Tuesday, September 4, 2012

Jangan Katakan


“Sayang, kamu mau ke mana?”

“Nggak, aku nggak pengen ke mana-mana.”

“Ayolah Sayang..masa nggak ke mana-mana sih.”

“Aku cuma pengen duduk..” (sama kamu)

“Ya udah, aku tahu kita mau ke mana.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Enggan untuk bertanya. Aku pasrah, duduk manis di sampingmu, membiarkanmu menyetir mobil menuju tempat yang hanya kepalamu saja yang tahu.

Sepanjang perjalanan kamu mendominasi semua percakapan. Sementara aku selayaknya pendengar yang baik, sesekali tersenyum, sesekali mengangguk, mengamini rentetan kalimat-kalimat yang terucap oleh bibirmu.

Sudah hampir satu jam, dan kita masih ada di jalan. Lagi-lagi aku hanya diam, duduk manis di dalam mobil yang melaju pelan. Aku bukannya tidak menyadari beberapa jalan bahkan telah kita lewati lebih dari sekali, namun aku tak mau peduli. Yang terpenting malam itu, aku menghabiskan malam bersamamu.

“Ini lagu siapa?” akhirnya aku pun bersuara.

Sebuah lagu yang asing mengalun dari radio, baru pertama kali kudengar, namun musik dan suara vokal penyanyinya terasa familiar. Kamu menggeleng pelan. Kemudian kita pun diam, mencoba mendengarkan setiap kata-kata pada liriknya, mencoba menerka-nerka lagu siapa.

Namun hingga lagu itu selesai, hingga menit-menit berikutnya, kita sama-sama tak bersuara. Apa judulnya, ataupun siapa penyanyinya, tak lagi mengusik rasa penasaran kita. Malam itu, lirik lagu sialan itu berhasil membuat kita terdiam, sama-sama kikuk dengan keadaan.

Jika ku bukan orangnya
Jangan beri aku harapan itu, yang ku mau
Jika ku bukan orangnya
Jangan pernah katakan sayang dan cinta..
(Jika - Ten2Five)



Ditulis oleh @yuyaone dalam http://yuyaone.tumblr.com

No comments:

Post a Comment