Friday, September 21, 2012

Kisah si Bungsu


Tanpa berkata apa-apa, aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan menggoyangnya maju mundur seperti yang biasa kulakukan untuknya setiap kali ia sedih dan tertekan. Ia terisak hebat di pelukku. Anakku. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Ini pasti ulah si gadis itu lagi. Sudah berapa kali dia membuat anakku seperti ini? Namun aku tidak bisa berbuat banyak. Ini hati yang memainkan peran.


Pernah suatu kali aku membujuk anakku ketika ia lagi-lagi patah hati oleh gadis yang sama, “Udahlah dek, cari yang laen aja kenapa sih. Ibu doain kamu dapet yang jauh lebih baik daripada dia.” Anakku terisak semakin keras, ia bilang, “ga mau, bu. Aku ga mau dapet yang lebih baik. Aku ga mau dapet siapa-siapa selain dia. Aku cuma mau dia.” Aku bisa apa bila hati sudah menentukan? Tak peduli telah berapa kali gadis itu menyakiti hati anakku. Pertama dia pergi meninggalkan anakku. Kedua dia selingkuh. Sekarang apa lagi?



Tapi, jauh di dasar hatiku, aku tidak bisa menyalahkan si gadis. Mungkin dia lelah berada di dalam hubungan seperti ini. Mungkin dia ingin laki-laki yang bisa menjaganya, menuntunnya, memeluknya. Bukan seseorang yang harus dijaga, dituntun, dan dipeluk. Gadis mana yang ingin seperti itu? Anakku yang rapuh. Yang butuh dijaga setiap saat. Yang sedari kecil diperlakukan seperti barang pecah belah.

Jangan salah. Anakku normal seratus persen. Terlepas dari itu semua, ia tampan dan cerdas. Sebenarnya, masih banyak gadis lain yang menginginkannya. Kalau mau, bisa saja ia memilih satu setiap bulannya dan tetap ia tidak akan kekurangan stok pengagumnya. Tidak. Aku tidak sedang bersikap subjektif disini. Aku memberikan penilaian bukan dari mata seorang ibu, tapi penilaian yang sebenarnya.



Salahkah aku yang selalu memperlakukannya seperti barang pecah belah bahkan dari semenjak ia lahir? Salahkah aku yang bersikap kelewat protektif padanya? Salahkah aku yang selalu merasa ia butuh perlindunganku? Kalian tidak tau. Kalian tidak tau bagaimana perasaanku, apa yang kurasakan. Baiklah, kuceritakan dari awal, sehingga kalian tidak menghakimiku.

***

Aku sudah memiliki dua anak pada saat itu. Si sulung berumur 4 tahun, adikknya berusia 2 tahun. Saat itulah aku mendapati diriku kembali mengandung. Aku mengunjungi dokter dengan pikiran kalut, terngiang-ngiang wejangan dokter itu pada saat aku melahirkan anakku yang kedua, “Liver ibu bermasalah. Lebih baik tidak usah hamil lagi dan ini anak ibu yang terkahir. Dua cukup ya, bu. Soalnya kehamilan selanjutnya malah bisa berbahaya.” Benar saja. Dokter itu mengecamku karena lupa mencegah yang ini sehingga ia tumbuh menjadi janin. Aku amat disarankan untuk menggugurkan kandunganku yang masih sangat muda, karena si janin bisa membahayakanku. Ditambah lagi, kemungkinan besar janin ini tidak akan selamat.



Aku menangis berhari-hari. Aku mengunci diriku di dalam kamar dan menangis sepuas-puasnya. Bagaimana bisa seorang dokter dengan gampangnya menyuruh seorang ibu untuk menggugurkan kandungannya? Tidakkah dia tahu bahwa hubungan batin seorang ibu dan anak tidak bermula dari detik pertama si anak lahir, tapi dari detik pertama embrio itu tumbuh di dalam rahim. Bagaimana bisa aku menggugurkan anakku? Dia memang masih belum berbentuk janin, tapi bukankah ia anakku juga? Dia punya hak untuk hidup. Keluargaku, bahkan suamiku, tidak bisa menerima logika ini. Mereka ada di pihak dokter itu. Mereka berusaha membujukku untuk menggugurkan kandunganku. Mereka bilang, “Jangan ambil resiko. Anakmu masih kecil-kecil lho. Masih butuh kamu. Mending korbanin yang masih belum berbentuk daripada ngorbanin dirimu sendiri.” Saat itu aku benci mereka semua. Bukankah seorang ibu memang sudah sewajarnya berkorban untuk anaknya, bahkan yang belum berbentuk seperti anakku ini? Tidak akan ada pengguguran kandungan. Bila memang anakku tidak ingin hidup, dia akan gugur sendiri. Namun bila ia ingin hidup, aku tidak akan sudi membunuhnya.



Di saat aku  mulai memantapkan diri, kedua anakku masuk dan menghambur ke dalam pelukanku. Saat aku menatap mata mereka dalam-dalam, tahulah aku bahwa aku juga tidak sanggup meninggalkan mereka. Bila aku sampai meninggal karena melahirkan anakku yang ketiga ini ke dunia, berarti aku harus meninggalkan mereka semua. Kedua anakku masih terlampau belia untuk ditinggalkan seorang ibu. Aku tidak sanggup memikirkan mereka  akan tumbuh dewasa tanpa aku mengamati setiap perkembangannya. Aku mengeluh panjang dan tanpa sadar air mataku kembali membanjir keluar. Ini benar-benar pilihan terburuk yang harus diambil seorang ibu. Kudoakan semoga kalian semua tidak akan pernah mengalaminya. Akhirnya, dengan berat hati kuakui kebenaran kata-kata suami, kakak-adik, dan orang tuaku; bahwa aku tidak bisa mengorbankan diriku sendiri dan meniggalkan dua anakku yang masih kecil-kecil. Dengan hati yang hancur, aku setuju untuk mengugurkan kandunganku.



Dalam perjalanan ke rumah sakit, air mataku tak berhenti mengalir dan aku terus-menerus bergumam, “maafkan ibu ya, nak. Maaf..maaf sekali..” Kata-kata itu sama sekali tidak menenangkan. Tidak memberikan efek seperti yang kuharapkan. Aku melangkah goyah memasukki rumah sakit. Dan ketika tiba saatku untuk memasuki ruang praktek dokter, aku menolak keras dan menangis sejadi-jadinya. Tidak. Tidak! Aku berubah pikiran. Aku mau pulang. Aku tidak mau membunuh anakku. Sia-sia suamiku berusaha membujukku. Tahu apa dia tentang perasaan seorang ibu! Apapun yang terjadi, aku ambil resikonya. Janin ini anakku juga, dan ia pantas dipertahankan.



Akhirnya, setelah semua gagal membujukku, aku bisa mempertahankan kandunganku. Sejak detik itu, aku tak hentinya memohon kepada Dia Yang Memberi Hidup untuk memanjangkan usia ku dan usia janin di kandunganku. Saat itulah aku tau kita akan berjuang bersama. Setiap hari, aku selalu mengajak janinku berbicara, “ibu mempertahankanmu, nak. Ayo kita berjuang bersama. Kita buktikan kalo kata-kata dokter itu bukan takdir. Kita buktikan kita bisa bertahan hidup.” Janinku tumbuh sebagaimana mestinya. Ia memilih hidup. Tidak ada tanda-tanda keguguran bahkan di usia kandunganku yang sudah memasuki bulan kesembilan. Dan saat itulah aku benar-benar bersyukur dulu tidak jadi membunuh anakku. Di titik ini saja dokter sudah salah. Ia bilang anakku akan gugur dengan sendirinya. Nyatanya, aku bisa merasakannya bergerak di dalam perutku setiap aku menempelkan telapak tanganku ke perut.



Saat persalinan tiba. Bukan dengan cara normal. Dokter memutuskan untuk sekalian mengikat rahimku sehingga tidak akan ada lagi kehamilan berikutnya, dan aku sangat setuju. Berarti aku tidak harus mengalami dilemma berat lagi. Dengan keadaan setengah sadar dan sangat lemah karena pengaruh obat bius, aku memandang dengan penuh kemenangan ke arah dokterku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Rupanya, aku sempat mengalami pendarahan serius. Namun toh aku bertahan hidup. Dia mengabulkan doaku.

Saat sadar, betapa teririsnya hatiku melihat bayi yang kupertahankan harus dirawat secara intensif karena paru-parunya yang belum berkembang sempurna. Dokter bilang, anakku rapuh. Merupakan keajaiban besar jika ia bisa bertahan sampai umur setahun. Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. Sudah terbukti salah berkali-kali, masih saja ia memberikan prediksi-prediksi.



Tahun-tahun pertama hidup anakku yang ketiga memang berat. Sebagian dihabiskan di rumah sakit. Anakku memang rapuh. Namun toh ia bertahan hidup. Dari sejak ia lahir, aku menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Aku menjaganya, melindunginya, memperlakukannya seperti barang pecah belah, karena aku merasakan tusukan tajam rasa bersalah setiap kali melihatnya; merasa bersalah karena dulu bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengugurkannya. Sekarang, setelah ia hidup dan tumbuh, aku akan melakukan apapun untuk membuatnya tetap hidup. Apapun yang terjadi.

***



Aku kembali ke masa kini. Masih memeluk erat bungsuku, aku menggumam di telinganya, “kalo dia emang pantas diperjuangkan, perjuangkanlah dek. Apapun resikonya. Ibu bantuin doa. Doa-doa ibu selalu supaya kamu bahagia.” Aku terus membuainya sampai ia tertidur. Ah, bungsuku. Sudah dewasa. Namun, bagiku dia masih tetap bayi mungilku yang rapuh dan harus dijaga setiap saat. Biarlah orang berkata apa. Toh kami memang saling membutuhkan satu sama lain. Mereka tidak bisa merasakan ikatan amat sangat kuat yang kurasakan dengan bungsuku.



Dulu, aku pikir mati menakutkan. Namun, sekarang aku mengerti bahwa aku lebih memilih mati daripada merasakan nyeri kehilangan darah dagingku.

Perlahan, aku bersenandung lembut;

“Come, stop your crying it will be all right

Just take my hand, hold it tight

I will protect you from all around you

I will be here, don’t you cry



For one so small, you seem so strong

My arms will hold you keep you save and warm

This bond between us can’t be broken

I will be here, don’t you cry



‘Cause you’ll be in my heart

Yes, you’ll be in my heart

From this day on now and forever more

You’ll be in my heart, no matter what they say

You’ll be in my heart, always



Why can’t they understand the way we feel?

They just don’t trust what they can’t explain

I know we’re different but deep inside we’re not that different at all



Don’t listen to them, cause what do they know?

We need each other to have, to hold

They’ll see in time, I know

When destiny calls you, you must be strong

I may not be with you, but you’ve got to hold on

They’ll see in time, I know

We’ll show them together



Always, I’ll be with you

I’ll be there for you always

Just look over your shoulder; I’ll be there always





(Inspired by: You’ll be in My Heart – Phil Collins)


ditulis @sneaking_jeans dalam http://menyingsingfajar.wordpress.com

No comments:

Post a Comment