Peluhku bercucuran. Deras. Seminggu belakangan mentari begitu terik, panas sekali. Langit juga tampak kebiruan dan hanya dihiasi beberapa gumpalan awan, tak terkeculi pagi ini. Mentari lagi dan lagi kembali mencumbuku, menambah jejak-jejak kemerahan di beberapa bagian kulitku. Gatal, terutama di sekitar leher. Seminggu belakangan pula, aku bulak-balik menempuh perjalanan puluhan kilometer dari kediamanku di suatu dusun terpencil di pinggiran kota Binjai menuju kota Medan. Berjuang melawan sengatan mentari dan debu di jalanan, berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum yang lain, mengantar amplop-amplop kuning kecokelatan dan mengikuti sesi interview dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Harus kuakui rata-rata sih berujung dengan kekecewaan.
Ya, aku seorang pengacara sekarang, alias pengangguran yang banyak acara. Aku memutuskan untuk resign dari perusahaan sebelumnya dikarenakan beberapa alasan. Aku ingin merasakan suasana kerja yang baru, tidak munafik salary yang lebih menjanjikan pastinya. Awalnya sih enggak begitu mempermasalahkan gaji, orientasiku lebih ke mencari pengalaman kerja. Tapi, semakin ke sini, di tengah himpitan perekonomian keluarga yang kian sulit, wajar saja pikirku. Bayangkan saja, sudah hampir 4 tahun bekerja di perusahaan yang kabarnya bonafit HANYA digaji kurang lebih sebesar 2 juta rupiah per bulan, KOTOR. Sedangkan, kebutuhan hidup semakin meningkat dari hari ke hari, belum lagi biaya-biaya lain yang harus aku tanggung sendiri (bersama orang tua) seperti: cicilan biaya kuliah, biaya angsuran motor, dan sebagainya. Berat sekali. Pandai-pandai mengatur keuangan saja tak cukup.
Di mana hati kalian bapak dan ibu pimpinan? Hanya janji-janji palsu dan harapan kosong yang selalu kalian berikan. Pada akhirnya juga kalian-kalian ‘yang di atas’-lah yang selalu mendapat limpahan pundi-pundi berlebih.
Kapan giliran kami? Kapan?
Kalian hanya tahu menuntut kami untuk terus meningkatkan kinerja, tapi kesejahteraan kami saja tidak kalian perhatikan!
Persoalan ini juga melanda rekan-rekan kerja di golongan yang sama denganku. Namun, tidak seperti pilihanku. Mereka lebih memilih bertahan. Alasan mereka klasik, susah mencari pekerjaan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak dalam kondisi seperti sekarang.
Ya, itu yang sedang kualami, belum juga mendapat pekerjaan sampai sekarang. Ada sebuncah penyesalan…
Aku bukan bermodal nekat atau pun sok hebat resign tanpa ‘pegangan’ terlebih dahulu. Sebelumnya, sudah kulayangkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan yang dari jauh-jauh hari sudah kuincar. Namun, apa daya, tak ada satu pun panggilan interview yang menghampiriku. Salahkan nasib? Selain itu, adakah alasan-alasan lain yang membuatku ingin mengundurkan diri? Jawabannya, ada. Aku kurang suka dengan sifat, perilaku, dan etos kerja atasan dalam divisiku, serta ‘drama-drama’ a la telenovela yang terjadi di lingkungan kantor.
***
Jamku menunjukan pukul 11.50 siang. Baru saja aku keluar dari ruangan interview di sebuah bank yang berlokasi di Jalan Zainal Arifin. Empat puluh lima menit di dalam ruangan itu terasa begitu lama. Dan bisa ditebak, aku keluar menelan kekecewaan. Sepertinya tak akan ada interview lanjutan. Aku sangat kelaparan sekarang. Cacing-cacing di perutku sudah “berdemo” supaya diberi asupan makanan, mengingat diriku hanya makan sehelai roti tawar yang diolesi margarine dan ditaburi sedikit gula untuk sarapan pagi tadi dikarenakan buru-buru sudah harus sampai ke lokasi sebelum pukul 10.00. Lagian, tanggung juga kupikir jika harus pulang, mengingat perjalanan pulang menuju rumahku memakan waktu yang cukup lama dan aku tak mau sakit maag ini semakin memburuk. Jadi, kuputuskan untuk singgah ke mall yang tak jauh dari sini untuk makan siang dan berjalan-jalan sebentar. Refreshing.
Dalam perjalananku, pikiranku mengajak untuk berkontemplasi , menyusuri dan membongkar kembali ‘file-file’ yang tersimpan rapi dalam laci-laci ingatan di dalam batok kepalaku, tentang Interview-interview lalu yang tak kunjung menunjukkan titik terang, tentang masa-masa bahagia dan kelam yang telah kulewati, tentang nasib dan masa depanku kelak, tentang orang-orang yang lalu lalang dalam hidupku, tentang orang-orang yang kucintai, kakak, adek, bapak, ibu… Dua orang yang terakhir kusebut membuat mataku mendadak berkaca-kaca. Aku… Aku belum menunjukkan baktiku yang sebenarnya pada mereka. Aku belum mendapat pekerjaan yang bisa membahagiakan mereka, membanggakan mereka.
Aku frustasi…
Kenapa mereka menolakku?
Kesampingkan dulu urusan fisikku yang standar ini. Di umur yang masih tergolong muda, yakni 23 tahun, aku mempunyai ‘bekal’ pengalaman bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkenal. Dan sekarang aku telah mengantongi ijazah Strata 1 dari salah satu perguruan tinggi yang cukup bergengsi di kotaku. Jadi aku bukanlah fresh graduate biasa, skill dan kinerjaku tak perlu diragukan lagi. Aku cukup percaya diri dengan ‘modalku’ ini. Namun, sepertinya apa yang kumiliki belum cukup bagi mereka. Belum lagi dijejeli pertanyaan-pertanyaan luar biasa saat sesi interview.
“Dengan usaha orang tuamu sekarang, apa bisa menghidupi kalian?”
Pertanyaan bodoh yang mungkin tidak perlu kujawab. Terus terang aku cukup emosi, tapi biar kelihatan sopan, aku cuma memasang senyum yang terpaksa, dan beliau mungkin juga mengerti apa maksud dari senyumku. Terus…
“Kamu punya saudara kembar cewek? Pernah cemburu gak sih kalau kalau dia punya pacar?”
Pertanyaan ajaib lainnya. Ngapain juga aku cemburu kakakku punya pacar? Saya bukan incest seperti bapak kok. Ingin kujawab seperti itu, tapi yang kulakukan hanya kembali mengulas senyum palsu dan menjawab satu patah kata saja,”enggak.”
Hinaan-hinaan lain yang menjurus ke penampilan fisik juga cukup membuatku sakit hati. Beliau mengatakan bajuku kurang rapilah, tidak diseterikalah. Aku cuma diam, dan sekali lagi mengulas senyum palsu. Ah… kujelaskan panjang lebar pun ke bapak ini hanya akan sia-sia. Beliau mana mau mentolerir keadaanku. Kalau pun kuniatkan untuk bercerita, beliau mungkin juga tak sudi mendengar perjuanganku untuk sampai ke sini.
***
Pertanyaan-pertanyaan lain kini kembali bergumul dalam pikiranku. Lebih banyak...
Sebegitu tinggikah kualifikasi perusahaan-perusahaan sekarang terhadap karyawan-karyawan barunya?
Sebegitu ketatkah kompetisi dalam dunia kerja saat ini?
Mungkinkah hal-hal itu yang mengakibatkan banyaknya pengangguran sepertiku?
Entahlah…
Jutaan manusia di Indonesia kini menganggur, dan sebagian besar dari mereka adalah yang menyandang gelar mahasiswa, termasuk aku. Menyedihkan sekali.
Lantas di manakah visi dan tujuan perusahaan-perusahaan dalam membantu program pemerintah mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia? Buktinya saja yang lebih ‘berilmu’ masih banyak yang menganggur…
Peluhku kembali bercucuran. Semakin deras. Mentari sedari tadi menggigit kulitku yang sedang menunggu angkutan umum bernomor 138, memaksaku untuk menggaruk kulit di sekitar leherku yang kemerahan. Perih sekali. Kulirik sejenak jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Saat-saat seperti, seingatku , aku sedang giat-giatnya bekerja, diterpa AC kantor yang enggak dingin-dingin amat tapi cukup menyejukkan, memesan cemilan sore berupa gorengan tahu isi, tempe, risoles, martabak telur atau cokelat, atau cemilan lainnya pada OB kantor kami yang kupanggil Bang Min, kemudian ngeteh sambil bekerja dengan santai di dalam ruanganku, menunggu pesanan tiba di meja kerjaku. Kesederhanaan yang sangat kurindukan, namun tak akan terulang.
Lima belas menit berlalu, akhirnya angkutan yang kutunggu tiba juga. Tidak sepadat yang kubayangkan. Kemudian kunaiki dan kutemukan tempat duduk kosong di pojokan belakang dekat jendela. Spot favoritku. Kukeluarkan ponsel Blackberry yang akhir-akhir ini jarang kuhiraukan dari tas selempangku, kuaktifkan untuk melihat apakah ada pesan singkat, broadcast message, atau panggilan masuk untukku. Dan hasilnya nihil. Tak ada yang mencariku rupanya, kasihannya diriku…, batinku disertai senyum yang mengembang di bibirku. Senyum getir…
Kusumbatkan earphone di kedua lubang telingaku. Ku-shuffle lagu dalam ponselku, sejurus kemudian nama Miley Cyrus dan lagunya yang berjudul The Climb tertera di layar ponselku. Entah suatu kebetulan atau tidak, yang jelas lagu ini begitu berarti bagiku. Lagu yang sangat memotivasiku, cocok sekali dengan keadaanku saat ini. Aku terpuruk.
Beribu-ribu terima kasih kuhaturkan kepada orang-orang yang telah berjasa menghadirkan lagu ini ke dunia. Mendadak semangatku seolah di-charge kembali. Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Kupasrahkan nasibku padaNya. Ledakan emosi mengharuskanku menyeka hangat di sudut mataku. Aku tak malu dilihat penumpang yang lain. Aku tak peduli. Kembali kubetulkan sandaranku, kini agak menyamping, bersisian dengan kaca. Pandanganku menyapu jalanan, jalan pulang yang akan kulalui lagi keesokan harinya; mobil-mobil yang lalu lalang. Demikian juga dengan sakit hati, amarah, kekecewaan, penyesalan yang tadinya berkecamuk kini menguap bersama rumpi-rumpi penumpang, teriakan dan umpatan sopir-sopir angkot, bebunyian klakson motor, asap-asap hitam dari knalpot kendaraan, melekat dan bersanding dengan emisi karbon lainnya pada ozon di lapisan troposfer. Hanya menyisakan aku dan mimpi-mimpi besarku, terbius dalam buaian lagu.
But I… I gotta keep trying
Gotta keep my head held high
There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose
Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb…
(Miley Cyrus - The Climb)
Aku tak boleh patah semangat, aku harus bangkit!, batinku sekali lagi. Mungkin hari ini aku hanya tidak beruntung, tapi esok pasti lebih baik. Kuucapkan berulang-ulang dalam hatiku. Berulang-ulang...
Dunia belum berakhir.
Kudedikasikan tulisan ini kepada jutaan pengangguran di Indonesia, khususnya yang menyandang gelar mahasiwa. Kita berhak mendapat pekerjaan yang layak. Tetap semangat dan pantang menyerah!
Medan, 08 Agustus 2012, 14.54 WIB
Ditulis @PraqueJones dalam http://praquejones.blogspot.com
No comments:
Post a Comment