Malam ini kotaku terbuat dari pecahan-pecahan kaca yang akan menusuk kakinya sendiri. Sakitnya disajikan mesra layaknya malam pertama. Sakitnya dirayakan megah seperti karnaval. Karnaval kesedihan.
Satu pengamen jalanan menggenjreng gitarnya merdu, entah mencari kunci atau mencari perhatian dua manusia yang terlibat adegan kisah cinta yang salah. Yang jelas pengamen bertampang keren ini siap memainkan alatnya untuk berpesta, layaknya sebuah karnaval yang dipenuhi keramaian, sorak sorai, dan berbagai macam keriaan.
Sementara itu berjarak sebelas langkah dari pengamen keren itu, dua manusia sedang memperjuangkan kisah cinta.
“Aku harus gimana?” kata perempuan itu pelan. Matanya sudah merah tapi tak satupun tetes yang dia sanggup keluarkan.
“Mengambil keputusan.” jawab laki-laki itu singkat sambil menghembuskan asap rokok di mulutnya.
“Kenapa harus aku?”
“Karena kamu yang ngerasa disakitin kan?”
“Aku ga bisa ngelepasin kamu. Aku mau terus ada untuk kamu. Sialnya separah apapun kamu khianatin aku, aku tetap sayang kamu.” kata perempuan itu cepat. Airmatanya tak kunjung jatuh. Padahal bila satu tetes saja air jatuh di pelupuk matanya, akan ada pesta besar-besaran malam ini. Ingat kan? Kita sedang ada dalam karnaval kesedihan.
“Kamu perempuan bodoh. Kenapa kamu ga maki-maki aku sekarang? Kenapa kamu ga nampar aku pake tenaga kuda? Kenapa kamu masih aja berjuang untuk laki-laki bajingan kayak aku?” hembusan asap rokok laki-laki itu lebih panjang dari sebelumnya.
“Karena aku percaya suatu saat aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku.”
Laki-laki itu diam lama kemudian menunduk. Sementara perempuan di sebelahnya sedang menahan mati-matian agar tak ada airmata malam ini. Perempuan yang sedang memperjuangkan laki-lakinya. Perempuan yang mencintai sendirian.
“Aku ga bisa terus jadi laki-laki bangsat. Aku ga bisa terus nyakitin orang kayak kamu. Aku ga bisa lagi sama kamu.” lanjut laki-laki itu setelah hening yang lama.
“Aku udah maafin kamu. Perkara selesai kan? Kita pacaran lagi, sama-sama lagi, perbaikin berdua. Iya, meskipun ini udah yang keberapa kali lah, aku juga udah lupa.”
“Sudah ya, sayang. Ini harusnya udah berakhir dari pertama kali aku nyakitin kamu. Kamu harusnya udah berhenti. Kamu harusnya nyadar buat ga mencintai orang kayak aku. Kamu harusnya muak maafin aku.”
“Sebelah mana sih dari aku yang ga bisa bikin kamu jatuh cinta?”
“Kalau laki baik-baik pasti bahagia dicintai kamu sampai sebegini, aku nya aja yang ga tau diri.”
Keduanya kembali menyepi. Menunggu siapa yang menang dalam adu gulat hati kali ini. Genjrengan pelan sebuah gitar dari pengamen memecah diam, dia kemudian bernyanyi.
Biar Sally mencariku
Biarkan dia terbang jauh
Dalam hatinya hanya satu
Jauh hatinya hanya aku
Laki-laki dan perempuan serentak menoleh ke arah pengamen. Merasa dirinya ditatap tajam oleh keduanya, dia berhenti menyanyi.
“Maaf mbak, mas. Silahkan dilanjutkan. Hehehe…” pengamen menggeser pantatnya sedikit ke kiri. Menyender pada pagar dan disimpannya gitar itu di sebelahnya.
“Sebelah mana dari bertahan mati-matiannya aku yang bikin kamu masih ga yakin kalau aku sayang banget sama kamu?”
“Kamu yakin sayang sama aku, tapi aku ga yakin sayang sama kamu.”
Perempuan menghela nafas panjang. Hatinya terlalu sedih tapi tak bisa menangis.
“Jaga diri kamu baik-baik. Maafin aku yang suka bikin hati kamu susah ya.” laki-laki mengecup kening perempuan itu sebentar kemudian beranjak dari duduknya. “Kamu pasti bakalan dicintain sama orang yang jauuuhh lebih cinta dari ini.” lanjutnya.
Laki-laki kemudian pergi. Entah kemana. Entah apa dia melihat tangis yang pecah dari perempuannya. Entah apa dia masih ingin kembali.
Seketika karnaval kota ini dimulai. Tangis yang pecah adalah gong pembukaan pesta. Air mata yang jatuh adalah minuman paling mewah di karnaval ini. Baju yang basah oleh airmata adalah baju kebangsaan. Ingus yang meleleh adalah makanan pembuka yang istimewa. Sedu yang tak tertahan adalah musik paling merdu malam ini. Pengamen keren adalah dirigent terkenal dari negeri sebrang. Lagu kebangsaan mulai dinyanyikan, pengamen memimpin dengan gagah.
Sally kau selalu sendiri
Sampai kapanpun sendiri
Hingga kau lelah menanti
Hingga kau lelah menangis
Sally kau selalu sendiri
Sampai kapanpun sendiri
Hingga kau lelah menanti
Hingga kau lelah menangis
(Sally Sendiri ~ Peterpan)
Perempuan memandang ke arah pengamen kemudian berkata dengan wajah sedih, “Saya sedang sedih dan ingin sendirian. Bisa kamu bubarkan karnaval ini?”
Ditulis oleh @yantidewii dalam http://kacamatamerah.tumblr.com
No comments:
Post a Comment