Kau menggenggam tanganku. Kita menyadari akan ada perpisahan. Kau ada. Meski tak bisa ku raba (lagi).
Aku rindu. Tapi menunggu tak pernah membuat kita untuk menang. Karena hati telalu letih, mungkin. Kita sibuk mereka-reka masa depan yang bahagia. Hingga lupa bahwa kita hanya mengarang sebuah dongeng. Kamu pintar, meyakinkan aku bahwa kita dapat melipat jarak dengan saling mendekap erat, walau tak pernah kasat.
Aku rindu, seperti candu.
Aku rindu, tetapi terlalu pilu.
Aku rindu, ini sendu.
Aku rindu, tetapi meragu.
Aku rindu, untuk kamu—kalbuku beku—tak pernah menjadi temu.
Malam yang hanya bisa kujadikan tempat menulis namamu pada langit-langitnya, sesekali menggambar bentuk wajahmu. Jemariku sudah terbiasa. Tak lagi kaku.
Otak bisa saja berimajinasi. Hatipun bisa berdelusi. Tetapi realita yang sulit disambar.
Hujan menggenangi pikiranku. Memaksaku menyerah pada harapku. Hingga lelap.
Aku rindu, hanya bisa menunggu rindu beranak-pinak.
Aku rindu, gadis perindumu. Mendengar sebuah lagu yang kau katakan sebagai nyanyianmu.
bisa bertahankah kau di sana
bisa bertahankah sayang
coba bertahanlah kau di sana
coba bertahanlah sayang~~
ditulis @omaaaaaaa dalam http://omaafranita.tumblr.com
No comments:
Post a Comment