Sunday, September 2, 2012

Day 1: Salah Sangka


“..and when it rains
will you always find an escape?
just running away
from all of the ones who love you, from everything..”

Saya sakit kepala.
Sakit sekali sampai air mata bercucuran tanpa perlu diminta. Sudah mencoba menelan berbagai jenis obat sakit kepala, namun sakitnya tidak berhasil hilang. Kepala saya tetap terasa seperti terhimpit diantara dua batu kali yang sangat besar. Aduh.
Saya kedinginan.
Tubuh saya menggigil, tak peduli sudah berapa lapis baju hangat dan selimut membungkus. Hawa dingin terus menusuk rusuk. Teh hangat yang beberapa saat lalu coba saya buat, cangkirnya pecah berkepingan. Air panas tumpah, menyisakan bekas melepuh di jemari tangan saya.
Saya menangis. Terus menangis dan belum tahu kapan bisa berhenti.
Saya menangis sejak kemarin.
Oh, bukan.
Sejak minggu lalu.
Hmmm. Tidak.
Sepertinya sebulan yang lalu saya sudah mulai menangis.
Atau setahun yang lalu?
Atau jauh sebelum itu?
Ah, siapa yang peduli.
Jika ada yang peduli, tak mungkin saya masih menangis sampai detik ini. Jika ada yang peduli, tak mungkin sejak awal ada alasan bagi saya untuk menangis.
“..you made yourself a bed
at the bottom of the blackest hole..”
Saya sudah tak tahan lagi.
Jika tidak ada yang pedulikan saya, untuk apa saya tetap menahan rasa sakit? Toh tak akan ada bedanya jika saya ada atau saya menghilang. Malah justru beban mereka mungkin akan berkurang setelah saya menghilang.
Baiklah.
“..so why can’t you stay just long enough to explain?”
Saya melihat tubuh saya terbaring kaku di sudut kamar sempit itu. Banyak orang di sekitar. Banyak sekali. Namun hanya ada satu diantara mereka yang sudi memeluk tubuh saya sambil menangis. Saya bisa melihat jelas air matanya jatuh menetes di lantai keramik yang kusam. Saya hitung satu per satu. Seperti menghitung tetesan air yang membasahi jendela saat hujan besar datang. Sulit.
Itu air mata kamu, Aldila.
Maafkan saya yang harus meninggalkan kamu dengan cara seperti ini. Saya tahu, saya berhutang banyak penjelasan.
Maaf.
Saya pikir kamu tak pernah peduli. 






ditulis @idrchi dalam abcdefghindrijklmn.tumblr.com

No comments:

Post a Comment