Friday, September 7, 2012

Mengambil Bulan Untuk Khrisna


“Ambilkan Bulan, Bu!
Ambilkan Bulan, Bu!
Untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap.”

Bait-bait pendek tersebut sudah tujuh malam disenandungkan Krishna, anak lelakiku satu-satunya. Aku tahu, ia menyukai cahaya lebih dari segalanya dan begitu membenci gulita lebih dari apapun juga.

Ketakutan Krishna bermula ketika sebelas hari lalu Rheia Qinthara, raja kami, memerintahkan untuk menarik seluruh vela, bola-bola cahaya bersayap berukuran sebesar kepalan tangan manusia, yang di Krajelvina, jumlahnya sangat langka. Untuk kepentingan perayaan pernikahan putra mahkota, Sahzade Rhandira, sumber penerangan satu-satunya ketika kelamnya malam menghampiri wilayah Kraljevina, akan menghilang dari desa kami selama perayaan besar yang genap dilangsungkan seratus hari. Sejak itu, aku harus bekerja ekstra menenangkan Krishna sebelum tidurnya.

Terang saja, sebagai seorang yang terlahir abnaxia, bagi Krishna, gelap adalah musuh besarnya. Adalah normal bagi seorang Kraljelvinans memiliki kemampuan melihat dalam ketiadaan cahaya selama beberapa waktu. Namun bagi seseorang dengan abnaxia, gelap berarti kelumpuhan.

Krishna pertama kali mendengar syair tentang Bulan, yang dapat bercahaya begitu terang di malam-malam gelap, dari seorang teman sekelasnya di hovien, sekolah musim panas yang biasanya diisi dengan pembelajaran di alam tentang kehidupan Kraljevina dan negeri-negeri di sekitarnya. Ia diceritakan bahwa di sebuah negeri jauh bernama Niumbani, terdapat benda-benda langit bernama Bulan, yang cahaya dan keindahannya dapat mengenyahkan kelam pada malam-malam di seluruh wilayah Kraljevina. Bahkan Krishna pun diperdengarkan nyanyian cahaya bulan, yang hingga malam ini selalu ia nyanyikan ulang di igauan-igauan tidurnya.

Sebagai ibu, yang kupikirkan saat Krishna senandungkan lirik tersebut dalam tidurnya adalah sesegera mungkin pergi mencari Bulan dalam kisah tersebut. Maka hari ini, setelah genap tujuh malam Krishna mengigaukan nyanyian cahaya bulan di tidurnya, aku memutuskan untuk pergi menjemput apa yang anak terkasihku rindukan.

Berbekal pengetahuanku tentang cerita negeri-negeri jauh, dan kemampuan leviigi, terbang dengan kepakkan kedua tangan milikku yang sudah tergenapkan ke level tertinggi, pagi ini aku berpamit pada Krishna. Kusampaikan padanya bahwa aku tak akan berlama-lama mencari Bulan. Krishna tak berkenan aku meninggalkannya. “Biarlah aku ketakutan di setiap malam-malamku selama tak ada vela, asalkan aku bersama Ibu,” ia meminta kepadaku dengan air mata. Tapi kuputuskan untuk tetap pergi, demi terhenti igauannya tentang Bulan, yang begitu perih terdengar di telingaku.

***

Aku sudah berada di padang Shandia di wilayah Ustara, ratusan tavolsa di utara Kraljevina. Di sekelilingku hanya pasir-pasir salju, entah telah berapa lama kuhadapi pemandangan yang sama, putih bersih tanpa cela. Udara Shandia begitu asing di tubuhku, kering yang menyejukkan sekaligus beku yang menghangatkan. Kesendirianku pun diramaikan hembus angin yang menyuarakan nada-nada yang menyamankan telinga. Di padang Shandia ini, entah mengapa leviigi-ku tak bisa kulakukan.

Ditengah kelelahanku, seketika menghampiriku seseorang pria berumur yang dari penampilannya, hampir dipastikan bahwa ia seorang tovenaar, penyihir aliran putih. Jubah panjang berwarna magenta dan sebuah makila, tongkat sihir dari kayu baobab yang hitam legam yang dipegangnya mengisahkan pula bahwa ia berasal dari kasta tertinggi di Ustara.

Tanpa kuberitahu, ia telah lebih dahulu mengetahui maksud perjalananku. Ia menuturkan bahwa sebelumnya, ia sudah menjumpai beberapa orang dari selatan yang sama tersesatnya sepertiku dalam perjalanan mencari Bulan. Tak lama, ia memberi tahu kepadaku cara melepaskan diri dari jeratan Shandia, yang ternyata hanya sesederhana menutup telinga rapat-rapat dari nada-nada yang dilantunkan hembusan anginnya. Ia lalu menambahkan bahwa alih-alih menjemput Bulan, aku sebaiknya menemui seorang petapa bernama Solas, tanpa memberi tahu dimana aku bisa menjumpainya.

Mengikuti arahan sang tovenaar, dalam dua hari, setelah bersusah payah melewati hutan Zwartbos yang menyeramkan dengan pohon-pohon akadia yang menjulang, sampailah aku di Niumbani. Negeri ini tak seperti yang pernah kudengar dalam kisah-kisah tentang negeri-negeri jauh, dimana Niumbani digambarkan sebagai negeri yang bertabur cahaya dan amat masyhur dengan keriaan penduduknya. Tapi Niumbani yang kujejak kini tak lebih dari tanah gersang yang setiap sudutnya menyuarakan kelam. Bahkan dari penduduknya pun terpancar aura kegelapan yang begitu legam.

Tak ada seorang pun yang bisa aku tanya mengenai dimana aku dapat mengambil Bulan untuk Krishna. Namun aku teringat apa yang disampaikan tovenaar di Shandia, petapa bernama Solas. Reaksi yang kudapatkan ketika bertanya tentang petapa Solas kepada penduduk Niumbani mengejutkanku. Tatapan tajam terpancar dari mata-mata mereka, yang seolah bisa menyayatku kapan saja.

Dalam kebingunganku, aku teringat Krishna, juga nyanyian cahaya bulan yang ia senandungkan. Sedetik kemudian kualunkan bait-baitnya lirih.

“Ambilkan Bulan, Bu!
Ambilkan Bulan, Bu!
Yang selalu bersinar di langit.
“Ambilkan Bulan, Bu!
Ambilkan Bulan, Bu!
Untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap.”


Tepat setelah selesai kunyanyikan larik terakhirnya, dari langit Niumbani, meluncur deras bebatuan seukuran kepala. Aku berusaha sekuat tenaga menghindari mereka dengan leviigi-ku tapi satu dari mereka menghatam dengan keras kepala belakangku. Anehnya, tak ada sedikitpun rasa sakit yang kuterima saat terjadi benturan hebat tadi. Aku seperti ditabrak bola yang terbuat dari kapas. Lembut dan empuk. Kuambil batu yang menghantamku tadi dan kubawa kepada tetua Niumbani yang kemudian menjelaskan bahwa itu adalah Bulan yang kucari.

Aku begitu gembira mendengarnya, sekaligus menyimpan kebingungan yang begitu besar mengapa Bulan yang dihujankan langit Niumbani tidak memancarkan cahaya seperti yang dikisahkan kepada Krishna. Tanpa kutanya, tetua menjelaskan kepadaku bahwa petapa Solas telah menghisap semua terang dan kebahagian yang ada, lalu pergi entah kemana. Aku turut sedih mendengarnya. Namun, tak ada lagi yang bisa kuperbuat untuk Niumbani selain memanjatkan doa-doa kebaikan untuk Niumbani kepada Narmda, Sang Pencipta.

***

Tepat tiga belas hari setelah kumengecup kening Krishna dan mengucap selamat tinggal padanya, aku akhirnya bisa kembali tiba dengan selamat di Kraljevina. Aku tercengang karena terang kini telah menggantikan kelamnya malam Kraljevina, padahal perayaan di kerajaan belum usai. Namun keterkejutanku bertambah ketika aku sampai di rumah dan tidak menemukan Krishna dimana-mana. Saat kubertanya pada tetua desa, ia mengisahkan sesuatu yang membuatku ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya.

Selepas kupergi, dalam tidurnya, Krishna tak lagi bersenandung nyanyian cahaya bulan, melainkan menceracaukan namaku. Sampai pada malam kesebelas kumeninggalkannya, Krishna tak tahan lagi dengan gelap yang ada dan ketiadaanku di sampingnya. Ia berulang kali bercerita, pada siapa saja, bahwa yang ia butuhkan bukan Bulan, tetapi kehadiranku di sisinya, menjadi terang baginya. Ia berdoa keras-keras pada Narmda agar bisa menemuiku, dan juga cahaya. Tak lama setelahnya, datang seorang petapa tua bernama Solas yang lalu menemuinya dan membisikinya sesuatu. Setelah itu, mereka berdua hilang menuju entah. Malam harinya, Kraljevina tak lagi suram karena ketiadaan vela di sudut-sudutnya. Telah ada dua cahaya kembar di langit Kraljevina.

Aku menyesal. Teramat sangat. Tapi aku percaya, itulah jawaban Narmda atas doa Krishna.

-Aditya Nugraha-
Yogyakarta, 6 September 2012 01.35


NB:
Kadang kita terlalu disibukkan dengan berusaha keras membahagiakan orang yang kita sayang tanpa mengetahui bahwa bagi mereka, bahagia adalah cukup duduk berdampingan, bercerita, tertawa, dan menangis bersama. Sesederhana itu.



Ditulis oleh @__adityan dalam http://deetzy.tumblr.com/post

No comments:

Post a Comment