Monday, September 17, 2012

First Love

Sejujurnya, saya kurang mengerti apa definisi “cinta pertama” yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa cinta pertama adalah cinta yang kita alami pertama kali dalam hidup, ketika umur kita masih sangat muda. Ada yang mengatakan bahwa cinta pertama adalah cinta terdalam yang kita rasakan untuk pertama kalinya.

Yang pertama, belum tentu jadi yang terdalam dan terbesar.

Bagi saya, jika kedua definisi itu digabungkan menjadi satu, maka cinta pertama saya adalah almarhumah Ibu saya. Dan saya bisa jadi cinta pertamanya, dan bukan Ayah saya.

Kerap kali semasa beliau masih hidup, Ayah sering merasa iri dengan perhatian Ibu kepada saya, dan selalu membanding-bandingkan betapa Ibu lebih mencintai saya dibanding mencintai beliau. Haha.

Sudahlah. Saya tidak mau menangis saat ini.

Anyway, jika cinta pertama itu harus dikaitkan dengan cinta antara lelaki dengan perempuan, terus terang saya tidak begitu ingat siapa cinta pertama saya. Bisa jadi dia lelaki kecil yang selalu menggandeng tangan saya ketika saya duduk di taman kanak-kanak dulu. Atau dia yang saya temui ketika saya lulus kuliah dan menjadi penyebab Ibu menangis berhari-hari dan Ayah marah karena saya telah membuat Ibu memangis.

Terlalu naif rasanya, dan semacam tidak penting sebetulnya membahas tentang cinta pertama bagi saya. Mungkin yang sensasinya paling dahsyat memang cinta pertama, tapi tetap tidak pernah sepenting cinta terakhir.

Bisa jadi cinta terakhir itu bukanlah cinta saya kepada orang yang saya nikahi nanti, tapi cinta saya kepada laki-laki yang kepadanya cinta saya tidak pernah mengenal kata lelah, bosan, bahkan mati.

Cinta pertama memang lebih mungkin lebih tulus dibandingkan dengan cinta terakhir, karena ketika hati kita masih muda, kita hanya tahu mencintai tanpa pernah tahu apa itu cinta yang sesungguhnya, bagaimana seharusnya mencintai, bagaimana rasanya dicintai. Sementara cinta-cinta yang datang selanjutnya, adalah cinta yang lebih penuh pertimbangan. Cinta yang kadang timbul bukan semata-mata karena cinta.

Kadang yang paling kita gila-gilai, bisa jadi bukan yang terbaik untuk kita.

Dan cinta terakhir? Itu cinta yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga cinta yang menjadi pelabuhan terakhir saya itu adalah cinta terbaik yang pernah saya rasakan dan berikan.

Mungkin benar apa kata Oscar Wilde:

    “Men always want to be a woman’s first love - women like to be a man’s last romance.”

Jika memang begitu, kamukah lelaki yang terakhir dalam hidup saya?

Semoga.

ditulis @Dear_Connie dalam http://poeticonnie.tumblr.com

No comments:

Post a Comment