“Teman ada yang ingin kutanyakan
tentang getaran yang kini kurasakan
ku selalu berdebar dan jantungku berdetak kencang
setiap kali kulihat dirinya”
Aku melihat kamu pagi ini, bukan di saat kamu libur untuk sebentar saja pulang ke kota asal, bukan pula saat kita memutuskan untuk bertemu dan sedikit bernostalgia. Aku melihatmu pagi ini, di langit-langit kamarku, sebagai yang ingin pertama kali kutemui ketika kita mulai menjalani pergantian hari lagi.
Bukankah memang selalu seperti ini persoalan yang dihadapi ketika memilih untuk jatuh cinta secara diam-diam? Aku bukan pengagum rahasia terhebat. Hanya saja pengunci mulut yang patut dikasihani dunia. Persahabatan yang sudah terjalin selama kurang lebih 3 tahun, adalah yang selalu menjadi alasanku untuk menyembunyikan segalanya.
“kuakui ku juga pernah merasa
jarak bergejolak dan sesak di dada”
Lalu bagaimana rasanya jika harus mencintai secara diam-diam, namun kesempatan untuk bisa bertemu juga tidaklah begitu menjanjikan? Selain di dalam mimpi, kesempatan untuk menemuimu hanya bisa kudapatkan di sebatas dunia maya. Itu juga kalau kamu berkeinginan mengungkapkan sesuatu ke dalam kata-kata. Kalau tidak, aku bisa apa? Paling hanya bermain-main dengan khayalan semata.
“menahan amarah dan tak bisa berterus terang
ungkapkan satu kata yang tersimpan…Aishiteru”
Tak hanya itu, seringkali egoku berdebat dengan pikiranku sendiri. Di kepala, ada banyak macam cara untuk mengungkapkannya kepadamu. Namun, selalu ada yang menolaknya dan berkata tidak.
“ingin kukatakan aku jatuh cinta padamu”
Tapi aku takut kamu tidak merasakan hal yang sama. Lebih dari itu, aku takut kamu hanya akan semakin menjauh. Aku tahu ini cara yang cukup egois. Tanpa pernah memberitahumu, aku bermain dengan anganku sendiri, mengucap berkali-kali betapa kamu teramat berarti.
“yang kuinginkan kau juga inginkan diriku
jadikan mimpi-mimpiku bukan bayang semu”
Pada akhirnya, aku harus mampu menerima, bahwa segala tentang kita hanyalah mimpi-mimpi indah saja. Entah akan sampai kapan, namun semoga apa yang telah kusimpan tidak akan berakhir pada penyesalan. Mungkin nantinya, kita akan bersama atau kamu malah akan bersama dia yang sudah digariskan di masa depan sana. Memang begitu nasibnya mencintai secara diam-diam, bukan?
Teruntuk dia yang mungkin sampai saat ini belum tahu, kamu teramat istimewa dalam hidupku.
ditulis @estipilami dalam http://estipilami.wordpress.com
No comments:
Post a Comment