Sunday, September 2, 2012

Yang Tak Termaafkan


Dear Papa,

Aku pergi.

Terlalu menyakitkan jika aku terus di rumah ini. Bukan saja karena prinsip dan pandangan tentang hidup kita yang berbeda, tapi ini memang untuk kebaikan kita. Aku yakinkan papa bahwa aku bisa mengurusi diriku sendiri.

Aku tidak usah dicari. Papa jaga diri yaa… aku masih akan mengunjungi makam mama suatu saat…

Aku tidak janji untuk bisa memaafkan papa, aku pun tidak berjanji untuk bisa menyayangi papa lagi. Aku tidak tahu.

Salam,

Vania

Empat belas tahun itu waktu yang relatif lama untuk seorang anak tidak mengunjungi satu-satunya orangtua yang tersisa, ayahnya. Vania, 34 tahun, perempuan mandiri yang bekerja di industri kreatif ibu kota. Semua orang di sekitarnya akan setuju jika “perempuan tangguh” adalah kata yang cocok untuk menggambarkan Vania seutuhnya. Terlampau sibuk dengan dunianya hingga ulang tahunnya sendiripun lupa. Tapi tidak tahun ini.

Tepat di hari ulang tahunnya, untuk pertama kali dalam hidup selama 10 tahun bekerja, ia mengajukan cuti. Teman-teman kantornya cukup heran dan bertanya-tanya. Tak tanggung-tanggung, Ia mengajukan semua cutinya yang sudah berjumlah 3 bulan.

“Mau ke mana Van?” tanya manager HRDnya.

“Liburan Bu, sudah saatnya aku mengambilnya” jawab Vania singkat. “Baiklah, tapi apakah kamu akan kembali?”

“Aku pasti kembali Bu, aku sudah membuat file rapi untuk pengganti sementara pekerjaanku nanti Bu.”

“Selamat berlibur” ujar ibu manager.

Vania tersenyum lebar dan segera berpamitan kepada seluruh teman kantornya.

Kereta api yang dinaiki Vania melaju kencang. Sesekali ia tertidur namun lebih sering ia manatap jauh ke luar jendela kereta. Orang yang duduk di samping kursinya adalah seorang laki-laki paruh baya yang lebih banyak tidur sepanjang perjalanan. Melihat orang itu, tiba-tiba ia teringat ayahnya. Sosok yang ia putuskan untuk tidak diingat-ingat lagi semenjak kepergiannya ke ibu kota. Bahkan kepulangannya pun bukan karena ia ingat ayahnya, melainkan, ia ingat untuk mengunjungi makam ibunya. Segera ia tepis pikiran tentang ayahnya tersebut dan kembali tidur.

Dengan ransel yang menempel di pundak, Vania berjalan menyusuri sungai kecil dan jalanan setapak. Makam ibunya memang terletak cukup jauh dari perkampungan. dan bukan di pemakaman umum. Makamnya terletak di bukit yang dimiliki ibunya, warisan dari neneknya dulu. Sedikit lagi sampai ke tempat tujuan, langkahnya terhenti. Ia melihat sosok seorang pria tua memegang sapu dan tampak sedang membersihkan makam. Namun, “Sebentar…. jika benar itu papa, harusnya tidak setua itu” ujar Vania dalam hatinya.

Perlahan ia menghampiri pria tersebut, samar-samar ia mendengar ternyata pria itu sedang menangis. Ia beranikan diri untuk menyapa. “Maaf, kenapa Anda menangis di makam ibu saya? Anda siapa ya?” tanya Vania sambil menepuk lembuk bahu pria itu. Pria itu tampak sedikit kaget sambil menyeka air matanya, ia perlahan menjawab. “Oh, ini makam ibunya, neng? Maaf, tapi saya tidak sedang menangisi makam ibunya neng, tapi tiap kali saya sedang bersihin makam ini, saya suka nangis baca tulisan di sebelahnya.” Betapa kagetnya Vania ketika ia melihat di sebelah makam ibunya terdapat makam lain yang tidak tertutup rumput, melainkan seperti lempengan nisan sepanjang makam. Nisan tersebut bukan berisi informasi siapa yang meninggal, kapan, dan lain-lain. Melainkan seperti sebuah surat dan surat tersebut ditujukan kepadanya.


Dear Vania,

Maafkan Papa.

Maaf karena harus meninggal sebelum kamu sempat mengunjungi makam mamamu. Sehingga papa tidak sempat meminta maaf langsung kepadamu. Setiap hari, tanpa kecuali, semenjak kepergianmu, papa datang ke makam ibumu, siapa tahu kamu memang mampir.

Papa sadar, papa terlalu keras kepala saat itu, memaksakan kehendak papa untuk menikahkanmu segera. Papa hanya tidak ingin melewatkan kebahagiaan melihatmu menikah sebelum kematian datang. Iya, papa egois, papa tahu itu, nak!

Papa menyadarinya tepat setelah kamu pergi.

Bangganya papa melihat berita tentang prestasi bekerjamu hingga mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat internasional. Itu semakin membuat papa menyadari ternyata kebahagiaan papa yang sebenarnya adalah ketika melihatmu bahagia untuk apapun yang kamu lakukan.

Maafkan papa ya Vania…. Semoga kamu bisa memaafkan papa dan kembali menyayangi papa seperti kamu menyayangi mamamu…. Teruslah berkarya anakku… kebahagiaanmu adalah kebahagian papa juga…

Papa selalu sayang padamu.

Nafas Vania seakan terhenti. Bulir-bulir air yang tadinya hanya menetes berubah deras keluar dari matanya. Ia berlutut dan memeluk nisan seraya berbisik

“Aku sudah maafkan papa tepat setelah aku pergi…”















ditulis @broadddway dalam http://notsomenotsoyou.tumblr.com

No comments:

Post a Comment