Monday, September 3, 2012

Twenty Something


“After years of expensive education
A car full of books and anticipation
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
But the world don’t need scholars as much as I thought”


Akhir tahun 2005, saya lulus kuliah SI dari Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan FIKOM – UNPAD. Setelah 4,5 menempuh pendidikan dan tinggal di Jatinangor, akhirnya saya harus kembali ke Jakarta. Beradaptasi lagi dengan kota kelahiran saya. Banyak sekali yang berubah, entah kota saya, entah lingkungan saya yang berubah. Yang jelas, saya cukup ekstra mensinkronkan antara cara saya melihat dengan cara orangorang di rumah saya melihat.

Di masa-masa menganggur itu entah mengapa saya senang sekali mendengar lagu Twenty Something milik Jamie Cullum. Lagu bergenre pop-jazz ini, selain musiknya asik, liriknya juga pas sekali buat saya yang, saat itu, masih berumur 22 tahun dan hendak memulai dunia baru. Lulus kuliah dan harus mencari kerja.

Lagu Twenty Something sendiri memang menceritakan tentang kehidupan di usia dua puluhan. Usia di mana kita dibenturkan dengan idealisme dan realitas. Usia di mana berbagai macam keinginan dan cita-cita bermunculan, namun terkadang energi dan keadaan malah mengubah diri kita.

Saya ingat betul, usai lulus saya ingin berkarir di dunia perpustakaan sekolah. Lamaranlamaran yang saya kirimkan saat itu pun hanya untuk menjadi pustakawan sekolah. Terwujud memang akhirnya, namun setelah tiga tahun menjalani, saya menemui berbagai hal yang akhirnya malah membuat saya ingin mendalami bidang lain yaitu community development. Di perjalanannya, saya juga disibukkan berbagai hal menarik yang malah membuat saya tidak paham dengan passion saya sendiri.

Menjelang usia 25, saya mencoba untuk keluar dari rumah.  Meski saya kost di daerah yang tidak terlalu jauh dari rumah, namun saya ingin memiliki hidup yang mandiri dan tidak terikat dengan keluarga. Namun akhirnya saya harus kembali lagi ke rumah setelah Bapak saya meninggal di tahun 2009. Saya harus melepas ego untuk menemani ibu saya.

Di usia 20-an juga saya baru mulai berani menjalin hubungan percintaan. Mencari cinta, mengejarnya, dan bernegosiasi dengannya. Berbagai jatuh cinta saya temui. Berbagai patah hati saya lalui. Puncaknya di ujung usia saya, 29, tahun lalu. Saya mengalami patah hati yang terberat sepanjang hidup saya. Drama paling mengharukan sepanjang hidup. Syukurnya sekarang semua sudah kembali baik. Mungkin benar percakapan saya dengan seorang teman suatu sore, “sekali seumur hidup, kita harus merasakan patah hati yang membuat kita seambrukambruknya untuk benarbenar bisa memahami apa itu cinta”. Dan usia 20-an adalah usia yang tepat untuk menfasilitasinya. Di usia 20-an, kita mulai banyak mengenal orang baru, mulai bisa berani memilih orangorang yang tepat buat kita, dan mulai memikirkan bahwa hubungan sedang sedang kita jalani, bukan sekedar luculucuan seperti pacaran anak belasan.

Sabtu sore lalu, usai ujian akhir semester, saya melepas kepenatan bersama teman saya Sumi di Danau UI Depok. Setelah stress dengan tugastugas dan soal ujian, rasanya ingin sejenak memanjakan diri dengan duduk santai dan obrolan lepas di tempat yang agak hening. Sepanjang sore itu, banyak percakapan antara saya dan Sumi yang membuat saya memflashback kehidupan saya di usia 20-an lalu.

Di usia 20-an saya mulai terbuka kepada orangorang bahwa saya gay, mulai berani bersosialisasi dengan kawankawan gay saya. Di usia 20-an saya bergantiganti pekerjaan, mencoba hal baru, untuk mencari bidang yang tepat untuk diri saya. Di usia 20-an saya mencaricari hubungan yang pas untuk hidup saya. Di usia 20-an saya berbagai pikiranpikiran tentang masa depan mulai terlintas. Jadi apa saya kelak? Untuk apa saya hidup? Apa sebenarnya yang saya ingin jalani saat ini dan nanti?

Hingga usia 30 sekarang, saya belum menemukan pilihan yang tepat untuk diri saya sendiri. Namun, entah ini jawaban atau bukan, yang jelas Jamie Cullum telah menuliskannya di lirik lagu Twenty Something:


“Love ain’t the answer, nor is work
The truth eludes me so much it hurts
But I’m still having fun and I guess that’s the key
I’m a twenty something and I’ll keep being me”


*) mengenang lagu Twenty Something – Jamie Cullum

Ditulis @omemdisini dalam http://omemdisini.com

No comments:

Post a Comment