Saturday, September 8, 2012
Untuk Anakku
Tiga tahun yang lalu, aku resmi bercerai dengan ibumu. hari dimana dua yang berikutnya adalah ulang tahunmu. jangan kau pikir aku tak peduli, karena air yang jatuh dari sudut mataku, tiada lain adalah kesedihan.
Ya, aku berpisah dengan ibumu, tepat dua hari sebelum kau genap berusia lima tahun. usia saat mana kau sungguh tak mengerti arti perceraian. usia saat kau baru lancar mengucap kata “ibu” dan “ayah”.
Dua hari setelah perceraianku dengan ibumu, aku meneleponmu, nak. aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu, dari seberang gagang telepon yang sedang kau genggam dan kau letakkan di telingamu saat itu. aku tau kau yang mengangkatnya, nak. namun bahkan kau tak tahu aku siapa. mungkin saat itu kau tak paham apa itu “ayah”, hanya mengerti bagaimana mengucapnya.
Meneteskan air mata sebanyak mungkin takkan bisa membuatmu mengerti, bahwa aku adalah ayahmu. karena sederas apapun sudut mana ini meneteskan airnya, bahkan aku yang pemiliknya tak bisa mendengar suaranya.
Tahun-tahun masa pertumbuhanmu, aku selalu sibuk dengan kegiatanku sendiri, menenggelamkanmu dari arti kasih sayang seorang ayah. kau kutinggalkan berkeliling kota, tak kubiarkan kau memahami kasih sayang seorang ayah. salahku.
Kini aku tak lagi bersamamu, berada dalam hari-harimu. kau dibesarkan dengan kepincangan, tanpa sosok seorang ayah, pun kasih sayangnya. aku tahu bagaimana rasanya, karena aku juga mengalaminya saat usia enam tahun. bahkan aku baru mengerti apa itu perceraian saat menginjak usia sembilan tahun.
Bukan maksudku untuk membuatmu merasakan apa yang pernah kurasakan, tumbuh pincang tanpa kasih sayang seorang ayah. ini bukan balas dendam, sungguh. aku hanya tak paham bagaimana menjadi seorang ayah, kala itu. karena sekali lagi,pun aku tak merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah. sekali lagi ini salahku, sungguh
Kini usiamu delapan tahun, sudahkah kau mengerti apa itu perceraian?
Kini usiamu delapan tahun, apakah kau mengerti apa itu ayah?
Kini usiamu delapan tahun, mungkinkah kau merindukan diriku?
Ibumu, apa ia menceritakan tentangku? apa yang ia ceritakan? aku yang berada jauh darimu, sejak dulu. bahkan sejak aku masih menjad suami ibumu.
Pengetahuan apa yang kau dapat tentangku, nak? siapa yang menceritakan tentangku kepadamu? adakah sedikit cerita yang baik mengenaiku?
Ketahuilah, nak. aku selalu memikirkanmu, menjagamu dengan doa-doaku kepada-Nya. setidaknya dengan mendoakanmu, menjadi bukti bahwa aku tak terlalu menghianatimu sebagai ayah.
Kini kau sudah fasih berbahasa, nak. aku selalu menantikan telepon darimu. kini kau sudah bisa bepergian sendiri, kurasa. aku menantikan kehadiranmu, sepanjang diriku masih berada.
Suatu hari nanti, kau akan memahami siapa aku. sebenar-benarnya diriku. bukan siapa aku dari bualan-bualan segelintir orang disekitarmu.
Kau akan mendapati arti diriku sebagai ayahmu, karena ayah akan tetap menjadi ayah, sampai kapanpun.
Maafkan ayah, nak. sungguh, ini semua salahku.
Aku menantikanmu, teleponmu, kehadiranmu.
ditulis @ilhaMaharddhika dalam http://ilhamaharddhika.wordpress.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment