Thursday, September 6, 2012

First Love


Sore itu aku memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe kecil untuk ‘meminjam’ koneksi wifinya, 300 meter dari kantor klienku. Koneksi internet di sana buruk, katanya sedang ada perbaikan pada server. Aku bisa membayangkan email kantor akan membludak ketika login nanti.

“Chocolate mint blended, ya, Mbak. Oh iya, username sama password wifinya apa ya?” ujarku pada waitress di cafe tersebut. Ini kali pertama aku datang ke sini, padahal sudah beberapa kali aku bolak-balik kantor klien untuk urusan meeting.

“Usernamenya: Cafe Milan, passwordnya: cappucino123, ya, Mbak“ jawab waitress

“Ok, thanks ya, saya coba login dulu”

Sial, koneksinya lambat. Terbukti setelah membuka beberapa situs social media di browser dan account email di outlook, masih dalam progress.

Suasana di cafe itu cukup ramai, mungkin karena waktunya mendekati jam pulang kantor. Sembari menunggu pesanan datang dan koneksi internet bersahabat, mataku menjelajah ke seisi cafe. Interior cafe didesain secara minimalis, didominasi warna merah, hitam dan putih, memanjakan mata pengunjung seperti halnya yang aku rasakan. Besok-besok kalau meeting ke tempat ini lagi saja deh.

Mataku kemudian menangkap sosok seorang pria yang baru saja masuk ke dalam cafe. Pria itu nampak tidak asing bagiku. Dia kemudian duduk di arah jam 11 dariku. Ada 3 meja di antara kami. Posisi yang bagus untuk tidak-terlihat-mengamati atau bertatapan langsung dengan objek yang diamati. Ah, tetiba perutku seperti digelitik. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

     I feel like walking
     do you feel like coming
     I feel like talking cause
     it’s been a long time

Ah ya.. Pantas saja aku merasa dia tidak begitu asing. Dia adalah kamu yang pernah hadir di dalam kehidupanku, empat tahun lalu. Dia cukup banyak berubah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Bagaimana mungkin aku lupa dengan pria yang menjadi pacar bahkan cinta pertama di dalam kehidupanku? Terlebih lagi, ia masih mengenakan jam pemberianku di tangan kirinya.

     you’re always so pale
     but something has changed
     you’re almost a man

Dulu, badanmu kurus. Wajahmu mulus. Aku sering bersikeras bahwa kita ini terbalik, aku prianya dan kamu adalah wanitanya. Sekarang, badanmu berisi, perutmu lebih berisi lagi. Hehe. Ada jambang halus di wajahmu. Gaya berpakaianmu belum juga berubah, masih suka mengenakan kemeja. Kali ini kamu mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang. Aku ingat, setiap kali aku bilang: “Pake kaos aja sih, Ay, rapi bener cuma mau ke swalayan doang” dan kamu selalu menjawab: “Kaos itu buat di rumah, bukan buat bepergian” atau “aku pengen selalu keliatan ganteng kalo jalan bareng kamu, makanya aku selalu pake kemeja atau polo shirt, bikin aku lebih pede, aku jadi gantengan kan, yank?” Kujawab pernyataanmu dengan anggukan.

     long time no see
     long time wondering
     what you were doing
     who you were seeing
     I wish I could go back to it

Aku tersenyum mengingat hal-hal yang pernah kita alami dulu. Empat tahun yang lalu. Kamu, pria pertama yang mengajariku bagaimana berkomitmen. Apa itu cinta, apa itu setia. Kamu, selalu berusaha ada kapanpun aku butuhkan, bahkan kerap memarahiku jika kamu bukanlah orang pertama yang kumintai bantuan. Kamu memiliki pesona menjerat hati banyak wanita tapi tidak pernah menggunakannya ketika kita sudah pacaran. Kamu yang mengajari aku ciuman, kamu yang memberitahu hangatnya sebuah pelukan. Kamu yang mengerti bagaimana cara menghadapi aku yang sedang emosi. Kamu yang menjaga dan memperlakukanku bak putri raja. Ah, bahkan mengingat-ingat apa kekuranganmu pun aku tidak bisa.

“Keluargaku nggak mau kalau nanti pasanganku beda keyakinan sama aku. Rumah tangga tuh ibaratnya kapal, dalam satu kapal nggak bisa ada dua nahkoda. Akupun nggak bisa menemukan keyakinan pada apa yang kamu yakini.” ujarmu, suatu hari.

“It’s our anniversary, can we skip this conversation and enjoy the day?” ujarku setengah merajuk.

“Sudah menginjak tahun ke-3, Sayang, mau ditunda sampai kapan? Sekarang atau nanti, pembicaraan ini akan ada, nggak bisa terus ditunda, atau memang kamu nggak mau hubungan kita ini nggak kemana-mana? Diem di tempat gitu?”

“Sayang, kita masih harus skripsi dulu, cari kerja dulu abis lulus. Kita kan nggak bakalan nikah besok!” ujarku dengan raut muka cemberut.

“Tapi aku mau semua direncanakan dengan matang dan baik. Aku ingin merencanakan masa depan aku dengan kamu di dalamnya, atau tidak ada kamu sama sekali.” ujarmu tegas.

Aku menatap raut wajahmu yang begitu serius. Kamu adalah orang yang terplanning, selalu merencanakan sesuatu dengan matang. Aku sebaliknya, orang yang go with the flow. Selalu ada perdebatan panjang yang tak berujung hingga kita kelelahan bila kita mulai membicarakan masa depan. Pernikahan. Sifatmu dan sifatku yang bertolak belakang terkadang menjadi bumerang.

“Jadi, aku harus pindah ikut kamu, gitu? Keluargaku juga nggak setuju lah. Oke, lets say they agree with my decision, but it’s not about that. It’s about me, aku yang gak mau mengubahnya. Ini keyakinanku, aku nggak bisa mengubahnya.”

“Then don’t.. Don’t change..”

“Sayang…..”

“Both of us don’t change…” lanjutmu lagi. Lirih.

“So? Are we?” Over. Kata yang ingin aku ucapkan, namun aku tak sanggup. Mataku mulai panas dan berair.

Seketika diam membungkam, lidah kita seolah-olah kelu, hening panjang yang membuatku jengah.

“So, we’re.. We’re over..” ujarnya pelan. Kamu menghela nafas panjang, memecah keheningan.

Rupanya mataku sudah tak sanggup membendung air mata, ia mengalir perlahan, mengisi lekuk dan pori-pori wajah. Kamu mengecup keningku, memelukku erat, kemudian beranjak dan meninggalkanku. Terakhir kali kutatap punggungmu, kamu tak pernah kembali. Kamu menghilang. Tidak lagi kutemukan sosokmu di kampus. Akupun terlalu sakit untuk mencari tahu. Kata ‘kita’ antara kamu dan aku telah lenyap ditelan waktu.

     Four years and I still cry sometimes
     First love never die…

     Can you feel the same?
     I will never love again..

“Chocolate mint blendednya ya, Mbak” suara waitress membuyarkan lamunanku tentang kita, kamu dan masa lalu.

Thanks. Mbak, ini wifinya kok gak nyambung, padahal udah connect statusnya?” tanyaku.

“Oh, maaf, Mbak, wifi connectionnya lagi bermasalah, orang IT masih dalam perjalanan ke sini” jawabnya.

Well, what a day! ada apa sih dengan koneksi internet hari ini? Dan kenapa malah harus berkoneksi dengan masa lalu yang tidak pernah ingin kuingat lagi? Tuhan apa yang sedang Kau rencanakan untukku?

“Ok, thanks ya, Mbak” segera kubereskan laptopku dan beranjak.

Kamu masih di situ, menyesap kopi hangat. Pasti espresso. Tadi aku dengar pelayan cafe menyebutkannya saat mengantarkan minuman itu ke mejamu. Aku bahkan masih hafal kopi favoritmu. Rasanya ingin bercakap-cakap denganmu, melihat ekspresi wajahmu saat melihat aku. Entahlah, aku ragu, aku bingung bagaimana harus bersikap kalau bertemu mantan. Ya, mantanku cuma kamu soalnya. Tapi, mungkin hari ini tidak akan terjadi lagi, mungkin Tuhan memang ingin aku bertemu kamu. Baiklah, saatnya berdamai dengan masa lalu.

“Hai, Sayang!” seorang perempuan yang baru datang memelukmu dari belakang. Perempuan itu cantik, rambutnya pendek dan ikal, perawakannya mungil, dan ada cincin melingkar di jari manis kanannya.

Kamu membalas pelukan perempuan itu dengan kecupan lembut di pipinya. Aku iri? Aku patah hati? Ya. Selama ini pria datang dan pergi ke dalam kehidupanku, tidak ada yang benar-benar tinggal karena mereka selalu kalah, selalu kalah jika kubandingkan dengan kamu. Aku masih saja berharap keajaiban kecil datang, kamu datang lagi ke dalam kehidupanku. Kemudian kita merancang masa depan bersama. Tahun demi tahun, harapan itu masih tetap tinggal.

Tapi di satu sisi aku lega, melihatmu telah berbahagia. Kamu sudah bahagia, meski bukan dengan aku. Harusnya aku juga bisa berbahagia meski bukan dengan kamu. Sepertinya, ini saatku melepas segala harapan yang pernah kusimpan dalam-dalam untukmu. Kamu tidak akan pernah datang lagi ke dalam kehidupanku.

Kuhela nafas dan berjalan keluar cafe tanpa memalingkan muka ke arahmu, aku malah berharap kamu tidak melihatku dan kita tidak akan bertemu lagi.

Aku suka cara bercanda Tuhan hari ini.


ditulis @naminadini dalam http://berceloteh.tumblr.com

No comments:

Post a Comment