Sunday, September 9, 2012
Kesempatan
“Halo! Sayang…” suara dari ujung telepon, sudah bisa kutebak suara siapa ini.
“Iya, ada apa Na?” tanyaku.
“Aku udah pesen tiket pesawat untuk balik tanggal 20 Ga.”
“Oh ya?! Aku juga punya satu berita bagus untukmu.”
“Apa?” serunya setengah penasaran.
“Tugas aku di Tasikmalaya tinggal sebentar lagi. Tanggal 15 aku udah kembali ke kantor pusat. Kembali ke Jakarta.”
“Asik! Berarti kita punya lebih banyak waktu bersama!”
“Pastinya!”
“Udahan dulu ya Ga, aku ada kelas nih. Kamu baik baik ya disana, jaga diri buat aku ya. Aku kangen kamu, Ga.”
“Iya sayang, aku juga. Jaga diri ya, dah!”
“Dah..” “klik!”suara telepon dimatikan dari ujung sana.
—-
Pasien hari ini tak begitu ramai, aku masih bisa bersantai dengan bikin kopi dan mencomot kue brownies yang kubeli tadi waktu berangkat ke rumah sakit. Aku sendiri tak begitu suka pada kue brownies awalnya. Ini kue kesukaan Kirana, kekasihku. Melihat dia sering sekali makan kue ini dulunya membuatku penasaran. Aku mencobanya dan rasanya memang tak terlalu buruk. Ada rasa pahit diantara manis yang ada. Mirip hubunganku dengan Kirana. Aku dan Kirana telah 2 tahun berpacaran dan itu artinya aku dan Kirana telah menghabiskan 1,5 tahun terakhir dengan gaya pacaran jarak jauh. Kirana kuliah di luar negeri, sementara aku sering pindah dari satu daerah ke daerah lain karena pekerjaan. Menyedihkan bukan?
—-
“Ga, dipanggil bu Amanah tuh!” Doni mengejutkanku yang sedang asik merapikan dokumen,
“Ada apa?”
“Mana gue tahu, lo disuruh ke ruangannya sekarang.”
“Okedeh, bentar gue rapiin ini dulu.” Kubereskan dokumen-dokumen yang sedari tadi masih berantakan ke atas meja, mengembalikan ke raknya semula dan segera menuju ke ruangan bu Amanah.
“Tok.. tok.. tok!” “Ibu memanggil saya?”
“Oh, Angga. Iya, ibu tadi mencarimu. Mari masuk dan silahkan duduk.”
“Ada apa ya bu?” tanyaku seolah-olah aku sedang penasaran dibuatnya, padahal aku telah mengetahui apa yang akan disampaikan oleh bu Amanah.
“Angga, tugasmu di Tasikmalaya tinggal seminggu lagi. Lagipula kita juga sudah menemukan orang baru untuk mengisi posisi kosong yang kamu tempati beberapa bulan belakangan ini. Nanti ibu siapkan segala kebutuhan kamu untuk balik ke Jakarta.”
“Oh iya bu, baiklah kalau begitu.”
“Terima kasih ya, Ga karena telah sudi membantu cabang di sini. Ibu minta maaf jika selama di sini ada kata-kata Ibu yang ngga berkenan buat Angga.”
“Iya, bu. Sama-sama. Angga juga senang bisa membantu di sini. Tambahan pengalaman juga untuk Angga. Mari bu, Angga pamit dulu. Ada pekerjaan yang harus dibereskan.”
“Baiklah kalau begitu, selamat bekerja ya.”
“Baik bu.” Hore! Dalam hati aku bersorak senang, itu artinya kesempatan untuk bertemu Kirana semakin besar. Aku tersenyum.
—-
Hari ini, hari perpisahanku dengan orang-orang kantor di Tasikmalaya. Semua menyalamiku dan di sinilah aku belajar satu hal, setiap pertemuan pastilah ada pasangannya, perpisahan. Aku akan naik bis ke Jakarta, kembali ke kantor pusat. Sepanjang perjalanan ke terminal pak Dirman, supir kantor sibuk saja menanyaiku bagaimana kesan-kesan selama tinggal di tasikmalaya yang juga kujawab seadanya.
—-
“Hai Ga!”suara perempuan di belakang mengejutkanku.
“Eh, Mbak Eni! Apa kabar mbak? Waduh, makin besar aja nih kandungannya, baru juga aku tinggal 3 bulan.”
“Yeeeee, 3 bulan kan lama juga kali. Yuk, naik!” Kami berdua berjalan masuk ke dalam lift. Kami ngobrol banyak, maklum saja mbak Eni lah yang bertanggung jawab atas orang-orang sepertiku di perusahaan kamu. Orang-orang yang siap ditempatkan dimana saja untuk mengisi kekosongan kantor cabang kami.
“Eh Ga, gimana Tasikmalaya?”
“Menyenangkan mbak.” Jawabku asal.
“Oh ya, untuk besok dan seterusnya kamu ngantor di ruanganku dulu ya. Bantuin beres-beres dokumen perekrutan kemarin sambil menunggu kabar cabang lain, ada yang butuh bantuan atau ngga.”
“Siap mbak!”
—-
“Hai sayang! Gimana ngantornya hari pertama di Jakarta?” suara Kirana manja di seberang sana.
“Biasa sih Na, beres-beres dokumen, bikin presentasi, bosenin.”
“Semangat dong, kan tinggal beberapa hari lagi kita ketemu. Udah ngga bisa ditahan lagi nih kangennya.
“Iya juga ya, kamu udah beresin semuanya sebelum pulang?”
“Sudah kok yang, sudah beres. Kamu isirahat geh, besok masih ngantor kan?”
“Iya sayang, bentar lagi, nyelesein laporan ini dulu, kurang sedikit kok.”
“Yaudah, abis itu langsung istirahat ya, jangan lupa minum vitamin.”
“Iya, aku sayang kamu.” Sahutku.
“Dah sayang,.”
“Dah!”
—-
Ini hari keduaku di kantor Jakarta yang juga berarti dua hari lagi aku akan bertemu dengan Kirana, semuanya berjalan dengan lancar hingga percakapanku dengan mbak Eni tadi pagi.
“Ga, besok kamu terbang ke Banjarmasin ya. Cabang Banjarmasin membutuhkan satu orang tenaga bantuan karena ada yang akan cuti melahirkan. Rencana awal kamu akan tinggal di sana selama tiga bulan.”
DHEG!
“Mbak, apakah keberangkatannya ngga bisa ditunda dulu? Setidaknya sampai tanggal 25.” Ujarku, berharap ada sedikit kemungkinan yang tersisa.
“Emangnya ada apa Ga? Ada acara?” Tanya mbak Eni.
“Engga sih mbak, eng.. aku ambil cuti aja gimana?”
“Duh, Ga, maafin mbak Eni, bukan mbak Eni ngga bisa ngabulin cuti kamu tapi cabang Banjarmasin memang sedang butuh orang dan ini urgent. Lebih lagi cabang Banjarmasin sedang akan mengadakan medical check up besar-besaran. Cutinya ditunda bisa?”
“Bisa mbak.” Entah kenapa jawaban ini yang justru keluar dari mulutku padahal aku ingin sekali bisa menunda kepergianku ke Banjarmasin.
“Sial!” umpatku dalam hati. Padahal tinggal dua hari lagi aku akan ketemu Kirana. Ah sudahlah, aku sedang tak ingin memikirkan bagaimana kecewanya Kirana ketika mengetahui berita ini nanti.
“Making my way downtown, walking fast.
faces pass and I’m home bound.
Staring blankly ahead, just making my way.
Making a way through the crowd…”
“And I need you…
And I miss you…
And now I wonder…”
“If I could fall into the sky
Do you thingk time would pass me by?
‘Cause you know I’d walk a thousand miles
If I could just see you.. tonight…”
—
#30HariLagukuBercerita , terinspirasi dari lagu Thousand Miles oleh Vanessa Carlton
ditulis @merelakan dalam http://adityaistyana.tumblr.com
Labels:
Hari #8,
Vanessa Carlton
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment