Tuesday, September 4, 2012
Menikmati Peran
Aku menyadari seseorang telah berhasil menjebakku dalam lingkar harapan palsu. Iya, aku dalam keadaan sesadar-sadarnya. Mungkin tidak seperti kebanyakan perempuan ketika telah mengetahui dirinya sedang diberikan harapan yang hanya akan menjadi ilusi apa lagi menjadi orang ketiga, kemudian memilih pergi. Menjauh. Membenamkan diri dalam kehidupan lain dan mengobati luka kebohongan yang tersilet di hati dengan paksa. Namun aku tidak, tidak sama sekali.
Aku berada di titik ini untuknya. Tanpa tau apa yang membuatku selalu ingin berada di sisimu hari demi hari. Aku sedang menikmati peranku. Toh, jika pada akhirnya aku adalah tokoh yang tidak baik, maka semua orang akan menyadari bahwa di dunia ini tidak ada insan yang memiliki nilai seratus dalam hidupnya. Sedang aku, mungkin selama ini dianggap sebagai ‘perempuan baik-baik’ oleh lingkunganku, adalah juga pengukir dosa. Sebut saja, perusak hubungan orang lain. Begini, aku mengikuti intuisi hatiku. Mana yang menurutku benar, itu yang aku lakukan. Tak akan ada manusia yang suci. Apa lagi, itu tadi, sempurna. Kesempurnaan yang tak fana hanya milik Sang Pencipta.
Kalau ditanya perasaan, aku tidak mengerti harus memulai dari bagian mana untuk menjabarnya. Yang paling jelas, aku tidak sedang terluka. Benar-benar menyenangkan.
Di larut malam yang cukup dingin, aku masih terjaga, terbaring memandang samar langit-langit kamar yang berwarna krem. Samar, karena sumber cahaya yang tersisa hanya berasal dari lampu tidur. Di luar gerimis. Suara rintik butir yang jatuh ke genteng rumah seolah menggantikan alunan lagu-lagu Mocca yang biasa aku dengarkan di keadaan seperti ini. Nikmat.
*triiing*
Seseorang merusak kenikmatan musik gerimisku dengan mengirim pesan semalam ini. Ada getar sekali lagi pertanda pesan ini amatlah penting. Aku meraih benda yang masih bergetar berkali-kali lagi itu dengan malas. “Sepenting apa sih?”, gumamku. Aku membalas pesan yang ternyata membuat simpul di bibirku selama beberapa detik dengan, “Yuk. Emang pacar kamu kemana?”
“Halooo?”
“Hey! Jawab dulu dong yang saya tanya di chat tadi”
“Ih kepo. Emang butuh?”
“Yaa.. Engga sih, kan ngga enak kalau misalnya dia masih mau kangen-kangenan sama kamu, tapi kamu malah telepon saya”
“Hmm gituu..?”
“Becanda deh ya. Yang seriuuss”
“Ih kan, kepo lagi. Gimana kalau saya seriusin kita aja?”
“Tuh kan becanda lagi. Udah ah, saya mau tidur aja ya”
“Yaah.. Si Eneng ngambek. Sensi amat sih? Serius nih sekarang ya..”
“Hmm”
“Jadi.. Pacar saya itu udah tidur duluan. Katanya sih capek, sibuk sana-sini sama mamanya. Apa lagi baru sampai sini kan tadi siang. Kamu kan juga tau lah, cewek kalau udah capek gimana. Bawaannya betmut. Ya udah saya suruh tidur duluan aja dari pada debat urat terus..”
Refleks kor “O” yang panjang keluar sebagai respon dariku. Setelahnya, aku dan dia bercerita ngalor ngidul sampai subuh menjelang. Sampai mataku sayu, tinggal lima watt. Sampai ku dengar dia menguap entah berapa kali di ujung telepon. Sampai aku mengajaknya mengakhiri percakapan ajaib itu, namun ditolak. Jawaban di luar ekspektasiku. Sontak mataku berbinar, kantukku hilang. “KENAPAAA?!?”, tanyaku sambil terbahak. Ia ikut-ikutan tertawa. Katanya, dia masih ingin mendengar suaraku. Aku bilang dia gombal. Katanya, dia masih ingin membuang jauh kesal yang sempat diukir kekasihnya tadi. Aku bilang itu akal-akalannya saja. Katanya, aku adalah kekasih gelapnya. Seketika aku bungkam. Mataku memejam, debar jantungku terasa lebih laju, napasku memburu. Aku membuang napas berat.
“Eh.. Kenapa? Saya salah bilang, ya?”
“Nggg.. Engga kok”
“Terus kamu kok keliatannya risih gitu?”
“Hmm.. Coba deh bayangin. Saya ini jahat ya.. Nyelip di antara kamu dan pacar kamu”
“Jahatnya yang bagian mana? Nyelipnya?”
“He eh..”
“Engga selamanya yang nyelip-nyelip itu jahat kok”
“Maksudnya?”
“Sekarang giliran kamu, coba deh bayangin kalo kita ngga punya ketek. Mungkin bintang iklan deodoran ngga bakal ada yang bayar. Mungkin proses ekskresi dari tubuh kamu ada yang terganggu. Saya pernah dengar kalau keringat paling banyak dikeluarkan manusia itu adalah di keteknya. Engga tau juga sih benar atau engga. Ketek ngga jahat kan? Malah membantu. Ketek kan nyelip”
“Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.. Masa perumpamaannya ketek sih?
Disamain sama saya lagi”
“Loh siapa yang samain? Kamu aja kali yang ngerasa”
“IIHHHHHHHHHH!!!!! Becanda melulu nih”
“Hmm.. Kalau maunya ngga becanda, gimana kalau sekarang kamu nyanyi? Hapal lagunya Kerispatih yang judulnya Lagu Rindu, kan?”
Aku terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Dia juga diam. Di tempatku hanya terdengar nyanyian atau lebih tepatnya kerusuhan yang dicipta katak di got sepanjang tembok belakang rumahku. Untuk beberapa saat, suara-suara katak itulah yang mengiringi keberanianku dalam memulai nyanyian yang dipintanya tadi. Namun keraguan lebih melekat erat. Aku mendengar suara setengah paraunya di ujung telepon. Lalu ia berdehem sekali dan mengulangi panggilan untuk yang kedua kali.
“Refrennya aja deh kalau gitu”, tawaran terakhirnya. Aku mengambil napas dan bernyanyi untuknya. Ada tepuk tangan yang bertubi setelah bait terakhirku menggantung parau di udara. Dia memuji suaraku yang sebenarnya aku tau, amat tidak layak diperdengarkan. Namun, aku tak menyangkalnya. Tetap aku haturkan terima kasih atas pujian itu.
Beberapa detik kemudian dia membuatkan aku sebuah kejutan. Katanya, aku harus diam. Dia akan menyampaikan sesuatu lewat lagu. Aku mengikuti perintahnya. Hening sesaat. Terdengar hembus napas
“Ku mencintaimu.. Lebih dari apapun.. Meskipun tiada satu orangpun yang tau..”
Aku tau, dia tidak sedang mengungkap esensi bait itu untukku. Aku yakin dia hanya mencintai satu perempuan dan tak akan ada kesempatan untuk perempuan lain mengisi ruang kalbunya yang sudah sesak oleh cintanya pada kekasihnya.
“Ku mencintaimu.. Sedalam-dalam hatiku.. Meskipun engkau hanya kekasih gelapku..”
Atau aku saja yang buta? Rasa nyaman yang mampu diciptanya selama ini adalah bentuk cintanya padaku? Meski aku sadar bahwa mungkin aku adalah kekasih gelapnya, namun aku masih belum bisa membayangkan jika dia benar cinta padaku.
Mataku memejam. mengolah indah sesakan kalimat yang merasuk ke gendang telinga dan hatiku. Napasku kembali satu-satu.
“Ku tau ku takkan selalu ada untukmu.. Di saat engkau merindukan diriku..
Ku tau ku takkan bisa memberikanmu waktu yang panjang dalam hidupku..”
Lantas?
“Yakinlah bahwa engkau adalah cintaku.. Yang ku cari selama ini dalam hidupku..
Dan hanya padamu ku berikan sisa cintaku yang panjang dalam hidupku..”
Aku benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang sungguh-sungguh dirasakannya dengan kehadiranku. Apa yang dimaknainya dalam tiap respon yang aku berikan. Apa yang menjadi alasannya juga untuk selalu menyempatkan diri menghubungi aku. Apa sebenarnya sebab rasa nyaman yang tercipta dan hidupku yang kian merona sejak kedatangannya.
Atau, mungkin saja harapan yang jelas-jelas palsu yang ku rasakan lewat kumpulan diksi bernada tadi telah membuatku jatuh.
Larut malam menanggalkan statusnya. Subuh telah tiba. Kali ini baru terasa, aku sungguh jatuh cinta pada peranku. Aku bisa merasakan hawa bahagianya..
*)Kekasih Gelapku - Ungu
Ditulis oleh @_afroh dalam http://afrooh.blogspot.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment