Ponselku berdering.
Samar-samar kulihat namamu di layar. Aku bergegas menggunakan kacamata minusku.
Maaf, aku telah membiarkanmu menunggu lama sebelum mengangkatnya.
Bukan. Bukan karena aku terlalu asyik menonton DVD serial korea (seperti yang kukatakan kepadamu) melainkan sibuk memberi perintah pada diriku untuk tetap tenang karena mendadak aku seperti anak kecil yang ingin melonjak kegirangan melihat namamu muncul lagi di layar ponselku.
Pada dering kelima, aku juga masih sibuk mengatur ulang jantungku yang mendadak seperti jantung seorang pelari marathon yang baru selesai mengitari lintasan stadion.
(cinta) satu-satunya yang kubiarkan menggantung di ujung bibir.
(cinta) satu-satunya yang aku rahasiakan darimu.
(cinta) satu-satunya yang selalu kuberikan tanda kurung di hadapanmu.
(cinta) satu-satunya yang kutulis dalam huruf kecil, tanpa cetak tebal.
Bukan karena gengsiku yang lebih tinggi dari langit ketujuh,juga bukan karena rasa malu yang membuatku tidak pernah mau mengaku, namun karena aku terlalu takut kehilangan sahabat terbaikku.. KAMU.
Hujan sore itu, setahun yang lalu, apa kamu masih ingat?
Aku mempercepat langkahku, menyusulmu dengan payung di tanganku,
tidak peduli dengan genangan air yang menelusup ke dalam pori-pori sepatuku,
tidak peduli dengan dingin yang menusuk hingga lapisan kulit terbawahku,
hanya karena lima belas menit sebelumnya, kamu menelepon dan mengatakan terjebak hujan dalam perjalanan menuju rumahku.
“Kamu benar-benar merepotkan” keluhku waktu itu. Lalu kamu tertawa.
Kita basah karena payung itu tidak cukup untuk kita berdua.
Kita mempercepat langkah, berlari, berlomba seperti pacuan kuda.
Kamu tertawa. Aku tertawa.
Dan anehnya, aku bahagia.
Hari itu, pertama kalinya aku tertawa dengan sepatuku yang terendam air dan bajuku yang basah.
Hari itu, pertama kalinya aku menolak mengakui bahwa aku jatuh cinta.
JAHAT! Ini sudah seminggu, jeda terlama kamu tidak memberiku kabar.
Setidaknya kamu bisa meneleponku, kan?
Kemarin malam sebelum akhirnya tertidur, aku memandangi namamu di list speed dial ponselku. Tapi kamu mengenalku dengan baik, kamu pasti tahu gengsiku terlalu tinggi untuk menekan tombol calling. Kemarinnya lagi, aku menghabiskan waktu mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi, sebuah sms dengan kata rindu yang kutujukan kepadamu.
Dan sesuai dugaan awal, semua hanya berakhir di draft ponselku.
And boy, you don’t know how hard my days without you.
I miss YOU :(
Kamu mulai menceritakan kepadaku bagaimana hari-harimu selama seminggu terakhir di Pekanbaru. Sepuluh menit berlalu, senyumku memudar, SAMA SEPERTI DULU, kamu mulai menceritakan lagi hal-hal yang tidak ingin kudengar (bahwa kamu jatuh cinta, bahwa kamu merasa kali ini berbeda, bahwa perempuan itu BLA..BLA..BLA..)
Kamu berkata seolah sedang bergerak maju, memulai dengan sesuatu yang baru dan melupakan cinta lalu.
Perkataan itu menyadarkanku bahwa aku masih berdiri di tempat yang sama sejak lama, tidak pernah beranjak kemana-mana, selalu berjaga-jaga, bertahan mencintai orang yang sama.
You break my heart, you said “Girl, I’m in love with her.”
And every beauty things she did to you, don’t stop and tell me more..
Dejavu. Rasanya seperti mengulang kembali pahit yang dulu..
Loving you is hurt sometimes..
I’m standing here you just don’t buy..
I’m always there you just don’t feel..
Or you just don’t wanna feel?
Pada akhirnya, aku cuma seorang perempuan yang sanggup mengeja “i love you” sesaat setelah menutup teleponmu..
Pada akhirnya (cinta) tetap kubiarkan berada di sana bersama dengan tanda kurungnya..
ditulis @gieFM dalam http://giefm.tumblr.com
No comments:
Post a Comment