ini cerita lima tahunku, tentang tuan putri dan sahabatnya. ya, dari pertemuan pertamaku dengannya, aku sudah memanggilnya tuan putri, hime. mengapa? entah, seperti diperintahkan semesta. seperti dialah yang akan menemaniku melewati sepi, penawar luka kehilangan.
saat beberapa purnama berlalu setelah itu, angin malam menyampaikan sebait syairku, puisi pertamaku untuknya.
“kamu semakna putri, aku tergugu kaku, tapi aku sahi, air mataku mengering, membeku di sudut hati, menelusup patetis, paliatif membawa sepi, berharap kamu sembuhkan lukaku.”
hari-hariku dengannya diisi dengan berbagi cerita, lebih tepatnya, mendengarkan dirinya. karena aku tak pandai mengungkapkan rasa. dan aku lebih suka melihat senyumnya daripada kerut dahinya jika aku menceritakan tentang hidupku, jadi aku memilih diam.
suatu hari dia datang, menyapaku, bercerita tentang hidupnya. ada tetes di sudut matanya. saat aku hendak mengucapkan sesuatu, dia berseru cepat, “jangan tanya aku kenapa ya kalau aku sedang menangis.” aku lantas diam, mengerjapkan kelopakku tanda mengerti.
lima tahun kami seperti ini, setiap pagi bertukar salam dan mengucap selamat tidur setiap malam. hal-hal sederhana, yang menyamankan. aku mulai paham dirinya.
begini, dia manja, sangat. dia cengeng, sangat. kalau siang dia sudah terdiam dan sedikit marah tak membalas ucap, itu mungkin artinya harus segera mengajaknya makan. dia sering mengeluh sakit kakinya, maka jangan ajak dia berpergian dengan berjalan kaki.
ingatkan dia untuk minum air putih, dia malas sekali minum. buatlah dia tertawa, dia suka tertawa. jika sedang marah, jangan berdebat, tunggu sampai dia selesai bicara, baru utarakan. bukan coklat atau abu-abu, dia tak suka kedua warna itu. biarkan dia memilih tempat di mana dia ingin makan atau apa yang ingin ditontonnya. saat dia kenapa-kenapa, diam dan peluklah dia, biarkan dia bersandar di bahu. hal-hal kecil seperti itu.
ya hime, aku masih ingat itu semua. iya, aku.
aku, pohon sakura tua.
yang tumbuh di halamannya. yang berdiri tegak di situ. yang selalu dia peluk dan aku hanya bisa memeluk balik di hatinya. aku, yang menungguinya tertidur atau terbiasa ditinggal tidur olehnya. dia bisa tertidur cepat hanya dengan duduk bersender di batangku. aku sering heran dengan kemampuannya itu. tapi wajah terlelapnya adalah kedamaian, aku luluh di situ.
di setiap hari ulang tahunnya, di januari, saat mulai bermekaran di okinawa. yang kupersembahkan hanyalah sehamparan tikar agar dia bisa berkumpul bersama teman-temannya. dan aku hanya membisik lembut dari kejauhan, “selamat ulang tahun hime.”
dan di setiap musim semi, di bulan april, itu waktuku, saat semua bungaku bermekaran, saat aku bisa memperlihatkan wajah terindahku. kami akan berlama-lama saling menemani di hari-hari itu. sampai musim gugur tiba dan musim terus berganti.
pernah suatu ketika, saat hujan deras turun, dia tetap berteduh di bawahku. padahal aku sudah berkata padanya, “masuklah ke dalam hime, di tempatmu lebih aman.” dia hanya menjawab, “tidak, aku mau di sini, menemanimu, seperti kamu yang sabar menghadapiku. aku ingin merasa hujan yang sama denganmu, bukankah aku tetap aman di bawah rimbunmu.” dia basah sekuyup-kuyupnya. lalu dia meneruskan, “kalau begitu, kamu berjanjilah kepadaku, kamu jangan tinggalkan aku, jangan ke mana-mana ya.” lalu aku melengkungkan rantingku tanda setuju.
kisah ini terlalu panjang bila dituliskan, apalagi kisah ini bukan kisah tanpa pertengkaran. tapi tak perlulah kutuliskan pertikaianku dengannya di sini. baiknya kusingkat saja.
memasuki tahun kelima. aku ini hanya pohon sakura tua. ada masaku untuk tak terus berbunga. di halamannya tumbuh sakura yang lain. mungkin karena bungaku tak mekar seperti dulu lagi, ya, saat aku di masa itu, sekali aku tak bisa membuatnya bahagia, dilupakannya aku.
aku kehilangan, lagi. jangan tanya bagaimana perasaanku, aku hanya sebatang pohon. hanya bisa menggugurkan daun-daunku seperti terjangkit virus tanaman, menggerogoti. seperti itu terus. sampai akhirnya aku layu. dan memutuskan untuk mengakhiri janjiku padanya, melepasnya. lalu di saat terakhir, aku menulis di sehelai daunku untuknya.
“sama-sama kamu selalu membuatku nyaman. berapapun lamanya hitungan waktu, itu hanya sementara, tak ada selamanya. sudah jangan saling melukai, kembalikan kepada semesta, aku titipkan kamu padanya, semesta tahu cara merawat luka yang terbaik. kucukupkan kamu pada doa-doaku. dan biar aku tetap tumbuh di kenanganmu. sampai jumpa, hime.”
tubuhku roboh, sehelai tadi tertimbun di tanah tempat berdiriku, kisahku berakhir, kisah tentang tuan putri dan sahabatnya, kisah sebatang pohon sakura.
suatu saat jika kamu bertemu pohon sakura, duduklah di bawahnya. mungkin itu aku, si pohon sakura. dan akan kuceritakan lengkap tentang kisahku. sambil mendengarkan sebuah lagu yang selalu kusenandungkan untuknya.
~
soba ni ite zutto kimi no egao wo mitsumete itai, utsuri yuku shunkan wo sono hitomi ni sunde itai, utsu no hi azayaka na kisetsu he to tsuredasetara, yuki no you ni sora ni saku hana no moto he. hana no moto he..
i want to stay here watching you smile forever, i want to live each changing moment in your eyes, if one day i could bring you to a serene season to the flowers blooming in the sky like snowflakes. to the flowers.
(hitomi no jyuunin, l’arc~en~ciel)
Ditulis oleh @_kamomil dalam http://patetis.tumblr.com
No comments:
Post a Comment