Saturday, September 15, 2012

Aku dan Merah Putih


“HORMAAAAAT GRAK!” Semua orang mengangkat tangan, menyimpan telapaknya di pelipis kanan masing-masing sesaat setelah pemimpin upacara berteriak sekuat tenaga dengan nada dan intonasi yang sudah dilatih sedemikian rupa. Lagu Indonesia Raya pun kemudian dimainkan secara bersemangat oleh tim marching band.

Aku bersama 44 orang siswa yang terkumpul dari beberapa SMA terpilih di kotaku, sudah sekitar tiga minggu mendapatkan pelatihan. Kami merupakan pasukan pengibar bendera upacara hari Kemerdekaan Nasional pada tanggal 17 Agustus 2012 mendatang di alun-alun kota.

Aku ditunjuk sebagai danton, komandan peleton yang merupakan salah satu posisi  penting dalam pasukan karena semua komando ada pada diriku.

Tiga minggu aku lewati dengan senang hati. Meski tidak jarang rasa capai menghampiri, tetapi aku bangga, karena hal ini merupakan tugas negara.



13 Agustus 2012

Pagi terasa lebih berat dibanding biasanya. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak benar dengan diriku. Badanku terasa panas, keringat dingin tidak berhenti mengucur, dan kepalaku terasa begitu berat.

Satu jam lagi latihan akan dimulai. Aku tertatih menuju kamar mandi asrama. Tak kuhiraukan rasa sakit yang kuderita. Aku ingin tetap latihan.

***

Sore-sore usai latihan. Aku kehilangan konsentrasi. Menyadari bahwa kondisi tubuhku semakin tidak sehat, pikiranku dipenuhi oleh rasa takut. Menjadi pasukan pengibar bendera adalah mimpiku, hal inilah yang menyebabkan aku merahasiakan kondisiku dari orang lain. Aku takut jika ada orang lain yang tahu, posisi dantonku akan digantikan.



14 Agustus 2012

Di tengah teriknya sinar matahari, aku tetap berusaha untuk berdiri tegak, berteriak dengan lantang, dan bergerak dengan langkah dan patahan yang pasti. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa aku kuat. Aku seorang danton, danton tidak boleh lemah. Namun kemudian kedua mataku tiba-tiba seperti kehilangan fungsi. Pandanganku kabur dan seketika aku merasa seperti melayang.



15 Agustus 2012

Mataku perlahan terbuka karena mendengar suara tangisan. Kutengok ke samping, terlihat seorang perempuan paruh baya, ibuku. Disampingnya ada seorang lelaki yang kukenali sebagai ketua tim pelatih pasukan pengibar bendera, Pak Burhan.

Samar-samar kudengar percakapan antara mereka berdua.

“Ini musibah bagi kita semua, Bu. Kami mengerti, tapi kami terpaksa harus menggantikan Pras dengan siswa yang lain sebagai danton. Kami tidak ingin memaksakan.”

“Iya, Pak. Saya menyesal dengan kejadian ini. Saya tidak menyangka Pras akan mengalami typus.”

Aku terkesiap. Aku baru menyadari apa yang terjadi pada diriku, ternyata semalaman aku tidak sadarkan diri.

“Bu…” Suaraku tertahan.

“Pras, kamu sudah bangun, Nak?” Dengan segera Ibu menghampiriku.

“Izinkan Pras tetap ikut pengibaran, Bu. Ini mimpi Pras. Pras sudah berusaha dan berjuang untuk bisa sampai seperti ini.”

“Nak, tapi kamu,”

“Bu, Ibu sayang Pras, kan?” Aku terisak. “Pak, Bapak percaya kan kalau Pras bisa?” Aku merajuk kepada Pak Burhan.

Tangis Ibu pun tumpah di dadaku. Aku menatap Pak Burhan dengan tatapan memelas. Ijinkan saya, Pak…!

Ibu dan Pak Burhan saling bertatapan. “Ibu akan berbicara dulu dengan dokter.”



16 Agustus 2012

Malam ini merupakan malam pelantikan. Aku datang ke aula kantor Pemerintah Kota ditemani Ibu.

Teman-teman memandangku haru.

“Hei, aku baik-baik saja.” Ucapku sambil tersenyum kepada mereka.

***

Upacara pelantikan dimulai. Kami mengikuti lafalan sumpah yang dibacakan oleh Bapak Wali Kota. Kemudian masing-masing dari kami menciumi bendera merah putih. Tibalah bagianku, aku memegang ujung bendera dengan erat. Aku tak kuasa menahan air mata. Ini semua untukmu, Merah Putih



17 Agustus 2012

Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi kami, 45 siswa dari sekolah terpilih di kota ini. Peci hitam beraksenkan pin garuda, pakaian putih-putih, dan sepatu PDH membalut tubuh kami. Semua terlihat gagah.

“Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya” suara pembawa acara menggema. Tidak pernah kurasakan rasa tegang seperti ini sebelumnya.

Aku memberi isyarat kepada pasukan untuk segera bersiaga. Setelah semua dirasa siap, aku memberi komando dan kami mulai memasuki lapangan.

Suara hentakan yang ditimbulkan oleh langkah kami menggema memenuhi alun-alun lapangan. Decak kagum mengiringi setiap doa dari setiap orang yang berada di sini.

***

Tiga orang siswa laki-laki sedang berjibaku di bawah tiang bendera, mengikat tali bendera ke tali tiang sedemikian rupa. Sempat kulihat wajah cemas dari Bapak Wali Kota yang bertindak sebagai pembina upacara.

“BENDERA SIAP!” Salah satu dari mereka dengan tegap membentangkan bendera.

“KEPADA BENDERA MERAH PUTIH HORMAAAAAT GRAK!” Pemimpin upacara memberikan aba-aba. Lagu Indonesia Raya pun menggema mengiringi kenaikan Bendera Pusaka.

Aku mengangkat tangan, memberikan hormat setinggi-tingginya kepada Sang Merah Putih. Namun tiba-tiba….. Tidak, tidak. Apa ini? Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman menyerang tubuhku, persis seperti beberapa hari yang lalu. Mataku berkunang-kunang dan panglihatanku tidak teratur. Sekuat tenaga aku berusaha berkonsentrasi. Ya Tuhan, sebentar lagi. Jangan sampai terjadi hal yang tidak kuinginkan.

“TEGAAAAAAK…” Belum sempat aku mendengar pemimpin upacara menyelesaikan aba-abanya, tanganku sudah jatuh terlebih dahulu, lutuku lemas, dan aku kembali melayang. Hanya suara riuh yang kudengar, lalu… hilang.



18 Agustus 2012

Aku berdiri di antara dua pohon besar yang sudah tidak rindang. Daun-daunnya berjatuhan meninggalkan dahan dan ranting yang nampak kehilangan.

***

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku

Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Semilir angin melantunan sebuah lagu lirih sebagai tanda salam perpisahan. Orang-orang tertunduk merapal doa. Mataku lurus ke depan, menatap Ibuku yang sedang terisak sambil menyibak kain berwarna merah putih serupa bendera yang menutupi keranda jasadku.


ditulis @siapapun_ dalam http://siapapun.tumblr.com

No comments:

Post a Comment