang? Siapa yang dia maksud dengan ‘Sayang’? Lelaki inikah? Tidak. Kuyakin bukan. Atau mungkin itu bukan suara Rania. Namun lagi-lagi takdir tidak membiarkan bahagiaku tercipta dengan sempurna. Wajah cantik yang begitu kurindukan itu muncul dari balik pintu. Rania begitu cantik, ia mengenakan dress yang kuberikan dihari kita merayakan ulang tahunnya yang ke-22, dua tahun yang lalu. Rania mentapku dengan tidak kalah terkejut.



Tersentak aku seketika
Seakan-akan tak percaya
Saat ku lihat kau telah berdua
Sebelum sampai diriku melepas rindu


“Bisa kamu tinggalin dulu kita berdua?” pinta Rania pada lelaki asing itu. Lelaki itu tersenyum dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata. Rania memang benar-benar menarik tanganku dan mengajakku masuk, namun tanpa pelukan, bahkan tanpa senyuman.

“Maafin aku..” hanya itu yang sanggup ia ucapkan dalam tangis yang semakin lama semakin mengeras. Ku genggam kedua tangannya. Ku lihat cincin itu telah melingkar di jari manisnya.

“Apakah aku terlambat?”


Tak satupun kata terucap
Ketika ku tanya mengapa
Airmata penyesalan mengalir deras
Itu pun tak bisa kembalikan dirimu


“Maaf…” Lagi lagi hanya maaf. Kata yang selalu aku ucapkan saat tak ada yang bisa ku jelaskan pada Rania. Kata itu juga yang kudengar kali ini. Ku peluk tubuhnya dengan sangat erat. Entah mengapa rasanya sangat berbeda, kali ini peluk itu begitu menyakitkan. Ku hapus air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian ku simpan kotak merah berisi cincin itu di telapak tangannya. “Apa ini?” tatapan Rania begitu bingung seolah-olah ada pertanyaan yang tak mampu ia utarakan. Aku hanya tersenyum lemah kepadanya. Ku cium kening, pipi, kedua kelopak mata, hidung, hingga bibirnya perlahan lalu kubisikan, “Aku telah menepati janjiku untuk kembali padamu. Aku sangat mencintaimu Rania, semoga kamu bahagia bersamanya.”

Ku maafkan semua ini
Walau tak ingin lagi ku melihatmu
Ku maklumi ketidaksabaranmu menanti
Menjaga cinta yg ku tinggal sesaat
Sudahlah, lupakanlah
Tak mungkin lagi kau ku miliki


ditulis @nitamarlina dalam http://nitfinity.tumblr.com

No comments:

Post a Comment