Saturday, September 15, 2012

Kembali ke Wonderland


               “Kau tampak kacau, Alice!” Mad Hatter tertawa nyaring. Topinya yang begitu tinggi hampir saja merosot dari kepalanya. Ia menuang teh ke dalam cangkir kecil gadis berpakaian lusuh di depannya. Ajaibnya cangkir tersebut nampak tak berdasar dan air teh panas terus mengalir dari mulut teko.

                “Kau seharusnya melihat cermin, Mad Hatter!” sentak Alice. Dilihatnya darah masih merembes dari tempat dimana lengan kiri Mad Hatter seharusnya berada. “Lengan kirimu itu, Ya Tuhan!”

                “Ohoho! Lengan kiri? Apa itu ‘kiri’ dan ‘kanan’, Alice? Kau akan melihat ‘kiri’ dan ‘kanan’ adalah hal rancu tergantung darimana kau berada,” Mad Hatter berhenti sebentar untuk menaruh kembali teko teh-nya. “Tapi lihat sisi baiknya: aku masih punya satu lengan!”

                Alice memiringkan kepalanya sedikit, mulut Mad Hatter selalu membuatnya bingung. “Aku tak peduli dengan lengan kirimu kalau begitu, tapi apa yang terjadi dengan Wonderland semenjak kutinggalkan?”

                Alice melihat ke sekitar. Wonderland berubah. Sangat berubah malah, terasa oleh seluruh panca indera Alice. Langit Wonderland yang dulu begitu biru menenangkan dan dipenuhi makhluk-makhluk fantastis, kini berubah warna menjadi merah mengerikan dengan sentuhan awan-awan hitam. Aroma busuk tercium di udara, dan tanah Wonderland yang dipenuhi tanaman-tanaman ajaib, kini nyaris tak berbentuk. Belum lagi suara tangis, jeritan mengiris hati, dan suara-suara yang tak dikenali Alice terdengar sayup-sayup di telinga gadis itu.

                “Apa ini perbuatan Ratu Hati?” tanya Alice.

                “Ratu Hati? Ohohoho! Bukan, Alice! Bukan! Kau harus lihat kondisi dia sekarang, ia begitu rapuh mirip nenek-nenek! Omong-omong, berapa lama kau pergi dari Wonderland?”

                “Bertahun-tahun lalu, bahkan aku nyaris lupa,” jawab Alice, dengkulnya tak sengaja menabrak kaki meja, gelas dan cangkir seketika bergetar. “Jawab pertanyaanku, orang gila,”

                “Samakan waktumu dengan Kelinci Putih, dan asal kau tahu Itulah kenapa aku dinamai ‘Mad’, Alice, juga aku tak mau memberitahumu siapa yang membuat Wonderland jadi begini,” Mad Hatter tersenyum nakal, “karena sebetulnya kau sangat mengenal dia,”

                Alice terbelalak. Ia mencoba menerka-nerka siapa yang harus bertanggung jawab atas kekacauan di Wonderland. Ratu Hati? Jabberwock? Atau…

                “Pergilah Alice, ke tempat The Duchess,” perintah Mad Hatter mengusir lamunan Alice, “Seseorang ingin menemuimu di sana. Kau bisa mendapatkan jawaban yang kau inginkan,” Mad Hatter kembali tertawa.



* * *

                Alice melangkah dengan hati-hati supaya ia tidak menginjak bangkai babi-babi terbang. Lalat sebesar jempol manusia dewasa memenuhi udara dan Alice mencoba mati-matian untuk menahan mual. Tak pernah ia ingat sebelumnya bahwa jalan menuru rumah The Duchess sesulit ini. Namun begitu, ia sudah melihat reruntuhan rumah si wanita kejam.

                Alice mendorong pintu tua yang setengah terlepas dari engselnya. Suara berdecitnya mengiringi langkah Alice saat ia masuk ke sisa-sisa rumah The Duchess. Di sana, di kursi depan perapian, duduk seorang pria muda berbaju besi. Pria itu mungkin akan tampak manusia jika saja sepasang sayap kelelawar tak tumbuh dari punggungnya. Pria itu tersenyum melihat kedatangan Alice.

                “Kau siapa?” Alice tak pernah melihat pria ini sebelumnya, baik di Wonderland maupun di dunia nyata.

                “Kau mengenalku, Alice, tapi tidak sosokku,” jawab si pria, suaranya terdengar angkuh namun lembut.

                “Maksudmu?”

                “Ingatkah kau saat menusuk jantungku dengan Pedang Vorpal? Ya, Alice, aku Jabberwock si naga, dan aku terlahir kembali,”

                “Jadi kau yang menyebabkan Wonderland seperti ini?!” Alice menunjuk kasar ke arah Jabberwock.

                “Tidak, Alice, bukan aku,” Jabberwock menarik satu kursi lagi ke hadapannya, “duduklah dan akan kuceritakan,”

                Alice menuruti perintah Jabberwock. “Nah?”

                Jabberwock berdeham lalu mulai bercerita, “Beberapa bulan setelah kau meninggalkan Wonderland, makhluk-makhluk yang kami namai Phantasma muncul dan mengacau di sini. Membunuh dan menghancurkan sebagian besar orang-orang yang kau kenal, Alice, salah satunya The Duchess.”

                Alice menatap heran.

                “Mulanya kami mengira bahwa ini perbuatan Ratu Hati atau Ratu Merah, tapi ternyata dua wanita itu pun sibuk bersembunyi. Kerajaan mereka hancur dan sebagian besar pasukan mereka melarikan diri. Phantasma bukan tandingan mereka, atau siapapun di Wonderland. Maka, aku dan beberapa penghuni Wonderland mencari tahu siapa dalang dibalik munculnya Phantasma,”

                “Lalu siapa, Jabberwock? Siapa?”

                “Kau tahu betul siapa orangnya, Alice,”

                “Jangan berikan jawaban itu, Jabberwock. Aku nyaris menempeleng wajah Mad Hatter,” ancam Alice.

                “Orang itu,” Jabberwock mengambil napas panjang, “dirimu sendiri, Alice. Kaulah sumber dari Phantasma dan kekacauan Wonderland,”

                Alice tersentak kaget. Amarah tiba-tiba saja meluap di dirinya. “Kau jangan bercanda, naga! Aku bisa menusuk jantungmu untuk kedua kalinya!”

                “Aku tidak bercanda, Alice. Kumohon, ingatlah apa yang terjadi. Bukan, bukan di Wonderland, tapi di dunia nyata, di duniamu, Alice,”

                Alice menelusuri ingatannya. Berbagai citra melintas di kepalanya. Berbagai wajah, berbagai peristiwa, dan terlintaslah ingatan yang ingin ia lupakan. “Hentikan!” Alice menutup telinganya, air  matanya tiba-tiba mengalir deras.

                “Ya, Alice, ingatlah,”

                “Apakah ini khayalan atau kenyataan, Jabberwock?” Alice terisak.

                “Setelah menusuk jantungku, kau saling mengikat janji dengan seluruh penghuni Wonderland bahwa kau akan kembali ke sini,”

                Alice masih terisak, “Inikah kenyataan atau bunga tidurku?”

                “Kau tahu jawabannya, Alice. Kau dan Wonderland bagai sepasang kekasih yang mengikat janji. Kau pernah mengalami masa indah dalam tidur, bangun, dan dalam Wonderland,”

                “Kalau Wonderland ini mimpi, bagaimana bisa ia hadir di mimpiku, Jabberwock? Padahal tak sedetikpun sejak kejadian di duniaku, kurindu tempat ini! Bahkan aku lupa sama sekali!”

                “Kau tahu kenapa Phantasma bisa muncul? Kau menolak kenyataan, Alice. Kemudian kau kabur dari janjimu kepada Wonderland. Wonderland terlupakan penyangkalanmu terhadap apa yang terjadi padamu di dunia sana semakin besar. Phantasma muncul dari dirimu, Alice, dari hatimu yang telah terkunci,”

                “Apa yang harus kulakukan kalau begitu?” Alice menyeka matanya.

                Jabberwock tersenyum manis. “Terimalah dirimu, Alice. Terimalah kenyataan dan jangan pernah lari darinya. Kenyataan mengejarmu lebih cepat dari yang bisa kau bayangkan. Terimalah dan maafkan dirimu sendiri. Phantasma hadir karena penyangkalan terhadap dirimu,”

                “Oh Jabberwock, maafkan aku! Maafkan aku!” Alice menangis lebih kencang. Gadis itu kemudian memeluk sang titisan naga di depannya.

                “Tidak apa-apa, Alice. Wonderland memaafkanmu. Ia selalu ada saat kau butuh rumah, dan rumah bagi Wonderland adalah dirimu,”

                Alice tersenyum. Samar-samar bau busuk di udara Wonderland mulai terangkat, awan-awan hitam di langitnya mulai pergi beriringan, dan suara-suara jerit mengiris hati mulai tak terdengar.



* * *

                “Bagaimana keadaannya dokter?” tanya seorang perawat kepada seorang pria setengah baya yang baru saja keluar dari kamar seorang pasien.

                “Demamnya mulai menurun dan kau bisa lihat, suster, ia mulai tersenyum,”

                “Gadis malang,” ujar si perawat sambil mengintip di balik jendela kecil pintu kamar pasien. Dilihatnya seorang gadis duduk termenung memandang ke luar jendela. Bibir si gadis yang tipis menyunggingkan senyum. “Aku pun bisa saja menjadi pasien rumah sakit jiwa ini jika keluargaku dibantai perampok tepat di depan mataku,”

                “Huss! Jangan bicara sembarangan, suster,” tegur si dokter, “tapi aku heran, kenapa ia berkali-kali memanggilku ‘Jabberwock’, yah?”



(Didasari lagu berjudul “Khayalan” oleh The Groove)


ditulis @rebornsin dalam http://inwordswetrust.wordpress.com

No comments:

Post a Comment