Sunday, September 2, 2012

The Withering Love Letter


Dear seorang wanita yang pernah singgah di jiwaku.
Seseorang yang akan selalu ada di setiap hembusan nafasku.

Aku ingin kau membacanya sambil tersenyum, berharap engkau selalu dalam bahagia, meski aku tak di sampingmu lagi.

Aku menghitung detik yang semakin cepat berlalu, hingga akhirnya ada suatu masa dimana kau akan pergi meninggalkanku. Kembali berjalan sendiri memasuki gang rumahmu dan akhirnya, aku hanya dapat menatap punggungmu yang semakin menjauh, berharap sesekali kau menatapku, kudekap.

Tuhan memberikan kita sebuah pertemuan, dimana menjadi awal dari sebuah perjalanan kecil yang tidak mungkin aku lupa sayang. Sebuah perjalanan singkat yang mengubah segalanya, aku belajar untuk jatuh cinta dan menghargai waktu, setiap detiknya, saat berada di sampingmu, aku belajar menjadi laki-laki yang akan selalu siap untukmu.

Sering aku membayangkan kelak kita berada dalam rumah yang sederhana, kau dan aku selalu tertawa, saling menggoda, lalu hening dalam tatapan. Dan akhirnya kita jatuh cinta lagi, seperti yang kita lakukan selama ini.
Aku membayangkan engkau menggendong anakku yang lucu, menaruh tanganku di dahimu dan mengajarinya melambaikan tangan ketika aku hendak pergi kerja.

Lalu sore harinya kau membuatkanku secangkir teh hangat, sambil mencium pipiku. Bahwa engkaulah yang akan senantiasa menjadi rumah, dimana aku akan selalu pulang, bermain dengan anak kita dan seketika itu kau hembuskan segala beban di pundakku.

Ingatkah kau di hari pertama pertemuan kita, saat kita sudah hampir sampai di depan gang rumahmu, tapi aku memilih berputar terlebih dahulu. Tersenyum, kau sudah menebak apa yang ada di pikiranku. Mengobrol tentang hal yang sangat personal, entah denganmu aku dapat memberi kepercayaan. Waktu berjalan begitu cepat, tak sadar ini kelima kali kita memutari taman kota dan kau hanya tertawa di sampingku, sambil menggenggam tanganku. “Aku masih kangen”

Kepada wanita yang pernah singgah di jiwaku, entah sihir apa yang membuatku selalu mencintaimu. Ketika aku terbangun dari mimpi, apa yang aku kerjakan seharian, hingga hendak terlelap, engkaulah yang selalu terlintas di pikiranku. Tapi bagiku engkau adalah mukjizat yang telah Tuhan berikan kepada seseorang yang telah menutup hatinya. Seseorang yang berusaha tidak lagi jatuh cinta, tapi kaulah yang selalu membuatku jatuh cinta di tiap harinya.

Kepada wanita yang pernah singgah di jiwaku, bersamamu adalah hal terindah yang pernah kujalani selama aku menjalani hidup. Aku masih bisa mencium wangi vanili, ketika engkau membelakangiku saat menjemputmu pertama kali. Aku masih mengingat wajah panikmu ketika aku memaksa tuk ke rumahmu, dan kau menungguku di depan rumah, menatapmu sejenak sebelum kau mengusirku karena takut ketahuan. Aku kangen, betapa inginku tuk selalu bersamamu, tak lebih dari sedetikpun.

Aku masih ingat ketika airmatamu jatuh, lalu aku mencoba menghapusnya dengan jemariku. Bahkan ketika engkau sedang kesal, aku hanya ingin menghiburmu. Senyummu, taman bunga untukku sayang.

Masih kuingat ketika kau duduk di sampingku dan mencium punggung tanganku.
“I just love your scent”
“Just my scent?”
“Of course I love you!”
“I love you more!”
“I love you most!”
Merasa telah memenangkan pertarungan, kau mengambil trophy juaranya. Merebahkan kepalamu di bahuku.
“I love you more than you ever know”
Aku pun tersenyum, aku merasa nyaman di sampingmu.

Berkali-kali kita mengucapkan perpisahan, atas waktu yang sangat terbatas namun aku merasa memiliki segalanya. Mungkin untuk sementara garis waktu kita berakhir sampai disini, kau dengan cita-citamu. Aku juga masih belum bisa memberimu sesuatu

Seandainya waktu masih berpihak, mungkin cinta datang tak pernah tepat waktu. Aku tak berani menjanjikanmu apa-apa, namun aku hanya bisa mendoakanmu bahagia.

Aku tahu kelak kau akan berjalan menjauhiku, dimana aku hanya bisa menatap punggungmu. Berharap sekali kau akan melihat ke belakang sejenak, bahwa aku masih disini. Atau mungkin akulah yang akan berlalu, meninggalkanmu dan tak pernah tahu bahwa kau sedang menangis untukku.
“Aku mencintaimu dengan segala yang kupunya, aku mencintaimu dengan segala kesederhanaanku, aku mencintaimu karena kamu”






PS:
I’ve promise to make you a love letter, FA.
Surat ini sudah tertulis sejak kau masih di Surabaya, untuk mengingatkanku bahwa pernah ada seseorang yang sangat mencintainya.




ditulis @dhanzo dalam http://serigalasalju.wordpress.com


No comments:

Post a Comment