“Commuter Line tujuan Jakarta berangkat dari Stasiun Cawang.” Terdengar pemberitahuan dari pengeras suara.
Pagi itu Manggarai terasa penuh sesak, mungkin karena bertepatan dengan jam masuk kantor, apalagi ini hari Senin. Hari pertama bekerja setelah libur panjang Lebaran. Aku menoleh sekilas ke arahmu, tapi kamu tidak menyadarinya, masih sibuk membaca koran pagi yang baru saja kamu beli.
“Keretanya mana, sih..” aku bergumam pelan.
“Sabar, ntar juga dateng.” Kamu menimpali.
“Aku janji sama Mama datengnya pagian, kalo siang nanti kan Mama sibuk lagi..”
“Nggak bakal telat, Mama juga pasti ngerti. Kayak nggak tahu gimana kereta aja.” Kamu terus menjawab tanpa menoleh, sibuk dengan berita di headline koran. Aku menarik koran itu dengan wajah kesal, “bacanya pending dulu bisa, kan? Jangan baca sambil ngobrol.”
Kamu memamerkan senyum khasmu, senyum yang begitu sabar. Lalu melipat koran dan menyimpannya, sesuai kemauanku. “Iya, aku tahu kamu mikirin Mama. Aku tahu London itu jauh dan ini pertama kalinya kamu akan pisah dari Mamamu. Tapi ya memang harus begitu, kamu sudah jadi istriku, masa mau tetap di Jakarta sementara aku kerja di sana?”
“Aku juga nggak mau LDR..” bisikku dengan suara parau.
“LDR?”
“Long Distance Relationship..” Aku memperjelas. Kamu mengangguk-angguk paham, “ya Jakarta – London itu bukan Jakarta – Bogor, yang. Kalau kamu memang maunya tinggal di Jakarta, aku nggak apa-apa. Tapi aku nggak bisa janji pulang dalam waktu dekat.”
Bila tak ada hari esok lagi
Bersama untuk berdua
Maka gunakan sisa waktu yang ada di dalam hidup ini
Karena tak akan lama lagi
Kamu lalu menggenggam tanganku, hangat sekali, “nanti aku yang bicara sama Mama.”
Sesaat setelah keputusan terakhirmu, kereta yang akan kita tumpangi memasuki stasiun, membuat puluhan orang berusaha masuk dan mendapat ruang di dalam gerbongnya. Kamu menarik tanganku tanpa berkata-kata lagi dan dengan sigap memasuki sebuah gerbong. Beruntung di gerbong itu ada kursi yang kosong karena baru saja ditinggal turun penumpang sebelumnya.
Beberapa menit sesudahnya, kita lewati dalam diam, sambil memandang sepasang anak kecil yang sedang bercanda di kursi depan. Ibunya tampak mengantuk dan sedang tertidur, sedangkan kedua bocah itu masih terjaga dan asik sendiri.
“Kamu lihat itu..” suaramu membuyarkan lamunanku, “nanti anak kita juga akan tertawa bahagia seperti itu. Aku ingin dia bahagia, makanya aku menerima tawaran kerja di London. Masa depannya akan lebih baik di sana.”
Bila tinggal sedikit saja waktu
Untuk kita berdua
Maka maafkanlah segala janji
Yang tak pernah terpenuhi
Karena tak bisa tertebak segala..
“Mentang-mentang kamu fansnya Band Payung Teduh?” Aku mencibir. Kamu tergelak dan menepuk-nepuk punggung tanganku, “ya, bukan juga. Maksudnya, memang nama itu terdengar adem.”
Aku tersenyum tipis, “kenapa namanya bukan Gisella, Angel, Tiyas, Tasya, atau kalau cowok Andrew..”
“Karena semuanya pasaran. Aku mau anakku beda dari anak orang lain. Karena dia akan jadi sosok yang istimewa.”
Pagi itu, untuk kesekian kalinya, aku merasa kagum oleh tiap kalimat yang keluar dari mulutmu, lelakiku..
***
Dua tahun sudah berlalu sejak terakhir kali kita bercanda dan merangkai mimpi di Commuter Line yang menjadi transportasi wajib selama di Jawa. Seminggu setelah itu, kamu menyuruhku berangkat ke London sendirian, karena masih ada sisa pekerjaan yang harus kamu tangani di Jakarta. Katanya, kamu akan menyusul lima hari kemudian. Tapi sampai hari ini, sudah genap dua kali tiga ratus enam puluh lima hari setelahnya, aku tidak juga menjumpai sosokmu.
Aku rasa ini mimpi.
Sebab baru kemarin kita bercerita banyak hal di kereta. Merangkai angan-angan yang nantinya akan kita ubah menjadi kenyataan. Bukankah kamu berjanji, bahwa kita akan tertawa bersama anak kita saat bermain salju ketika London memasuki musim dingin?
Jika memang hari itu aku tidak salah dengar, maka datanglah. Tepatilah janji itu hari ini, sayang..
Aku bosan mendengar celotehan orang-orang yang mengatakan bahwa pesawatmu telah jatuh dan ditelan lautan, hingga banyak korban yang jenazahnya tidak bisa dievakuasi lagi, termasuk kamu. Mereka bilang kamu sudah meninggal, persetan! Aku tidak akan percaya sebelum melihat sendiri nisanmu. Kamu tidak meninggal, kan, sayang? Suatu hari kamu akan menyusul kami ke London.
Iya, kami.
Lihat dia, Langit Naungan Teduh. Anakmu itu sekarang sudah semakin besar. Ia sedang belajar berjalan. Tadi pagi aku lihat ia merangkak cepat menuju ruang tengah dan menunjuk figura foto yang terjatuh dari meja telepon, seolah memberitahuku agar membenarkan letaknya kembali. Foto pernikahan kita..
Hari ini libur panjang dimulai, itu berarti aku akan diam di rumah bersama Langit selama berminggu-minggu. Dulu aku menyukai liburan, karena kamu hanya punya banyak waktu luang ketika libur tiba. Tapi kini liburan terasa menyesakkan, tidak ada kamu di sini.
Jadi setelah menunggumu begitu lama, aku mulai bosan berharap bahwa kamu akan datang menyusul kami ke London. Maka setelah ini, aku akan berhenti, sayang.. Berhenti berharap pada hal yang tidak mungkin.
Siang itu rasanya aku dan Langit tertidur lama sekali. Lelah menjalani penantian selama dua tahun, barangkali. Bocah kecil itu tertidur dalam pelukanku.
Tapi diluar dugaanku, hari itu kamu malah datang. Ya, kamu benar-benar datang. Aku tidak peduli kamu datang untuk menyusul atau menjemput, tapi dengan melihat wajahmu yang teduh itu, aku sudah cukup bahagia. Maka aku menggendong Langit dan berlari menyusul langkahmu. Kamu hanya mengangguk dan mengecup kami, lalu menuntunku melangkah entah ke mana.
Aku benar, kan, sayang?
Kamu pasti akan datang.
Harusnya dari awal aku tidak menghiraukan omongan orang. Harusnya dari awal aku percaya pada janjimu bahwa kamu tidak akan meninggalkan kami.
Hari ini kamu benar-benar datang. Entah untuk menyusul atau menjemput. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak pernah mau peduli lagi pada omongan mereka, pada cuaca London yang menusuk tulang, pada rasa-rasa sesak dalam dada, dan sisa kehangatan di perapian. Biarkan semuanya buyar.
Kini kamu sudah datang. Aku sudah menggenggam tanganmu erat sekali, jadi tidak akan kulepaskan lagi, seperti yang kulakukan dua tahun lalu. Mari kita akhiri Long Distance Relationsh*t yang kita jalani selama ini, sayang.
Kamu tidak boleh pergi lagi.
Biar aku dan Langit saja yang pergi dari dunia.
Menyusulmu.
***
Bila tak pernah ada hari esok..
Untukku lagi..
***
NOTE:
Icha Jikustik – Jika Tak Ada Hari Esok
ditulis @PPutriNL dalam http://petronelaputri.wordpress.com
No comments:
Post a Comment